Kisah Tragis Marie Curie, Perempuan Jenius Penemu Unsur Radioaktif yang Mengubah Sejarah Dunia

Ket. Marie Curie.

Doc: Istimewa

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Penemuan besar dalam dunia sains tidak selalu membawa akhir yang membahagiakan bagi orang di baliknya. Salah satu kisah paling tragis datang dari Marie Curie, ilmuwan perempuan legendaris yang berhasil menemukan dua unsur radioaktif, yakni radium dan polonium. Ironisnya, penelitian yang membuat namanya dikenal di seluruh dunia justru diduga berkontribusi terhadap penyakit yang merenggut nyawanya.

Marie Curie menjadi salah satu nama yang paling sering disebut ketika membahas ilmuwan yang meninggal akibat paparan dari bahan yang mereka teliti sendiri. Kisah hidupnya juga menjadi pengingat bahwa kemajuan ilmu pengetahuan pada masa lalu sering kali berlangsung ketika risiko kesehatan dari suatu penemuan belum sepenuhnya dipahami.

Marie Curie, Ilmuwan Perempuan di Balik Penemuan Radium dan Polonium

Marie Skłodowska Curie merupakan fisikawan dan kimiawan kelahiran Warsawa, Polandia, pada 7 November 1867. Ia kemudian melanjutkan pendidikan dan karier ilmiahnya di Paris, Prancis.

Bersama suaminya, Pierre Curie, Marie melakukan penelitian mendalam mengenai radioaktivitas. Pada 1898, keduanya berhasil mengidentifikasi dua unsur baru, yaitu polonium dan radium, dari mineral pitchblende.

Penemuan tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam perkembangan ilmu fisika dan kimia. Penelitian Marie juga membantu membuka pemahaman lebih luas mengenai radioaktivitas dan pemanfaatannya dalam bidang kedokteran.

Prestasinya bahkan membuat Marie Curie mencetak sejarah sebagai perempuan pertama penerima Nobel. Ia memperoleh Nobel Fisika pada 1903 bersama Pierre Curie dan Henri Becquerel. Delapan tahun kemudian, ia kembali menerima Nobel Kimia pada 1911 atas penelitian mengenai radium dan polonium.

Hingga kini, Marie Curie dikenal sebagai satu-satunya individu yang pernah meraih Nobel dalam dua kategori sains berbeda, yakni fisika dan kimia.

Bertahun-tahun Terpapar Radiasi Tanpa Perlindungan Memadai

Di balik pencapaian luar biasa tersebut, ada risiko besar yang harus dihadapi Marie Curie selama melakukan penelitian.

Pada masa itu, dampak paparan radiasi terhadap kesehatan manusia belum dipahami seperti sekarang. Marie dan sejumlah ilmuwan lain bekerja dengan bahan radioaktif tanpa standar perlindungan keselamatan yang memadai.

Dalam aktivitas penelitiannya, ia terbiasa menangani material radioaktif secara langsung. Bahkan, sejumlah bahan penelitian disimpan di laboratorium tanpa pemahaman menyeluruh mengenai bahaya paparan jangka panjang.

Situasi tersebut membuat Marie terpapar radiasi selama bertahun-tahun. Selain penelitian di laboratorium, ia juga terlibat dalam penggunaan teknologi sinar-X untuk membantu penanganan tentara yang terluka selama Perang Dunia I.

Paparan radiasi dalam jangka panjang kemudian dikaitkan dengan gangguan kesehatan yang dialaminya. Namun, kontribusi masing-masing sumber paparan terhadap penyakitnya tidak sepenuhnya dapat dipastikan.

Meninggal akibat Anemia Aplastik pada Usia 66 Tahun

Pada 4 Juli 1934, Marie Curie meninggal dunia di Sancellemoz Sanatorium, Prancis, dalam usia 66 tahun.

Penyebab kematiannya adalah anemia aplastik, yaitu kondisi ketika sumsum tulang tidak mampu memproduksi sel darah dalam jumlah yang cukup. Penyakit ini dapat terjadi akibat kerusakan sumsum tulang, termasuk karena paparan radiasi tingkat tinggi.

Kematian Marie Curie secara luas dikaitkan dengan paparan radiasi selama bertahun-tahun menjalani penelitian. Nobel Prize juga menyebut penyakit tersebut kemungkinan besar disebabkan oleh paparan radiasi yang dialaminya sepanjang karier ilmiah.

Kisahnya menjadi salah satu contoh paling terkenal tentang risiko yang harus dihadapi para pelopor penelitian radioaktivitas sebelum standar keselamatan modern berkembang.

Buku Catatan Marie Curie Masih Radioaktif hingga Sekarang

Hal yang membuat kisah Marie Curie semakin mencengangkan adalah peninggalan penelitiannya yang masih menyimpan jejak radioaktivitas.

Beberapa buku, catatan laboratorium, dan dokumen miliknya masih terkontaminasi bahan radioaktif. Salah satu yang paling dikenal adalah buku catatan eksperimen dari periode 1899–1902.

Dokumen tersebut disimpan dalam kotak khusus berlapis timbal untuk mengurangi risiko paparan radiasi. Orang yang ingin mengakses sejumlah dokumen peninggalannya pun harus mengikuti prosedur keselamatan tertentu.

Bahkan, beberapa peninggalan Marie Curie diperkirakan masih akan bersifat radioaktif selama ratusan hingga ribuan tahun, bergantung pada material yang terkandung di dalamnya.

Bukan Satu-satunya Perempuan yang Menjadi Korban Radiasi

Meski Marie Curie merupakan ilmuwan perempuan paling ikonik yang kematiannya dikaitkan dengan paparan radiasi, ia bukan satu-satunya perempuan yang mengalami dampak fatal dari bahan radioaktif.

Sejarah juga mencatat kelompok pekerja perempuan yang dikenal sebagai Radium Girls. Mereka merupakan buruh pabrik di Amerika Serikat yang menggunakan cat berbahan radium untuk membuat angka pada jam bercahaya.

Sebagian pekerja memiliki kebiasaan membentuk ujung kuas menggunakan bibir sehingga tanpa sadar menelan bahan radioaktif. Paparan tersebut menyebabkan berbagai penyakit serius, termasuk kerusakan tulang rahang, kanker, dan gangguan darah.

Kisah para Radium Girls memperlihatkan bahwa risiko radiasi tidak hanya dialami ilmuwan di laboratorium, tetapi juga pekerja perempuan di industri yang menggunakan bahan radioaktif.

Perjalanan hidup Marie Curie menjadi bukti bahwa penemuan besar dapat membawa perubahan bagi dunia, tetapi juga menyimpan risiko yang tidak boleh diabaikan. Warisannya bukan hanya tentang dua unsur radioaktif yang berhasil ditemukan, melainkan juga pentingnya keselamatan dalam setiap perkembangan ilmu pengetahuan.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN