Setelah 30 Tahun, Identitas 'Green Boots' di Everest Mulai Terungkap

Doc: Wikipedia

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Selama hampir tiga dekade, sebuah jasad yang terbaring di ketinggian ekstrem Gunung Everest menjadi salah satu kisah paling misterius dalam dunia pendakian.

Jasad tersebut dikenal dengan julukan Green Boots, diambil dari sepatu bot berwarna hijau mencolok yang masih melekat di kakinya.

Kini, setelah sekitar 30 tahun berlalu, pemerintah India meyakini jasad tersebut adalah Dorje Morup, anggota Indo-Tibetan Border Police (ITBP) yang meninggal dalam tragedi pendakian Everest pada 1996, seperti dilansir dari laman The Guardian.

Sebelumnya, jasad Green Boots selama bertahun-tahun lebih sering diyakini sebagai Tsewang Paljor, rekan satu tim Morup. 

Morup merupakan bagian dari ekspedisi enam anggota ITBP yang mencoba mencapai puncak Everest melalui sisi utara, wilayah Tibet. Pada 10 Mei 1996, cuaca memburuk dan badai salju menerjang kawasan puncak.

Tiga anggota memilih kembali, sementara Morup, Paljor, dan Tsewang Smanla tetap melanjutkan perjalanan. Ketiganya kemudian tewas dalam kondisi cuaca ekstrem tersebut.

Jasad Green Boots kemudian menjadi penanda mengerikan bagi para pendaki yang melewati jalur timur laut Everest.

Tubuhnya berada di zona kematian, kawasan dengan ketinggian di atas 8.000 meter yang memiliki kadar oksigen sangat rendah dan kondisi yang amat berbahaya.

Mengangkat jasad dari wilayah tersebut bukan pekerjaan sederhana, bahkan bagi pendaki berpengalaman.

Bagi keluarga Morup, kabar mengenai identitas Green Boots membawa kembali luka yang telah lama tersimpan. Istrinya, Konchok Yangsket, selama bertahun-tahun masih kesulitan menerima kenyataan bahwa suaminya telah meninggal.

Ia bahkan tidak pernah melihat jasad Morup secara langsung sehingga harapan kecil bahwa suaminya suatu hari akan kembali tidak sepenuhnya hilang.

Kini India berupaya membawa pulang jasad tersebut. ITBP telah memulai proses mencari tim khusus yang memiliki pengalaman dalam operasi pemulihan di ketinggian ekstrem.

Misi itu diperkirakan membutuhkan sedikitnya enam Sherpa berpengalaman dan harus dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi cuaca, medan berbahaya, serta izin dari otoritas China karena jasad berada di sisi Tibet.

Jika berhasil, operasi ini bukan sekadar upaya mengevakuasi jasad dari salah satu tempat paling berbahaya di dunia.

Bagi keluarga Dorje Morup, kepulangannya setelah 30 tahun dapat menjadi penutup dari penantian panjang, mengubah sosok yang selama ini hanya dikenal sebagai “Green Boots” kembali menjadi seorang suami, ayah, dan anggota keluarga yang pernah ditunggu kepulangannya.*

Kirim
Tulisan Terkait
PILIHAN