Mengenal Haemolytic Anaemia, Penyakit yang Dialami Raja Norwegia Harald V sebelum Wafat

Ket. Mengenal Haemolytic Anaemia, Penyakit yang Dialami Raja Norwegia Harald V sebelum Wafat

Doc: ANTARA

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Raja Norwegia Harald V meninggal dunia pada usia 89 tahun setelah menjalani perawatan di rumah sakit akibat masalah kesehatan serius.

Salah satu kondisi yang dialaminya dalam periode terakhir adalah haemolytic anaemia atau anemia hemolitik. Penyakit tersebut merupakan gangguan darah langka yang menyebabkan sel darah merah hancur lebih cepat dibandingkan kemampuan tubuh untuk menggantinya.

Istana Kerajaan Norwegia mengumumkan Harald V meninggal dengan tenang pada Jumat (28/8/2026) pukul 06.35 waktu setempat di Rumah Sakit Nasional Oslo.

Harald sebelumnya dirawat sejak 17 Agustus karena haemolytic anaemia. Dalam perkembangan selanjutnya, kondisinya juga diperburuk oleh infeksi bakteri pada aliran darah.

Laporan Reuters mengungkapkan, Raja Harald meninggal setelah mengalami infeksi bakteri dalam darah. Lantas, sebenarnya apa itu haemolytic anaemia dan seberapa berbahaya penyakit tersebut?

Apa Itu Haemolytic Anaemia?

Menurut National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI), haemolytic anaemia atau anemia hemolitik merupakan kondisi ketika sel darah merah dihancurkan lebih cepat daripada kemampuan tubuh untuk memproduksi sel darah merah baru.

Normalnya, sel darah merah dapat bertahan sekitar 120 hari sebelum secara alami dihancurkan dan digantikan oleh sel baru. Pada anemia hemolitik, proses penghancuran tersebut berlangsung terlalu cepat sehingga jumlah sel darah merah dalam tubuh menjadi terlalu sedikit.

Padahal, sel darah merah memiliki fungsi penting untuk membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh. Ketika jumlahnya turun secara signifikan, jaringan dan organ tubuh bisa kekurangan pasokan oksigen.

Apa Penyebab Anemia Hemolitik?

Anemia hemolitik bukan satu penyakit dengan satu penyebab. Kondisi ini dapat muncul akibat berbagai faktor.

NHLBI menyebut beberapa penyebabnya antara lain penyakit autoimun, gangguan sumsum tulang, infeksi, penyakit darah yang diturunkan secara genetik, komplikasi transfusi darah, hingga efek obat tertentu.

Pada jenis autoimmune hemolytic anemia, sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang sel darah merah dan menyebabkan sel tersebut dihancurkan sebelum waktunya.

Sementara itu, anemia hemolitik juga dapat berkaitan dengan kelainan bawaan seperti sickle cell disease, thalassemia, atau defisiensi enzim G6PD. Infeksi tertentu dan beberapa obat juga dapat memicu penghancuran sel darah merah.

Artinya, dokter perlu mencari penyebab spesifik sebelum menentukan penanganan.

Gejala Haemolytic Anaemia

Gejala anemia hemolitik dapat berbeda-beda, tergantung seberapa cepat sel darah merah dihancurkan dan seberapa parah anemia yang terjadi.

Beberapa gejala yang dapat muncul antara lain:

  • Mudah lelah
  • Tubuh terasa lemah
  • Pusing
  • Kulit terlihat pucat
  • Jantung berdebar atau berdetak lebih cepat
  • Sesak napas
  • Kulit dan bagian putih mata menguning atau jaundice
  • Urine berwarna lebih gelap
  • Pembesaran limpa

Cleveland Clinic menjelaskan bahwa gejala tersebut berkaitan dengan berkurangnya kemampuan darah membawa oksigen ke jaringan tubuh.

Pada kasus ringan, seseorang bahkan bisa tidak mengalami gejala yang berarti. Namun, anemia hemolitik yang berat dapat menjadi kondisi serius dan membutuhkan penanganan medis.

Bagaimana Dokter Mendiagnosisnya?

Diagnosis tidak bisa dilakukan hanya berdasarkan gejala. Dokter biasanya melakukan pemeriksaan fisik dan sejumlah tes darah untuk mengetahui apakah sel darah merah mengalami penghancuran berlebihan.

NHLBI menyebut pemeriksaan dapat mencakup tes darah dan, tergantung kasusnya, pemeriksaan urine, sumsum tulang, maupun tes genetik.

Dokter juga dapat melihat sejumlah penanda laboratorium yang menunjukkan terjadinya hemolisis, seperti kadar bilirubin, lactate dehydrogenase (LDH), haptoglobin, serta melakukan direct Coombs test untuk mengetahui apakah terdapat antibodi yang menempel pada sel darah merah.

Apakah Haemolytic Anaemia Bisa Diobati?

Bisa. Penanganannya bergantung pada penyebab dan tingkat keparahan penyakit.

Pada kasus tertentu, pasien mungkin hanya membutuhkan pemantauan. Namun, kasus yang lebih berat dapat membutuhkan transfusi darah, obat-obatan, terapi yang menekan respons sistem kekebalan, hingga operasi pengangkatan limpa atau transplantasi pada kondisi tertentu.

Karena penyebab anemia hemolitik sangat beragam, pengobatan tidak bisa disamaratakan.

Bisa Mematikan Jika Parah?

Anemia hemolitik yang berat dan tidak tertangani dapat menimbulkan komplikasi serius. NHLBI menyebut anemia hemolitik berat yang tidak ditangani dapat menyebabkan gangguan irama jantung, pembesaran jantung, hingga gagal jantung.

Cleveland Clinic juga menjelaskan bahwa anemia hemolitik berat dapat menimbulkan masalah jantung serius.

Namun, tidak semua orang dengan haemolytic anaemia akan mengalami kondisi berat atau meninggal akibat penyakit tersebut. Banyak kasus dapat dikelola setelah penyebabnya diketahui dan pasien mendapatkan terapi yang sesuai.

Kirim
Tulisan Terkait
PILIHAN