Tak Harus Bayi Tabung, Ini 5 Program Hamil yang Bisa Dicoba Pejuang Garis Dua agar Cepat Punya Momongan

Ket. Tak Harus Bayi Tabung, Ini 5 Program Hamil yang Bisa Dicoba Pejuang Garis Dua agar Cepat Punya Momongan

Doc: Freepik

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Memiliki momongan menjadi impian banyak pasangan suami istri. Namun, perjalanan mendapatkan buah hati tidak selalu berjalan mudah. Sebagian pasangan harus melewati penantian panjang hingga mencoba berbagai program kehamilan demi mendapatkan garis dua.

Salah satu metode yang cukup dikenal masyarakat adalah bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF). Metode ini memungkinkan proses pembuahan sel telur dan sperma dilakukan di laboratorium sebelum embrio dipindahkan ke dalam rahim.

Meski demikian, program bayi tabung bukan satu-satunya pilihan bagi pasangan yang sedang menjalani program hamil (promil). Ada sejumlah metode lain yang dapat dicoba sesuai dengan kondisi kesehatan dan penyebab kesulitan memperoleh keturunan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menjelaskan bahwa penanganan infertilitas dapat dilakukan secara bertahap, mulai dari pendekatan sederhana hingga teknologi reproduksi berbantu seperti inseminasi dan bayi tabung.

Lantas, apa saja program kehamilan yang bisa dicoba para pejuang garis dua selain IVF?

1. Program Hamil Alami dengan Mengatur Masa Subur

Salah satu cara yang dapat dicoba adalah program hamil alami dengan memperhatikan masa subur atau waktu terjadinya ovulasi.

Pada masa tersebut, ovarium melepaskan sel telur yang siap dibuahi oleh sperma. Pasangan dapat mengatur waktu berhubungan intim pada periode subur untuk meningkatkan peluang terjadinya kehamilan.

Masa subur bisa diperkirakan melalui pencatatan siklus menstruasi, pengamatan perubahan lendir serviks, maupun penggunaan alat tes ovulasi atau ovulation predictor kit (OPK).

Metode ini umumnya dapat menjadi pilihan bagi pasangan yang tidak memiliki gangguan kesuburan tertentu dan masih memungkinkan terjadinya pembuahan secara alami.

2. Induksi Ovulasi atau Stimulasi Sel Telur

Program berikutnya adalah induksi ovulasi, yaitu metode medis untuk membantu merangsang ovarium agar menghasilkan dan melepaskan sel telur.

Metode ini biasanya ditujukan bagi perempuan yang mengalami gangguan ovulasi atau tidak mengalami pelepasan sel telur secara teratur.

Dokter dapat memberikan obat-obatan tertentu untuk merangsang proses ovulasi. Beberapa jenis obat yang digunakan dalam penanganan gangguan ovulasi antara lain clomiphene dan gonadotropin.

Selama menjalani program ini, pasien biasanya perlu menjalani pemantauan melalui pemeriksaan USG dan evaluasi hormon untuk mengetahui perkembangan folikel serta menentukan waktu ovulasi.

Program induksi ovulasi perlu dilakukan berdasarkan rekomendasi dokter karena stimulasi yang tidak terpantau dapat meningkatkan risiko kehamilan kembar maupun komplikasi lainnya.

3. Inseminasi Buatan atau IUI

Selain stimulasi sel telur, pasangan juga bisa mempertimbangkan program inseminasi buatan atau intrauterine insemination (IUI).

Berbeda dengan bayi tabung, proses pembuahan pada metode IUI tetap berlangsung secara alami di dalam tubuh perempuan.

Dalam prosedurnya, sperma yang telah melalui proses pencucian dan seleksi akan dimasukkan langsung ke dalam rahim menggunakan kateter khusus. Prosedur ini dilakukan mendekati waktu ovulasi agar sperma memiliki kesempatan bertemu dengan sel telur.

Sebelum menjalani inseminasi, dokter biasanya akan mengevaluasi kondisi sperma, ovulasi, serta saluran tuba falopi.

IUI dapat menjadi pilihan pada kondisi tertentu, misalnya sebagian kasus gangguan sperma ringan, gangguan ejakulasi, atau infertilitas yang belum diketahui penyebabnya.

Namun, metode ini tidak selalu cocok untuk semua pasangan, terutama jika terdapat gangguan berat pada saluran tuba falopi atau faktor kesuburan lainnya.

4. Operasi untuk Mengatasi Gangguan Organ Reproduksi

Program kehamilan tidak selalu harus melibatkan obat-obatan maupun teknologi reproduksi berbantu. Dalam kondisi tertentu, tindakan operasi juga dapat menjadi salah satu pilihan.

Prosedur ini biasanya dipertimbangkan apabila ditemukan gangguan anatomi atau kelainan pada organ reproduksi yang berpotensi menghambat kehamilan.

Beberapa kondisi yang mungkin memerlukan penanganan bedah antara lain polip rahim, miom yang mengganggu rongga rahim, endometriosis tertentu, hingga gangguan pada saluran tuba falopi.

Jenis tindakan yang dilakukan akan disesuaikan dengan hasil pemeriksaan dan kondisi masing-masing pasien.

Meski demikian, operasi bukan solusi untuk semua masalah kesuburan. Dokter perlu mempertimbangkan manfaat, risiko, serta kemungkinan keberhasilan kehamilan setelah tindakan dilakukan.

5. Bayi Tabung atau IVF

Bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF) merupakan salah satu metode teknologi reproduksi berbantu yang dapat dipertimbangkan ketika metode lain tidak sesuai atau belum berhasil.

Dalam prosedur ini, sel telur akan diambil dari ovarium setelah melalui stimulasi hormon. Sel telur tersebut kemudian dipertemukan dengan sperma di laboratorium untuk menghasilkan embrio.

Embrio yang berkembang selanjutnya akan dipindahkan ke dalam rahim melalui prosedur transfer embrio.

Program IVF dapat direkomendasikan untuk berbagai kondisi, seperti kerusakan atau penyumbatan saluran tuba falopi, gangguan sperma tertentu, endometriosis, hingga infertilitas yang tidak diketahui penyebabnya.

Meski menawarkan pilihan bagi pasangan dengan berbagai masalah kesuburan, bayi tabung juga memiliki tahapan panjang, biaya yang relatif besar, serta tingkat keberhasilan yang dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk usia dan kondisi kesehatan pasangan.

Jangan Lupakan Pemeriksaan Kesuburan Suami dan Istri

Sebelum menentukan program kehamilan, pasangan suami istri sebaiknya menjalani pemeriksaan kesuburan terlebih dahulu.

Pemeriksaan tidak hanya ditujukan kepada perempuan, tetapi juga laki-laki. Sebab, faktor infertilitas dapat berasal dari salah satu maupun kedua pasangan.

Pada perempuan, pemeriksaan dapat mencakup evaluasi ovulasi, kondisi rahim, saluran tuba falopi, serta cadangan ovarium sesuai indikasi medis.

Sementara itu, pemeriksaan pada laki-laki umumnya meliputi analisis sperma untuk mengetahui jumlah, bentuk, dan pergerakan sperma.

American Society for Reproductive Medicine (ASRM) merekomendasikan evaluasi infertilitas setelah 12 bulan berhubungan intim secara teratur tanpa kontrasepsi apabila perempuan berusia di bawah 35 tahun.

Untuk perempuan berusia 35 tahun ke atas, pemeriksaan dianjurkan setelah enam bulan belum memperoleh kehamilan. Sementara itu, perempuan berusia di atas 40 tahun dapat memerlukan evaluasi lebih segera.

Pemeriksaan juga sebaiknya tidak ditunda apabila terdapat kondisi tertentu, seperti menstruasi tidak teratur, riwayat endometriosis, dugaan gangguan sperma, atau masalah reproduksi lainnya.

Selain menjalani pemeriksaan dan pengobatan sesuai kebutuhan, WHO juga menganjurkan penerapan pola hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan bergizi, melakukan aktivitas fisik, serta menghindari rokok bagi pasangan yang sedang merencanakan kehamilan.

Pada akhirnya, setiap pasangan memiliki perjalanan dan kondisi kesuburan yang berbeda. Tidak semua pejuang garis dua harus langsung menjalani bayi tabung karena masih ada berbagai pilihan program kehamilan yang dapat disesuaikan dengan penyebab infertilitas.

Karena itu, konsultasi dengan dokter spesialis obstetri dan ginekologi konsultan fertilitas menjadi langkah penting untuk menentukan metode yang paling tepat.

Kirim
Tulisan Terkait
PILIHAN