Pengamat : Pelemahan Rupiah Tidak Hanya Karena Tekanan Dolar, Namun Karena Lemahnya Fundamental Ekomomi Kita
JAKARTA, KUCANTIK.COM - Dikatakan oleh Head of Macroeconomic & Financial Market Research Permata Bank, Faisal Rachman bahwa menilai tekanan terhadap rupiah tidak hanya dipengaruhi gejolak global, tetapi juga kondisi fundamental dalam negeri, terutama melemahnya kinerja perdagangan dan meningkatnya kebutuhan pembiayaan dari luar negeri.
"Faktor-faktor tersebut dapat semakin memperkuat sentimen risk-off dan memicu arus modal keluar (capital outflows) lebih lanjut," kata Faisal, sebagaimana diberitakan Antara di Jakarta, Senin (2/11).
Tim ekonom Permata Bank memperkirakan CAD melebar menjadi 2,49 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2026, dibandingkan 0,09 persen pada 2025. Defisit tersebut diproyeksikan tetap di kisaran 2,49 persen terhadap PDB pada 2027.
Faisal mengingatkan pelebaran CAD yang disertai perubahan arus investasi portofolio menjadi arus keluar bersih (net outflows) dalam neraca pembayaran Indonesia berpotensi menekan cadangan devisa.
Permata Bank memperkirakan cadangan devisa turun menjadi 143-147 miliar dollar AS pada akhir 2026, dari 156,47 miliar dollar AS pada akhir 2025. Pada 2027, cadangan devisa diproyeksikan berada di kisaran 141-145 miliar dollar AS.
"Tren penurunan tersebut diperkirakan berlanjut pada 2027, dengan cadangan devisa diproyeksikan tetap berada di bawah tekanan pada kisaran 141-145 miliar dollar AS," kata dia.
Tekanan eksternal tersebut muncul ketika surplus perdagangan Indonesia menyusut tajam. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan September 2026 mencatat surplus 3,36 miliar dollar AS. Namun, secara kumulatif surplus Januari-September 2026 hanya mencapai 10,61 miliar dollar AS, jauh lebih rendah dibandingkan 33,54 miliar dollar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya.
"Kami masih melihat adanya risiko penurunan kinerja neraca perdagangan Indonesia hingga akhir 2026 dan sepanjang 2027. Risiko tersebut didorong oleh pertumbuhan impor yang tetap kuat serta kondisi ekspor yang penuh tantangan," kata Faisal.
Kenaikan Suku Bunga
Dari sisi moneter, Permata Bank memperkirakan Bank Indonesia (BI) menaikkan BI-Rate satu kali menjadi 6,00 persen sebelum akhir 2026 dan mempertahankannya sepanjang 2027.
Rekomendasi juga buat kamu:
"Namun, apabila ketidakpastian eksternal dan domestik meningkat secara signifikan, kami melihat adanya ruang bagi kenaikan suku bunga tambahan setidaknya sebesar 50 basis poin (bps) pada 2027," kata Faisal.
Permata Bank memperkirakan rupiah berada di kisaran 18.200-18.400 rupiah per dollar AS. Risiko pelemahan diperkirakan berlanjut pada 2027, bahkan kemungkinan menembus 19.000 rupiah per dollar AS dinilai meningkat.
Pada penutupan perdagangan Senin, rupiah melemah 9 poin atau 0,05 persen menjadi 18.156 rupiah per dollar AS dari posisi sebelumnya 18.147 rupiah per dollar AS.
Analis mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuabi mengatakan surplus perdagangan September ditopang ekspor sebesar 27,59 miliar dollar AS dan impor 24,23 miliar dollar AS. Kenaikan harga minyak turut meningkatkan nilai impor Indonesia.
“Surplus perdagangan sebesar 3,36 miliar menjadi sentimen positif bagi fundamental ekonomi Indonesia dan berpotensi mendukung rupiah. Namun, pasar tetap perlu mencermati kualitas pertumbuhan ekspor, perkembangan impor, serta arus modal asing. Sebab, surplus perdagangan yang kuat belum tentu secara langsung membuat rupiah menguat apabila tekanan dari dollar AS dan faktor eksternal masih tinggi,” ungkapnya.
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk Pengamat : Pelemahan Rupiah Tidak Hanya Karena Tekanan Dolar, Namun Karena Lemahnya Fundamental Ekomomi Kita .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!