Jangan Tunggu Sakit! Ini Tes Kesehatan yang Wajib Dilakukan Perempuan Sesuai Usia

Ket. Ilustrasi - Sejumlah warga menunjukkan kartu vaksinasi usai mendapatkan vaksin Human Papillomavirus (HPV) dosis kedua di Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Jateng, Semarang, Jawa Tengah.

Doc: Antara foto

JAKARTA - Kebutuhan pemeriksaan kesehatan perempuan, yang penting dilakukan untuk mendeteksi penyakit sejak dini, bahkan sebelum gejala muncul, berubah seiring pertambahan usia.

Menurut laporan laman Health, Rabu (2/9), yang ditinjau langsung oleh dokter spesialis kebidanan dan kandungan bersertifikat di Illinois, Amerika Serikat Kiarra King, MD, FACOG, jenis pemeriksaan yang dibutuhkan dapat berbeda pada setiap dekade kehidupan, mulai dari tekanan darah hingga skrining kanker.

Pada usia 20-an, perempuan dianjurkan mulai membangun kebiasaan pemeriksaan kesehatan secara rutin. Pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain tekanan darah, kolesterol, kanker serviks, infeksi menular seksual (IMS), hepatitis C, kesehatan mental, diabetes berdasarkan faktor risiko, serta kesehatan kulit.

Pemeriksaan kanker serviks melalui pap smear umumnya mulai dilakukan sejak usia 21 tahun. Sementara itu, perempuan pada usia ini belum memerlukan mamografi rutin jika memiliki risiko rata-rata kanker payudara.

Mereka dianjurkan mengenali kondisi normal payudara dan segera berkonsultasi jika menemukan benjolan, perubahan kulit, atau keluarnya cairan dari puting.

Perawat dengan pengalaman lebih dari 25 tahun di bidang layanan kesehatan Maggie Aime, MSN, RN, menulis bahwa kebutuhan pemeriksaan kesehatan perempuan dapat berubah seiring bertambahnya usia dan faktor risiko penyakit.

Memasuki usia 30-an, pemeriksaan yang sudah dilakukan sejak usia 20-an tetap perlu dilanjutkan. Pemeriksaan kanker serviks juga memiliki lebih banyak pilihan, seperti Pap smear setiap tiga tahun, tes human papillomavirus (HPV) setiap lima tahun, atau kombinasi keduanya setiap lima tahun, tergantung riwayat kesehatan.

Skrining diabetes juga mulai direkomendasikan sejak usia 35 tahun bagi orang yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.

Pada usia 40-an, perempuan dengan risiko rata-rata kanker payudara umumnya mulai membicarakan pemeriksaan mamografi dengan dokter. Waktu mulai dan frekuensi pemeriksaan dapat disesuaikan dengan faktor risiko serta riwayat keluarga.

Skrining kanker kolorektal juga mulai direkomendasikan sejak usia 45 tahun bagi orang dengan risiko rata-rata. Pilihannya antara lain kolonoskopi setiap 10 tahun atau pemeriksaan berbasis sampel tinja yang dapat dilakukan di rumah dengan interval tertentu.

Sementara itu, pada usia 50-an, pemeriksaan yang telah dilakukan pada dekade sebelumnya tetap dilanjutkan. Pemeriksaan tambahan dapat mencakup kanker paru bagi perempuan dengan riwayat merokok yang signifikan serta pemeriksaan kepadatan tulang bagi mereka yang telah menopause dan memiliki faktor risiko osteoporosis.

Pemeriksaan kepadatan tulang umumnya dilakukan mulai usia 65 tahun bagi perempuan dengan risiko rata-rata, sedangkan pemeriksaan lebih awal dapat dipertimbangkan jika terdapat faktor risiko seperti kebiasaan merokok atau riwayat patah tulang panggul dalam keluarga.

Perempuan juga disarankan memilih dokter yang dipercaya, mencatat hasil pemeriksaan dan jadwal pemeriksaan berikutnya, serta menyampaikan perubahan kondisi kesehatan maupun riwayat penyakit dalam keluarga kepada dokter.

Jika muncul gejala baru seperti benjolan, perdarahan yang tidak biasa, penurunan berat badan tanpa sebab jelas, atau keluhan lain yang mengkhawatirkan, pemeriksaan sebaiknya tidak menunggu jadwal skrining berikutnya.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN