Mengingat Kembali Luka Mei 1998, Salindia Teater Hadirkan Clara Karya Seno Gumira Ajidarma di Gedung Kesenian Jakarta
Ket. Cuplikan adegan Ketika Nalar Bertanya garapan Salindia Teater.
Doc: Alfina Febriyana/KUCANTIK.COM
JAKARTA, KUCANTIK.COM – Luka sejarah tidak selalu hilang bersama berlalunya waktu. Ada trauma yang justru terus hidup dalam ingatan, karya sastra, hingga panggung pertunjukan. Salah satunya tergambar dalam cerpen Clara Atawa Wanita yang Diperkosa karya Seno Gumira Ajidarma yang kembali mendapat ruang untuk dibicarakan melalui pertunjukan Salindia Teater.
Cerpen yang ditulis pada 1998 tersebut mengangkat sisi kelam kerusuhan Mei 1998, khususnya kekerasan seksual yang dialami perempuan keturunan Tionghoa. Kini, kisah tersebut diadaptasi ke panggung melalui pertunjukan bertajuk “KETIKA NALAR BERTANYA.”
Pertunjukan ini digelar Salindia Teater pada 22–23 Agustus 2026 di Gedung Kesenian Jakarta, dengan dukungan Jakarta Directors Lab.
Adaptasi cerpen Clara tersebut ditulis Deandra Syarizka dan Muhamad Habib Koesnady, sementara penyutradaraan ditangani Nadine Nadilla.
Clara dan Luka yang Tak Selesai
Clara bukan sekadar cerita tentang seorang perempuan yang menjadi korban kekerasan. Cerpen tersebut menghadirkan gambaran tentang bagaimana korban dapat kembali dihadapkan pada prasangka, diskriminasi, bahkan cara pandang yang menyudutkan mereka.
Cerita disampaikan melalui sudut pandang orang pertama, yakni seorang lelaki berseragam yang digambarkan sebagai aparat hukum. Dari perspektif tokoh tersebut, pembaca justru diperlihatkan bagaimana kekuasaan dan prasangka dapat membentuk cara seseorang memandang sebuah tragedi.
Pertemuan sang narator dengan Clara menjadi pusat cerita. Clara digambarkan sebagai perempuan yang mengalami kekerasan seksual di tengah situasi kerusuhan. Namun, penderitaan yang dialaminya tidak serta-merta membuat lingkungan di sekitarnya menunjukkan empati.
Sebaliknya, narasi menghadirkan sinisme dan prasangka diskriminatif yang membuat kisah tersebut terasa semakin getir.
Di sinilah kekuatan Clara berada. Seno tidak hanya menggambarkan kekerasan yang terjadi kepada korban, tetapi juga memperlihatkan persoalan yang lebih luas, bagaimana masyarakat dapat memandang korban dengan kecurigaan dan bagaimana kekuasaan dapat memengaruhi cara sebuah tragedi diceritakan.
Rekomendasi juga buat kamu:
Ketika Sastra Menjadi Saksi Sejarah
Ditulis di tengah gejolak reformasi dan kerusuhan rasial 1998, Clara kerap dibaca sebagai karya yang merekam realitas sosial yang tidak selalu mendapatkan tempat dalam catatan sejarah resmi.
Melalui pendekatan yang dekat dengan jurnalisme sastra, Seno menghadirkan pengalaman manusia di balik sebuah peristiwa besar.
Sejarah tidak hanya berbicara tentang tanggal, kerusuhan, perubahan politik, atau jatuhnya sebuah rezim, tetapi juga tentang individu yang mengalami trauma secara langsung.
Karena itu, membawa Clara ke panggung teater pada 2026 menjadi sesuatu yang relevan. Hampir tiga dekade setelah karya tersebut ditulis, pertanyaan mengenai ingatan, kekerasan, prasangka, dan tanggung jawab sosial masih memiliki ruang untuk diperdebatkan.
Pertunjukan “KETIKA NALAR BERTANYA.” pun berpotensi menghadirkan pengalaman berbeda bagi penonton. Jika dalam cerpen pembaca berhadapan dengan kata-kata dan sudut pandang narator, panggung teater memungkinkan konflik tersebut divisualisasikan melalui tubuh, suara, dialog, ekspresi, serta atmosfer pertunjukan.
Bukan Sekadar Pertunjukan, tetapi Ajakan Mengingat
Adaptasi Clara juga membawa pesan membicarakan kembali sejarah bukan berarti terus hidup di masa lalu. Justru, ingatan dapat menjadi cara untuk memahami kesalahan dan mencegah tragedi serupa kembali terjadi.
Kisah Clara memperlihatkan kekerasan terhadap perempuan tidak dapat dilepaskan dari persoalan kekuasaan, diskriminasi, dan cara masyarakat memperlakukan korban.
Lewat “KETIKA NALAR BERTANYA.”, penonton diajak kembali berhadapan dengan pertanyaan yang mungkin terasa tidak nyaman, ketika sebuah tragedi terjadi, di mana posisi kita sebagai manusia?
Apakah kita memilih melihat, mempertanyakan, atau justru ikut membenarkan prasangka yang menyakiti korban?
Dengan latar sejarah yang berat dan materi sastra yang penuh kritik sosial, pementasan di Gedung Kesenian Jakarta ini tidak hanya menawarkan tontonan.
Pertunjukan ini menjadi ruang untuk menghidupkan kembali ingatan, mempertanyakan narasi yang selama ini diterima, sekaligus melihat luka Mei 1998 dari sisi kemanusiaan yang lebih personal.
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk Mengingat Kembali Luka Mei 1998, Salindia Teater Hadirkan Clara Karya Seno Gumira Ajidarma di Gedung Kesenian Jakarta .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!