Asap Karhutla Tak Cuma Ganggu Pernapasan, Eksim Juga Bisa Kambuh dan Makin Gatal
JAKARTA, KUCANTIK.COM - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan hanya menjadi ancaman bagi kesehatan paru-paru. Paparan polusi udara juga dapat memberikan dampak terhadap kesehatan kulit, terutama bagi orang yang memiliki dermatitis atopik atau eksim.
Ketika kualitas udara memburuk akibat karhutla, kulit bisa menjadi lebih kering, kemerahan, sensitif, hingga terasa semakin gatal. Kondisi tersebut berkaitan dengan paparan berbagai polutan di udara, termasuk partikel halus PM2.5 yang dapat mengganggu fungsi pelindung alami kulit.
Kasus Eksim Meningkat Saat Kebakaran Hutan
Salah satu bukti mengenai hubungan polusi udara dan eksim terlihat dari penelitian terhadap kebakaran Camp Fire di California, Amerika Serikat, pada 2018. Penelitian tersebut menganalisis 8.049 kunjungan dermatologi dari 4.147 pasien sebelum, selama, dan setelah kebakaran.
Selama dua pekan kebakaran berlangsung, konsentrasi PM2.5 rata-rata di San Francisco meningkat hingga sekitar sembilan kali lipat. Pada periode yang sama, kunjungan akibat dermatitis atopik meningkat sekitar 49 persen pada pasien anak dan 15 persen pada pasien dewasa dibandingkan dengan pekan ketika tidak terjadi kebakaran.
Penelitian tersebut juga menemukan adanya hubungan antara peningkatan konsentrasi PM2.5 dan keluhan gatal. Setiap kenaikan rata-rata mingguan PM2.5 sebesar 10 mikrogram per meter kubik dikaitkan dengan peningkatan sekitar 7,7 persen kunjungan anak akibat keluhan gatal.
Meski demikian, hasil penelitian tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa PM2.5 menjadi satu-satunya penyebab eksim kambuh. Penelitian tersebut bersifat observasional sehingga masih terdapat faktor lain yang dapat memengaruhi munculnya keluhan kulit.
Mengapa Asap Karhutla Bisa Memengaruhi Kulit?
Asap karhutla merupakan campuran berbagai zat pencemar, mulai dari gas hingga senyawa organik dan particulate matter (PM). Salah satu komponen yang mendapat perhatian besar adalah PM2.5, yakni partikel berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil yang dapat masuk jauh ke dalam tubuh.
Pada kondisi normal, kulit memiliki lapisan pelindung yang berfungsi menjaga kelembapan sekaligus menghalangi masuknya berbagai iritan dari lingkungan. Namun, fungsi pelindung tersebut cenderung sudah terganggu pada orang yang mengalami dermatitis atopik.
Paparan particulate matter kemudian berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap kondisi kulit. Tinjauan ilmiah dalam jurnal Science of the Total Environment mengaitkan paparan partikulat dengan gangguan fungsi pelindung kulit, stres oksidatif, dan peradangan.
Dengan demikian, kulit penderita eksim yang sejak awal memiliki pertahanan lebih lemah dapat menjadi semakin mudah mengalami iritasi ketika terpapar polusi udara. Meski begitu, mekanisme pastinya masih terus dipelajari dan komposisi asap dapat berbeda tergantung sumber serta karakteristik kebakaran.
Lansia Juga Perlu Lebih Waspada
Dampak polusi terhadap keluhan kulit juga terlihat pada kelompok lanjut usia. Penelitian lanjutan terkait Camp Fire menemukan bahwa orang berusia 65 tahun ke atas mengalami tingkat kunjungan akibat gatal sekitar 1,6 kali lebih tinggi selama pekan kebakaran dibandingkan pekan tanpa kebakaran.
Pada kelompok yang sama, kunjungan karena dermatitis atopik juga tercatat sekitar 1,4 kali lebih tinggi. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan perubahan kulit akibat proses penuaan yang dapat memengaruhi kelembapan, keasaman, kehilangan air, serta fungsi lapisan pelindung kulit.
Cara Melindungi Kulit Saat Udara Dipenuhi Asap
Mengurangi paparan asap menjadi langkah penting ketika kualitas udara sedang buruk. Jika memungkinkan, masyarakat sebaiknya berada di dalam ruangan dengan pintu dan jendela tertutup serta menggunakan penyaring udara untuk membantu mengurangi partikel pencemar.
Apabila harus beraktivitas di luar ruangan, penggunaan respirator N95 yang terpasang dengan baik dapat membantu mengurangi paparan partikel halus. Bagi penderita eksim, perawatan dasar kulit juga sebaiknya tetap dilakukan agar lapisan pelindung kulit tetap terjaga.
Mandi dengan durasi singkat menggunakan air hangat suam-suam kuku dapat menjadi pilihan. Gunakan pula produk perawatan yang tidak mengandung pewangi dan aplikasikan pelembap berbentuk krim atau salep setelah mandi maupun ketika kulit mulai terasa kering.
Jika eksim semakin parah hingga mengganggu tidur, menimbulkan rasa nyeri hebat, menyebabkan luka terbuka, atau muncul tanda infeksi seperti nanah dan kerak kekuningan, sebaiknya segera menjalani pemeriksaan medis. Pemeriksaan dokter juga diperlukan apabila perawatan yang biasanya digunakan sudah tidak mampu mengendalikan gejala.
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk Asap Karhutla Tak Cuma Ganggu Pernapasan, Eksim Juga Bisa Kambuh dan Makin Gatal .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!