Tidur Cukup tapi Bangun Masih Lemas? Bisa Jadi 5 Kebiasaan Pagi Ini Penyebabnya

Ket. Tidur Cukup tapi Bangun Masih Lemas? Bisa Jadi 5 Kebiasaan Pagi Ini Penyebabnya

Doc: Freepik

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Sudah tidur cukup tetapi masih merasa pusing, lelah, atau sulit berkonsentrasi saat bangun? Kondisi tersebut ternyata tidak selalu disebabkan oleh kurang tidur. Kebiasaan yang dilakukan setelah bangun pagi juga dapat memengaruhi kondisi otak dan tubuh.

Waktu 60–90 menit pertama setelah bangun menjadi periode penting yang dapat memengaruhi konsentrasi, suasana hati, energi, daya ingat, hingga kualitas tidur pada malam berikutnya.

Menurut ahli neurosains Dr Patricia Schmidt, ada sejumlah kebiasaan pagi yang sebaiknya dihindari karena dapat mengganggu kinerja otak.

1. Langsung Membuka Handphone

Memeriksa pesan, media sosial, atau notifikasi pekerjaan begitu bangun menjadi kebiasaan banyak orang. Padahal, tubuh sedang mengalami peningkatan hormon kortisol secara alami yang dikenal sebagai Cortisol Awakening Response.

Paparan informasi dan notifikasi yang memicu stres secara tiba-tiba dapat mengganggu proses alami tubuh tersebut.

Cara memperbaikinya: Hindari menyentuh ponsel selama sekitar 45 menit setelah bangun agar tubuh dan sistem saraf memiliki waktu untuk beradaptasi.

2. Mengabaikan Sinar Matahari Pagi

Terlalu lama berada di ruangan gelap setelah bangun juga dapat memengaruhi ritme sirkadian tubuh. Cahaya pagi berperan dalam mengatur jam biologis dan membantu tubuh menentukan waktu untuk aktif serta beristirahat.

Paparan cahaya pagi juga membantu mengatur hormon melatonin dan kortisol serta mendukung produksi serotonin yang berkaitan dengan suasana hati.

Cara memperbaikinya: Usahakan terkena sinar matahari sekitar 10 menit setelah bangun. Jika cuaca mendung, durasinya bisa diperpanjang menjadi 15–20 menit.

3. Langsung Memaksa Otak Mengerjakan Tugas Berat

Langsung bekerja atau mengerjakan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi tinggi setelah membuka mata juga bukan kebiasaan yang ideal.

Otak membutuhkan waktu untuk beralih dari kondisi tidur ke kondisi terjaga sepenuhnya. Kondisi yang disebut sleep inertia dapat membuat kemampuan berpikir dan mengambil keputusan belum optimal.

Cara memperbaikinya: Berikan waktu bagi tubuh dan pikiran untuk benar-benar terjaga. Peregangan ringan dapat dilakukan sebelum memulai pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi.

4. Menyantap Sarapan Tinggi Gula

Sarapan dengan makanan tinggi gula memang praktis, tetapi dapat menyebabkan kadar gula darah meningkat dengan cepat dan kemudian turun beberapa jam setelahnya.

Perubahan tersebut dapat membuat energi yang tersedia untuk otak menjadi kurang stabil sehingga konsentrasi lebih mudah menurun.

Cara memperbaikinya: Pilih sarapan dengan kandungan protein sekitar 25–35 gram. Protein dapat membantu menjaga kestabilan gula darah, memberikan rasa kenyang lebih lama, serta mendukung energi dan fungsi kognitif.

5. Melewatkan Minum Air Putih

Tubuh tetap kehilangan cairan selama tidur meskipun tidak melakukan aktivitas. Akibatnya, seseorang dapat mengalami dehidrasi ringan ketika bangun.

Kekurangan cairan dapat memengaruhi aliran darah ke otak dan berkontribusi terhadap rasa lelah, menurunnya kemampuan kognitif, hingga perubahan suasana hati.

Cara memperbaikinya: Minumlah sekitar 250–350 ml air putih setelah bangun tidur. Menyiapkan segelas air di samping tempat tidur dapat membantu membiasakan diri memenuhi kebutuhan cairan pada pagi hari.

Kebiasaan Pagi Berpengaruh pada Aktivitas Seharian

Rutinitas setelah bangun tidur ternyata dapat memberikan pengaruh terhadap kondisi tubuh dan otak sepanjang hari.

Karena itu, kebiasaan sederhana seperti tidak langsung bermain ponsel, mendapatkan sinar matahari, memberi waktu bagi otak untuk beradaptasi, memilih sarapan bergizi, dan cukup minum air dapat membantu menjaga energi serta konsentrasi.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN