10 Perempuan Jenius Korban Efek Matilda, Penemuan Dicuri Pria hingga Terlupakan Sejarah!
JAKARTA, KUCANTIK.COM - Pernah membayangkan bagaimana jadinya jika penemuan besar dalam dunia sains justru lebih dikenal melalui nama orang lain? Hal inilah yang dialami sejumlah perempuan ilmuwan sepanjang sejarah. Meski memiliki kontribusi penting dalam perkembangan teknologi, kedokteran, hingga fisika modern, nama mereka justru tenggelam dan pengakuan atas hasil kerja kerasnya sering kali diberikan kepada rekan laki-laki.
Fenomena tersebut dikenal sebagai Efek Matilda (Matilda Effect), yaitu bentuk diskriminasi gender ketika kontribusi perempuan dalam dunia akademik dan sains diabaikan, diremehkan, atau dikaitkan dengan pencapaian laki-laki.
Istilah ini diperkenalkan oleh sejarawan sains Margaret W. Rossiter pada 1993. Ia menggunakan nama aktivis hak perempuan Matilda Joslyn Gage untuk menjelaskan pola ketidakadilan yang sudah berlangsung selama berabad-abad.
Salah satu gambaran fenomena ini pernah diangkat melalui film Hidden Figures (2016). Film tersebut menceritakan perjuangan Katherine Johnson, Dorothy Vaughan, dan Mary Jackson, tiga perempuan kulit hitam yang berkontribusi besar dalam program luar angkasa NASA. Meski memiliki kemampuan luar biasa, mereka harus menghadapi diskriminasi ras dan gender sebelum akhirnya mendapat pengakuan.
Namun, kisah serupa ternyata dialami banyak ilmuwan perempuan lainnya. Bahkan, sejumlah penemuan yang mengubah dunia sempat lebih dikenal melalui nama ilmuwan laki-laki. Berikut 10 perempuan jenius yang kontribusinya wajib diketahui!
1. Rosalind Franklin, Sosok Penting di Balik Penemuan Struktur DNA

Dok. Istimewa
Rosalind Franklin mungkin tidak seterkenal James Watson dan Francis Crick ketika membicarakan penemuan struktur DNA. Padahal, penelitian Franklin melalui teknik kristalografi sinar-X menjadi bagian penting dalam mengungkap bentuk heliks ganda DNA.
Salah satu hasil penelitiannya yang paling terkenal adalah Foto 51. Gambar difraksi sinar-X tersebut memberikan petunjuk penting mengenai struktur DNA.
Sayangnya, data penelitian Franklin diperlihatkan kepada Watson dan Crick tanpa sepengetahuannya melalui Maurice Wilkins. Informasi tersebut membantu keduanya menyusun model struktur DNA yang kemudian dikenal luas.
Pada 1962, Hadiah Nobel Fisiologi atau Kedokteran diberikan kepada Watson, Crick, dan Wilkins. Nama Franklin tidak masuk dalam penghargaan tersebut karena ia telah meninggal dunia pada 1958 akibat kanker ovarium.
Meskipun aturan Nobel memang tidak memperbolehkan pemberian penghargaan secara anumerta, kontribusi Franklin dalam penemuan struktur DNA kemudian semakin diakui oleh komunitas ilmiah.
2. Jocelyn Bell Burnell, Penemu Pulsar yang Tidak Mendapat Nobel

Dok. Istimewa
Pada 1967, Jocelyn Bell Burnell menemukan sinyal radio berulang yang kemudian diketahui berasal dari pulsar, yaitu bintang neutron yang berputar sangat cepat dan memancarkan gelombang elektromagnetik.
Saat itu, Bell Burnell masih menjadi mahasiswa pascasarjana di Universitas Cambridge. Ia berperan besar dalam mengidentifikasi dan menganalisis sinyal misterius tersebut menggunakan data dari teleskop radio.
Penemuan pulsar menjadi salah satu pencapaian penting dalam astronomi modern. Namun, ketika Hadiah Nobel Fisika diberikan pada 1974 atas penemuan tersebut, penghargaan justru diterima oleh pembimbingnya, Antony Hewish, bersama Martin Ryle.
Bell Burnell tidak memperoleh Nobel meskipun menjadi orang pertama yang mendeteksi sinyal pulsar dalam penelitian tersebut.
Meski demikian, ia tetap melanjutkan kariernya sebagai astronom dan kemudian menerima berbagai penghargaan ilmiah. Pada 2018, ia bahkan menyumbangkan hadiah Breakthrough Prize senilai US$3 juta untuk mendukung perempuan, kelompok minoritas, dan pengungsi yang ingin menekuni bidang fisika.
3. Lise Meitner, Ilmuwan di Balik Penjelasan Fisi Nuklir

Dok. Istimewa
Lise Meitner merupakan fisikawan yang memiliki kontribusi besar dalam memahami proses fisi nuklir, yaitu pembelahan inti atom menjadi bagian-bagian yang lebih kecil.
Selama bertahun-tahun, Meitner bekerja sama dengan kimiawan Otto Hahn. Namun, situasi politik di Eropa membuatnya harus meninggalkan Jerman pada 1938 karena latar belakang Yahudinya.
Meski berada dalam pengasingan di Swedia, Meitner tetap berkomunikasi dengan Hahn dan memberikan penjelasan teoretis mengenai hasil eksperimen yang dilakukan bersama Otto Frisch.
Pada 1939, Meitner dan Frisch menerbitkan penjelasan fisika mengenai proses tersebut dan memperkenalkan istilah fisi nuklir.
Ironisnya, ketika Hadiah Nobel Kimia 1944 diberikan, penghargaan tersebut hanya diterima Otto Hahn. Kontribusi Meitner tidak memperoleh pengakuan yang sebanding pada saat itu.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap jasanya dalam dunia sains, namanya kemudian diabadikan menjadi nama unsur kimia meitnerium.
4. Esther Lederberg, Perintis Genetika Bakteri yang Tertutup Bayang-Bayang Suami
Rekomendasi juga buat kamu:
Dok. Istimewa
Esther Lederberg merupakan salah satu ilmuwan penting dalam perkembangan genetika bakteri. Ia dikenal melalui penemuan bakteriofag lambda, yaitu virus yang dapat menginfeksi bakteri, serta pengembangan teknik replica plating.
Teknik replica plating memungkinkan ilmuwan memindahkan pola koloni bakteri dari satu media ke media lain. Metode ini membantu penelitian mengenai mutasi dan resistansi antibiotik.
Namun, kontribusi Esther kerap kurang mendapat perhatian dibandingkan suaminya, Joshua Lederberg.
Pada 1958, Joshua menerima Hadiah Nobel Fisiologi atau Kedokteran atas penemuan terkait rekombinasi genetik dan organisasi materi genetik bakteri.
Sementara itu, Esther tidak menerima penghargaan yang sama meskipun memiliki kontribusi penting dalam penelitian genetika bakteri. Kisahnya menjadi salah satu contoh bagaimana pekerjaan ilmiah perempuan dapat kurang dihargai ketika berada dalam lingkungan akademik yang didominasi laki-laki.
5. Chien Shiung Wu, Eksperimen yang Mengubah Dasar Fisika

Dok. Istimewa
Chien Shiung Wu merupakan fisikawan eksperimental yang dikenal melalui eksperimennya dalam membuktikan bahwa hukum kekekalan paritas tidak berlaku dalam interaksi nuklir lemah.
Pada 1956, dua fisikawan teoretis, Tsung-Dao Lee dan Chen Ning Yang, mengajukan gagasan bahwa prinsip paritas mungkin tidak berlaku dalam jenis interaksi tersebut.
Wu kemudian merancang eksperimen menggunakan isotop kobalt-60 pada suhu yang sangat rendah untuk menguji teori tersebut.
Hasil eksperimennya membuktikan bahwa paritas memang tidak kekal dalam interaksi nuklir lemah. Temuan tersebut menjadi salah satu perubahan besar dalam pemahaman fisika modern.
Namun, pada 1957, Hadiah Nobel Fisika diberikan kepada Lee dan Yang. Nama Wu tidak termasuk dalam penerima penghargaan, meskipun eksperimennya menjadi bukti penting bagi teori tersebut.
Wu tetap menjadi ilmuwan berpengaruh dan pernah menjabat sebagai presiden perempuan pertama American Physical Society.
6. Nettie Stevens, Perempuan yang Mengungkap Peran Kromosom X dan Y

Dok. Istimewa
Sebelum mekanisme penentuan jenis kelamin dipahami seperti sekarang, para ilmuwan masih memperdebatkan faktor yang menentukan apakah suatu individu berkembang menjadi jantan atau betina.
Nettie Stevens menjadi salah satu ilmuwan yang memberikan bukti penting mengenai peran kromosom dalam proses tersebut.
Melalui penelitian terhadap kumbang, Stevens menemukan adanya perbedaan kromosom pada individu jantan dan betina. Penelitiannya yang dipublikasikan pada 1905 menunjukkan bahwa kombinasi kromosom tertentu berperan dalam penentuan jenis kelamin.
Pada periode yang hampir bersamaan, Edmund Beecher Wilson juga melakukan penelitian mengenai kromosom seks.
Namun, dalam sejarah perkembangan genetika, kontribusi Stevens tidak selalu mendapat perhatian sebesar ilmuwan laki-laki pada masanya. Padahal, penelitiannya menjadi bagian penting dari pemahaman modern mengenai kromosom X dan Y.
7. Alice Ball, Kimiawan Muda Penemu Metode Pengobatan Kusta

Dok. Istimewa
Alice Ball merupakan kimiawan Afrika-Amerika yang berhasil mengembangkan metode pengolahan minyak chaulmoogra agar dapat digunakan melalui suntikan untuk membantu pengobatan kusta.
Sebelum penemuannya, minyak chaulmoogra telah digunakan dalam pengobatan kusta, tetapi penggunaannya memiliki keterbatasan karena sulit diserap tubuh.
Ball menemukan cara mengolah kandungan minyak tersebut menjadi bentuk yang lebih mudah digunakan. Metode ini kemudian dikenal sebagai Metode Ball dan menjadi salah satu pendekatan pengobatan kusta yang penting pada awal abad ke-20.
Sayangnya, Ball meninggal pada 1916 ketika usianya baru 24 tahun, sebelum sempat menerbitkan hasil penelitiannya secara lengkap.
Setelah kematiannya, Arthur L. Dean meneruskan penelitian tersebut dan mempublikasikan metode pengolahan minyak chaulmoogra tanpa memberikan pengakuan yang semestinya kepada Ball. Metode tersebut bahkan sempat dikenal sebagai Metode Dean.
Baru bertahun-tahun kemudian, kontribusi Alice Ball kembali diangkat dan diakui dalam sejarah ilmu pengetahuan.
8. Hedy Lamarr, Aktris Hollywood yang Ternyata Penemu Teknologi Komunikasi
Dok. Istimewa
Hedy Lamarr mungkin lebih dikenal sebagai aktris Hollywood pada era 1930-an dan 1940-an. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa ia juga memiliki ketertarikan besar terhadap teknologi.
Bersama komposer George Antheil, Lamarr mengembangkan sistem komunikasi yang menggunakan prinsip frequency hopping atau perpindahan frekuensi.
Teknologi tersebut dirancang untuk membantu mencegah sinyal kendali torpedo radio disadap atau diganggu musuh selama Perang Dunia II.
Pada 1942, keduanya memperoleh paten atas sistem tersebut. Namun, Angkatan Laut Amerika Serikat tidak langsung menerapkannya dalam sistem persenjataan saat itu.
Prinsip frequency hopping kemudian menjadi bagian penting dalam perkembangan teknologi komunikasi nirkabel. Meski tidak tepat jika menyebut penemuan Lamarr sebagai fondasi langsung seluruh teknologi Wi-Fi, Bluetooth, dan GPS, gagasannya menjadi salah satu kontribusi awal dalam pengembangan komunikasi berbasis frekuensi.
Pengakuan terhadap kecerdasan dan kontribusi Lamarr baru semakin luas pada tahun-tahun berikutnya. Ia menjadi contoh bahwa kemampuan perempuan tidak seharusnya dinilai hanya berdasarkan profesi atau penampilan mereka.
9. Vera Rubin, Astronom yang Membuka Jalan Pemahaman Materi Gelap

Dok. Istimewa
Vera Rubin merupakan astronom yang memiliki peran penting dalam perkembangan teori materi gelap atau dark matter.
Melalui pengamatan terhadap pergerakan bintang di galaksi, Rubin menemukan bahwa bintang-bintang di bagian luar galaksi bergerak dengan kecepatan yang tidak sesuai dengan perkiraan berdasarkan materi yang terlihat.
Temuan tersebut memberikan bukti kuat bahwa terdapat massa tambahan yang tidak dapat diamati secara langsung melalui cahaya. Fenomena ini kemudian menjadi salah satu dasar penting dalam penelitian materi gelap.
Meski penelitiannya mengubah pemahaman manusia mengenai alam semesta, Rubin tidak pernah menerima Hadiah Nobel sepanjang hidupnya. Ia meninggal pada 2016 dalam usia 88 tahun.
Kontribusinya tetap dikenang sebagai salah satu tonggak penting dalam astronomi modern. Bahkan, namanya kini diabadikan pada Observatorium Vera C. Rubin di Chile.
10. Gladys West, Matematikawan Perempuan di Balik Teknologi GPS
Dok. Istimewa
Pernah menggunakan GPS untuk mencari lokasi atau menentukan rute perjalanan? Teknologi yang kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari tersebut memiliki kontribusi penting dari seorang matematikawan perempuan bernama Gladys West.
West bekerja di Naval Surface Warfare Center Dahlgren Division, Amerika Serikat. Ia mengembangkan model matematika yang sangat presisi untuk menggambarkan bentuk bumi, termasuk variasi permukaannya yang dikenal sebagai geoid.
Perhitungan tersebut menggunakan data satelit dan menjadi salah satu fondasi penting dalam pengembangan sistem navigasi satelit modern.
Selama bertahun-tahun, kontribusi West tidak banyak dikenal publik karena pekerjaannya dilakukan dalam lingkungan penelitian militer. Namanya baru mendapat perhatian lebih luas setelah kisah dan pencapaiannya kembali diangkat.
Pada 2018, West dilantik ke dalam Air Force Space and Missile Pioneers Hall of Fame. Pengakuan tersebut menjadi penghormatan atas kontribusinya dalam perkembangan teknologi yang kini digunakan miliaran orang di berbagai belahan dunia.
Efek Matilda, Bukti Diskriminasi Perempuan dalam Dunia Sains Belum Selesai
Efek Matilda bukan sekadar persoalan siapa yang mendapatkan penghargaan. Fenomena ini juga berkaitan dengan kesempatan memperoleh posisi akademik, akses terhadap fasilitas penelitian, publikasi ilmiah, hingga pengakuan atas gagasan yang dikembangkan.
Ketika kontribusi perempuan tidak dicatat dengan semestinya, sejarah sains yang diwariskan kepada generasi berikutnya pun menjadi tidak lengkap.
Karena itu, mengenal kembali sosok seperti Rosalind Franklin, Lise Meitner, Alice Ball, hingga Gladys West menjadi penting. Mereka bukan sekadar ilmuwan perempuan yang terlupakan, melainkan bagian dari sejarah pengetahuan yang ikut membentuk dunia modern seperti sekarang.
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk 10 Perempuan Jenius Korban Efek Matilda, Penemuan Dicuri Pria hingga Terlupakan Sejarah! .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!