Imunisasi yang Harus Diberikan pada Bayi Baru Lahir, Ini Jadwal dan Manfaatnya

Ket. Imunisasi yang Harus Diberikan pada Bayi Baru Lahir, Ini Jadwal dan Manfaatnya

Doc: Freepik

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Imunisasi menjadi salah satu langkah penting untuk melindungi bayi dari berbagai penyakit menular sejak awal kehidupan.

Karena sistem kekebalan tubuh bayi masih berkembang, pemberian vaksin sesuai jadwal diperlukan untuk membantu membentuk perlindungan terhadap penyakit berbahaya.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menetapkan jadwal imunisasi rutin bagi bayi sejak lahir hingga usia 18 bulan.

Salah satu imunisasi yang harus menjadi prioritas setelah bayi dilahirkan adalah vaksin hepatitis B dosis pertama atau HB0, yang diberikan dalam waktu kurang dari 24 jam setelah kelahiran. 

Lantas, imunisasi apa saja yang perlu diberikan kepada bayi baru lahir dan bagaimana jadwal pemberiannya?

1. Imunisasi Hepatitis B (HB0)

Imunisasi hepatitis B merupakan vaksin pertama yang dianjurkan untuk bayi baru lahir. Berdasarkan jadwal imunisasi program Kemenkes RI, vaksin hepatitis B dosis lahir diberikan dalam waktu kurang dari 24 jam setelah bayi dilahirkan.

Vaksin ini bertujuan melindungi bayi dari infeksi virus hepatitis B yang menyerang hati. Infeksi tersebut dapat berkembang menjadi penyakit kronis, sirosis, hingga kanker hati.

Pemberian vaksin sedini mungkin sangat penting, terutama untuk mencegah penularan hepatitis B dari ibu kepada bayi saat persalinan.

Orang tua dapat memastikan pemberian vaksin ini melalui tenaga kesehatan di rumah sakit, klinik, atau fasilitas kesehatan tempat persalinan berlangsung.

2. Imunisasi BCG

Imunisasi BCG diberikan untuk membantu melindungi bayi dari tuberkulosis (TBC), khususnya bentuk penyakit TBC berat pada anak.

Berdasarkan jadwal imunisasi rutin Kemenkes RI, BCG diberikan pada usia sekitar satu bulan. Vaksin ini umumnya diberikan melalui suntikan di kulit oleh tenaga kesehatan. 

TBC merupakan penyakit infeksi yang dapat menyerang paru-paru dan organ lainnya. Pada bayi dan anak kecil, infeksi TBC berisiko menimbulkan komplikasi serius.

Karena itu, orang tua perlu memastikan bayi memperoleh imunisasi BCG sesuai jadwal yang dianjurkan.

3. Imunisasi Polio

Imunisasi polio bertujuan melindungi bayi dari penyakit yang disebabkan oleh virus polio. Infeksi ini dapat menyerang sistem saraf dan menyebabkan kelumpuhan permanen.

Dalam program imunisasi rutin di Indonesia, vaksin polio diberikan melalui tetes mulut atau oral polio vaccine (OPV). Dosis pertama dijadwalkan sejak usia awal kehidupan, kemudian dilanjutkan pada usia dua, tiga, dan empat bulan.

Bayi juga mendapatkan vaksin polio suntik atau inactivated polio vaccine (IPV) sesuai jadwal, termasuk dosis pada usia empat dan sembilan bulan. 

Pemberian imunisasi polio secara lengkap membantu meningkatkan perlindungan terhadap penyakit tersebut. Orang tua sebaiknya mencatat setiap dosis yang sudah diterima bayi dalam buku kesehatan ibu dan anak.

Jadwal Imunisasi Bayi hingga Usia 18 Bulan

Selain imunisasi yang diberikan sejak awal kehidupan, terdapat vaksin lain yang perlu diterima bayi secara bertahap.

Usia bayi

Jenis imunisasi

0–24 jam

Hepatitis B dosis lahir (HB0)

1 bulan

BCG dan polio tetes

2 bulan

DPT-HB-Hib 1, polio tetes, PCV 1, rotavirus 1

3 bulan

DPT-HB-Hib 2, polio tetes, PCV 2, rotavirus 2

4 bulan

DPT-HB-Hib 3, polio tetes, IPV 1, rotavirus 3

9 bulan

Campak-rubela 1 dan IPV 2

10 bulan

Japanese encephalitis (JE), khusus wilayah endemis

12 bulan

PCV 3

18 bulan

DPT-HB-Hib 4 dan campak-rubela 2

Jadwal tersebut mengacu pada ketentuan imunisasi rutin Kemenkes RI. Pemberian beberapa vaksin, termasuk vaksin rotavirus dan Japanese encephalitis, mengikuti ketentuan program serta ketersediaan dan rekomendasi di wilayah masing-masing. 

Pentingnya Melengkapi Imunisasi Bayi

Imunisasi bukan hanya memberikan perlindungan kepada bayi yang menerimanya, tetapi juga membantu mengurangi penyebaran penyakit menular di masyarakat.

Orang tua disarankan untuk mengikuti jadwal imunisasi yang diberikan oleh dokter, bidan, atau petugas puskesmas. Setiap pemberian vaksin sebaiknya dicatat dalam buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) agar tidak ada dosis yang terlewat.

Jika bayi terlambat mendapatkan imunisasi, orang tua tidak perlu langsung menganggap seluruh jadwal harus diulang dari awal. Kemenkes RI menganjurkan imunisasi kejar untuk melengkapi status imunisasi sesuai penilaian tenaga kesehatan. 

Dengan mengikuti jadwal yang tepat, orang tua dapat membantu memberikan perlindungan optimal bagi bayi sejak hari pertama kehidupannya.

Kirim
Tulisan Terkait
PILIHAN