7 Bahaya Kabut Asap bagi Kesehatan yang Nggak Bisa Disepelekan

Ket. Bahaya Kabut Asap.

Doc: ANTARA

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Kebakaran hutan kembali menjadi perhatian setelah ribuan titik panas terdeteksi di sejumlah wilayah Indonesia. Di Kalimantan Tengah, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 5.391 titik panas hingga akhir Agustus 2026.

Kabut asap akibat kebakaran hutan tidak hanya berdampak bagi masyarakat yang berada di sekitar lokasi kebakaran. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut asap kebakaran hutan dapat terbawa angin dan bergerak melintasi wilayah, negara, bahkan benua.

Asap yang menyebar dapat membawa berbagai partikel dan zat berbahaya bagi tubuh. Karena itu, masyarakat perlu mengetahui sejumlah dampak kabut asap terhadap kesehatan agar dapat mengurangi risiko paparan.

1. Menyebabkan Batuk dan Sesak Napas

Gangguan pada saluran pernapasan menjadi salah satu dampak yang paling umum ketika seseorang terpapar kabut asap. Kondisi tersebut dapat memicu batuk, iritasi tenggorokan, napas berbunyi atau mengi, hingga sesak napas.

WHO juga mencatat batuk dan sesak napas sebagai keluhan yang dapat muncul akibat paparan asap kebakaran hutan. Gejalanya dapat terasa semakin parah ketika konsentrasi asap di udara semakin tinggi.

2. Memperburuk Asma dan Penyakit Paru

Orang yang memiliki asma maupun penyakit paru kronis perlu lebih berhati-hati ketika kabut asap menyelimuti suatu wilayah. Partikel halus dari asap dapat masuk jauh ke saluran pernapasan dan memicu peradangan.

Paparan tersebut dapat membuat gejala penyakit pernapasan semakin berat. Dalam kondisi tertentu, gangguan yang memburuk bahkan dapat membuat penderita membutuhkan penanganan medis di rumah sakit.

3. Meningkatkan Risiko Gangguan Jantung

Bahaya kabut asap tidak hanya berkaitan dengan kesehatan paru-paru. Partikel berukuran sangat kecil dapat masuk ke tubuh dan menjadi perhatian karena sebagian di antaranya mampu mencapai aliran darah.

Orang yang telah memiliki penyakit jantung perlu meningkatkan kewaspadaan ketika kualitas udara memburuk. Paparan asap dapat menambah beban pada sistem kardiovaskular dan berpotensi memperparah masalah kesehatan yang sudah ada.

4. Menyebabkan Iritasi Mata

Mata juga termasuk bagian tubuh yang mudah mengalami gangguan ketika terkena kabut asap. Partikel dan berbagai zat iritan yang terkandung dalam asap dapat menyebabkan mata merah, perih, gatal, hingga berair.

Gangguan tersebut tetap dapat terjadi meskipun seseorang berada cukup jauh dari lokasi kebakaran. Asap yang terbawa angin dapat menurunkan kualitas udara di wilayah lain dan meningkatkan paparan masyarakat.

5. Memicu Sakit Kepala dan Pusing

Paparan kabut asap juga dapat disertai keluhan seperti sakit kepala dan pusing. Kondisi tersebut perlu diperhatikan, terutama jika keluhan muncul setelah seseorang berada di lingkungan dengan kualitas udara yang buruk.

Jika mengalami sakit kepala setelah terpapar asap, sebaiknya segera berpindah ke tempat dengan udara yang lebih bersih. Apabila keluhan disertai sesak napas atau gangguan pada jantung, pertolongan medis perlu segera dicari.

6. Lebih Berisiko bagi Kelompok Rentan

Dampak kabut asap dapat berbeda pada setiap orang karena tingkat kerentanannya tidak sama. Bayi, anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit kronis termasuk kelompok yang perlu mendapatkan perhatian lebih.

Paru-paru bayi dan anak-anak masih dalam tahap perkembangan sehingga paparan udara tercemar sebaiknya diminimalkan. Sementara itu, penderita penyakit jantung atau paru dapat mengalami gejala lebih berat meskipun sumber kebakaran berada cukup jauh.

7. Meningkatkan Paparan Partikel Berbahaya

Asap kebakaran hutan mengandung berbagai partikel dan gas yang dapat membahayakan kesehatan. Salah satu yang perlu diwaspadai adalah PM2.5, yakni partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan bahkan mencapai aliran darah.

Selain PM2.5, asap juga dapat mengandung debu dan jelaga yang mengiritasi mata serta saluran pernapasan. Karbon monoksida atau CO juga berbahaya karena dapat mengganggu kemampuan darah membawa oksigen, terutama ketika terhirup dalam konsentrasi tinggi.

Ketika kabut asap menyebar, masyarakat sebaiknya mengurangi paparan dengan memantau kualitas udara dan membatasi aktivitas di luar ruangan. Penggunaan masker berstandar seperti N95 atau FFP2 juga dapat menjadi salah satu langkah perlindungan ketika kondisi udara sedang buruk.

Menjaga kualitas udara di dalam ruangan juga penting selama kabut asap masih menyelimuti wilayah tempat tinggal. Jika muncul gangguan kesehatan yang berat atau gejala memburuk, segera cari pertolongan medis agar dapat ditangani dengan tepat.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN