Ketika Nalar Bertanya dan Luka Mei 1998: Mampukah Ingatan Pahit Dihapus Layaknya Catatan Sejarah?
JAKARTA, KUCANTIK.COM – Andai saja menghapus ingatan pahit segampang menghapus catatan sejarah.
Kalimat tersebut terasa begitu kuat ketika kembali membicarakan “Clara Atawa Wanita yang Diperkosa”, cerpen karya Seno Gumira Ajidarma yang ditulis pada 1998.
Hampir tiga dekade berlalu, tetapi kisah tentang luka, kekerasan, prasangka, dan trauma yang dibawa karya tersebut masih terasa relevan untuk kembali dipertanyakan.
Kini, “Clara” kembali mendapat ruang untuk dibicarakan melalui panggung teater. Salindia Teater menghadirkan pertunjukan bertajuk “KETIKA NALAR BERTANYA.” yang digelar pada 22–23 Agustus 2026 di Gedung Kesenian Jakarta.
Pertunjukan tersebut didukung Jakarta Directors Lab. Adaptasi cerpen “Clara” ditulis Deandra Syarizka dan Muhamad Habib Koesnady, sementara penyutradaraannya ditangani Nadine Nadilla.
Ketika Nalar Bertanya, Mampukah Ingatan Pahit Dihapus?
“Clara atawa Wanita yang Diperkosa” lahir di tengah gejolak reformasi dan kerusuhan rasial Mei 1998. Cerita tersebut menyoroti kekerasan seksual terhadap perempuan keturunan Tionghoa melalui sudut pandang seorang lelaki berseragam yang digambarkan sebagai aparat.
Yang membuat cerpen ini terasa getir bukan hanya tragedi yang dialami Clara, tetapi juga cara sang narator memandang korban.
Alih-alih menghadirkan empati, sudut pandang tersebut justru memperlihatkan prasangka, sinisme, dan diskriminasi yang mengiringi pengalaman korban. Pembaca kemudian diajak melihat bagaimana kekuasaan dan prasangka dapat memengaruhi cara sebuah tragedi dipahami.
Clara bukan sekadar cerita tentang seorang perempuan yang mengalami kekerasan. Di dalamnya terdapat kritik terhadap mentalitas kekuasaan, diskriminasi rasial, serta cara masyarakat memperlakukan seseorang yang berada dalam posisi sebagai korban.
Rekomendasi juga buat kamu:
Melalui karya tersebut, Seno seolah mengingatkan sebuah tragedi tidak berhenti ketika kerusuhan berakhir. Ada pengalaman manusia yang tertinggal dan mungkin terus hidup dalam ingatan mereka yang mengalaminya.
Sastra yang Menjadi Saksi Luka Sejarah
“Clara” juga dikenal sebagai salah satu karya yang merekam realitas sosial kelam di sekitar peristiwa 1998. Seno menggunakan pendekatan sastra untuk menghadirkan sisi manusiawi dari sebuah tragedi yang jauh lebih besar.
Sejarah sering kali dikenang melalui tanggal, angka, peristiwa politik, kerusuhan, dan perubahan kekuasaan. Namun, di balik semua itu terdapat manusia yang mengalami ketakutan, kehilangan, kekerasan, dan trauma.
Di sinilah “Clara” memiliki kekuatan. Cerita tersebut tidak sekadar mengajak pembaca mengingat sebuah periode sejarah, tetapi juga mempertanyakan bagaimana pengalaman korban ditempatkan dalam ingatan kolektif.
Hampir 30 tahun setelah ditulis, pertanyaan itu kembali dibawa ke panggung melalui “KETIKA NALAR BERTANYA.”
Jika dalam cerpen pembaca berhadapan dengan narasi dan sudut pandang tokoh, pertunjukan teater memberikan medium yang berbeda. Tubuh aktor, suara, dialog, ekspresi, tata panggung, hingga atmosfer pertunjukan dapat membuat konflik yang ada di dalam cerita hadir secara lebih langsung di hadapan penonton.
Luka yang Tidak Bisa Dihapus Seperti Catatan
Ada satu pertanyaan besar yang kemudian muncul, jika catatan sejarah bisa dihapus, diubah, atau dilupakan, apakah ingatan manusia juga bisa diperlakukan dengan cara yang sama?
Barangkali tidak.
Sebab, menghapus peristiwa dari ingatan tidak serta-merta menghapus luka yang ditinggalkannya. Trauma memiliki cara sendiri untuk bertahan, bahkan ketika waktu terus berjalan.
Karena itu, membawa “Clara” kembali ke panggung pada 2026 bukan sekadar menghadirkan kembali karya lama. Pertunjukan ini dapat menjadi ruang untuk mengajak penonton melihat kembali periode sejarah dari sisi kemanusiaan.
“KETIKA NALAR BERTANYA.” seolah mengajak penonton berhenti sejenak dan mempertanyakan kembali apa yang selama ini dianggap selesai.
Ketika sebuah tragedi terjadi, di mana posisi kita sebagai manusia? Apakah kita memilih untuk melihat dan memahami? Apakah kita berani mempertanyakan narasi yang sudah terbentuk? Atau justru ikut membenarkan prasangka yang membuat korban semakin terluka?
Pada akhirnya, Salindia Teater melalui adaptasi “Clara” menghadirkan lebih dari sekadar pertunjukan.
Panggung tersebut menjadi ruang untuk menghidupkan kembali ingatan, membuka percakapan tentang luka sejarah, dan mengingatkan bahwa sesuatu yang pernah terjadi tidak otomatis menjadi tidak penting hanya karena waktu telah berlalu.
Sebab, andai saja menghapus ingatan pahit segampang menghapus catatan sejarah, mungkin tidak akan ada luka yang perlu terus diceritakan.
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk Ketika Nalar Bertanya dan Luka Mei 1998: Mampukah Ingatan Pahit Dihapus Layaknya Catatan Sejarah? .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!