4 Pemimpin Negara yang Pernah Jadi Target Penyadapan Intelijen Asing, Ada SBY
JAKARTA, KUCANTIK.COM - Penyadapan terhadap pejabat negara bukan fenomena baru dalam dunia intelijen internasional. Sejumlah pemimpin dunia, mulai dari Presiden Prancis hingga Kanselir Jerman, pernah menjadi sasaran pemantauan komunikasi oleh badan intelijen asing.
Kasus serupa juga pernah terjadi di Indonesia. Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), diketahui pernah menjadi target pemantauan intelijen Australia pada 2009.
Sementara itu, dugaan penyadapan ilegal terhadap sejumlah nomor telepon pejabat negara kembali menjadi sorotan setelah diungkap Bareskrim Polri pada November 2026.
Di luar Indonesia, terdapat sejumlah kasus penyadapan dan peretasan yang melibatkan pemimpin negara. Kasus-kasus tersebut terungkap melalui dokumen rahasia intelijen hingga hasil investigasi media internasional.
Berikut deretan pemimpin negara yang pernah menjadi target penyadapan maupun pemantauan intelijen asing.
Rekomendasi juga buat kamu:
1. Tiga Presiden Prancis Jadi Target Penyadapan NSA
Tiga Presiden Prancis, yakni Jacques Chirac, Nicolas Sarkozy, dan François Hollande, pernah tercatat dalam dokumen target pemantauan Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (National Security Agency/NSA).
Mengutip laporan media investigasi Prancis, Mediapart, pada 23 Juni 2015, Mediapart bersama WikiLeaks memublikasikan sejumlah dokumen rahasia NSA yang mengungkap aktivitas pemantauan komunikasi para pemimpin Prancis selama periode 2006-2012.
Dalam dokumen tersebut, terdapat tiga nama Presiden Prancis yang disebut menjadi target penyadapan, yaitu:
- Jacques Chirac, Presiden Prancis periode 1995–2007.
- Nicolas Sarkozy, Presiden Prancis periode 2007–2012.
- François Hollande, Presiden Prancis periode 2012–2017.
Selain ketiga presiden tersebut, dokumen NSA yang dipublikasikan juga mengungkap adanya pemantauan terhadap sejumlah pejabat tinggi Prancis lainnya, termasuk diplomat dan pejabat pemerintahan.
2. SBY Pernah Jadi Target Intelijen Australia
Kasus penyadapan terhadap kepala negara juga pernah dialami Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Terungkapnya kasus tersebut sempat memicu ketegangan dalam hubungan diplomatik antara Indonesia dan Australia.
Kasus ini mencuat pada November 2013 setelah ABC Australia dan The Guardian memublikasikan dokumen rahasia yang dibocorkan Edward Snowden, mantan kontraktor Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA).
Dalam dokumen tersebut terungkap bahwa intelijen Australia diduga melakukan pemantauan terhadap aktivitas komunikasi SBY pada 2009.
Penyadapan tersebut tidak hanya menyasar aktivitas pemerintahan. Komunikasi melalui telepon seluler milik SBY juga menjadi target pemantauan intelijen Australia melalui Defence Signals Directorate (DSD).
3. Ponsel Angela Merkel Diduga Dipantau NSA
Kanselir Jerman Angela Merkel juga pernah menjadi sasaran dugaan penyadapan oleh badan intelijen Amerika Serikat.
Pada Oktober 2013, muncul laporan yang menyebutkan bahwa NSA melakukan pemantauan terhadap ponsel Merkel. Pemerintah Jerman kemudian menyatakan telah menerima informasi mengenai kemungkinan penyadapan terhadap telepon seluler kanselir oleh badan intelijen Amerika Serikat.
Menanggapi informasi tersebut, Merkel dilaporkan langsung menghubungi Presiden Amerika Serikat saat itu, Barack Obama. Dalam pembicaraan tersebut, Merkel menyampaikan keberatannya apabila dugaan pemantauan terhadap komunikasinya terbukti benar.
Pemerintah Jerman bahkan mengeluarkan pernyataan resmi pada 24 Oktober 2013 untuk meminta klarifikasi kepada pemerintah Amerika Serikat terkait dugaan penyadapan tersebut.
Kasus ini menjadi perhatian internasional karena Jerman dan Amerika Serikat merupakan dua negara sekutu dekat. Dugaan pemantauan komunikasi terhadap pemimpin negara sekutu pun memunculkan pertanyaan mengenai batas-batas operasi intelijen antarnegara.
4. Emir Qatar Jadi Target Peretasan Project Raven
Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, Emir Qatar, juga pernah dilaporkan menjadi salah satu target operasi siber yang dijalankan Uni Emirat Arab (UAE).
Pada 30 Januari 2019, Reuters mengungkap keberadaan operasi intelijen bernama Project Raven. Operasi tersebut melibatkan sejumlah mantan personel intelijen Amerika Serikat yang bekerja untuk pemerintah UAE.
Dalam menjalankan operasinya, para operator menggunakan perangkat peretasan bernama Karma untuk memperoleh akses ke iPhone milik sejumlah tokoh yang menjadi target pemantauan.
Perangkat tersebut memungkinkan operator mengakses iPhone target hanya dengan menggunakan nomor telepon atau alamat email. Dengan demikian, korban tidak harus mengeklik tautan tertentu untuk memungkinkan akses ke perangkatnya.
Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, termasuk salah satu tokoh yang dilaporkan menjadi target dalam operasi siber tersebut.
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk 4 Pemimpin Negara yang Pernah Jadi Target Penyadapan Intelijen Asing, Ada SBY .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!