Bye Dumb Scrolling! 5 Artikel Substack yang Wajib Dibaca Perempuan Usia 20an, Bikin Mindset Berubah
Rabu, 28 Okt 2026, 13:15 WIBJAKARTA, KUCANTIK.COM - Memasuki usia 20an sering kali terasa seperti berada di persimpangan jalan. Di tengah kebiasaan scrolling tanpa tujuan, membaca artikel yang memberikan perspektif baru bisa menjadi alternatif untuk mengisi waktu dengan lebih bermakna. Hal inilah yang disoroti KUCANTIK.COM, yang mengajak perempuan mulai meninggalkan kebiasaan dumb scrolling dan beralih membaca tulisan di Substack.
Platform ini menawarkan beragam tulisan dari penulis dengan topik mulai dari pengembangan diri, hubungan, budaya, hingga persoalan sehari-hari yang dekat dengan kehidupan perempuan. Beberapa artikel bahkan mengajak pembaca untuk melihat ulang cara mereka memandang kesuksesan, pekerjaan, dan identitas diri.
Buat Cantiks yang sedang menjalani usia 20an, berikut lima rekomendasi artikel Substack yang bisa menjadi teman refleksi.
1. The Art of Surviving Your Twenties - Espresso & Essays
Usia 20-an sering dianggap sebagai masa untuk menentukan masa depan. Kita seolah dituntut sudah mengetahui passion, memiliki pekerjaan impian, dan merancang kehidupan yang ideal. Padahal, kenyataannya tidak semua orang punya jawaban atas pertanyaan tersebut.
Artikel The Art of Surviving Your Twenties mengingatkan bahwa bertumbuh tidak selalu ditandai dengan pencapaian besar. Ada kalanya proses menjadi dewasa justru berarti belajar melepaskan hal-hal yang tidak lagi sejalan, menikmati waktu sendirian, dan mencoba kembali setelah mengalami kegagalan.
Belum menemukan pekerjaan yang cocok atau masih mencari hal yang benar-benar disukai bukan berarti kamu tertinggal. Setiap orang memiliki perjalanan berbeda, sehingga tidak perlu memaksakan diri mengikuti garis waktu orang lain.
2. The Hunger to Be Everything - Amber
Pernah merasa ingin memiliki semuanya setelah melihat kehidupan orang lain di media sosial? Mulai dari karier cemerlang, penampilan menarik, hubungan romantis yang harmonis, sampai kehidupan yang terlihat sempurna.
Tulisan The Hunger to Be Everything membahas bagaimana banyaknya pilihan dan paparan kehidupan orang lain dapat membuat seseorang merasa harus menjadi segalanya sekaligus.
Tanpa disadari, keinginan untuk terus berkembang bisa berubah menjadi tekanan untuk memenuhi standar yang sebenarnya bukan milik kita. Artikel ini mengajak pembaca berhenti membandingkan diri dan kembali mendengarkan keinginan pribadi.
Sebab, merasa cukup bukan berarti berhenti bermimpi. Kita hanya perlu memahami bahwa tidak semua hal harus dimiliki agar hidup terasa berarti.
3. Your Job Doesn't Owe You Fulfillment - Jenae Green
Merasa salah memilih pekerjaan, tetapi belum berani resign karena khawatir soal keuangan? Situasi ini cukup dekat dengan pengalaman banyak orang yang sedang membangun karier.
Melalui Your Job Doesn't Owe You Fulfillment, Jenae Green membagikan perspektif tentang menghadapi pekerjaan yang tidak sepenuhnya sesuai dengan harapan. Alih-alih terus merasa terjebak, seseorang bisa mulai menyiapkan langkah berikutnya secara realistis.
Misalnya, memantau pemasukan untuk membangun tabungan, menyusun portofolio, hingga mempersiapkan peluang kerja sebagai freelancer.
Pesan utamanya, pekerjaan tidak selalu harus menjadi passion terbesar dalam hidup. Dalam kondisi tertentu, pekerjaan juga bisa menjadi batu loncatan untuk mencapai tujuan lain.
4. Why Your Brain Resists Change: The Biology Behind Comfort Zones - Neuroscience & Wellness
Mengapa perubahan terasa menakutkan, bahkan ketika kita tahu bahwa perubahan tersebut mungkin membawa kehidupan ke arah yang lebih baik?
Artikel ini membahas kecenderungan otak memilih sesuatu yang familiar karena terasa lebih aman dibandingkan menghadapi ketidakpastian. Itulah salah satu alasan mengapa keluar dari zona nyaman sering kali terasa sulit.
Namun, rasa takut terhadap hal baru tidak otomatis berarti keputusan yang diambil salah. Kita bisa mulai membangun keberanian melalui langkah-langkah kecil, mencoba pengalaman baru, dan belajar dari prosesnya.
Daripada menunggu sampai merasa benar-benar siap, terkadang hal yang dibutuhkan adalah keberanian untuk memulai.
5. You Don't Spend Enough Time Getting to Know Yourself, You'll End Up Absorbing Everyone Else's Definition of You - Letters from Rosie
Pernah mengubah sikap, menyembunyikan pendapat, atau mengiyakan sesuatu hanya supaya diterima orang lain? Kebiasaan tersebut bisa membuat kita terlalu sibuk memenuhi ekspektasi hingga lupa memahami keinginan sendiri.
Tulisan dari Letters from Rosie membahas pentingnya mengenal diri sendiri agar kita tidak terus-menerus hidup berdasarkan definisi orang lain.
Belajar menetapkan batasan memang tidak selalu mudah. Ada kemungkinan sebagian orang tidak menyukai perubahan kita ketika mulai berani berkata tidak atau mengambil keputusan yang berbeda dari harapan mereka.
Namun, kehilangan penerimaan dari sebagian orang bukan berarti kita harus kembali mengabaikan kebutuhan sendiri. Mengenal diri, memahami nilai yang diyakini, dan tidak selalu bergantung pada validasi orang lain merupakan bagian penting dari proses bertumbuh.
Bukan Sekadar Membaca, Tapi Belajar Memahami Diri
Kelima artikel tersebut membawa tema yang berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama, usia 20an bukan perlombaan untuk menjadi sempurna secepat mungkin.
Ada banyak hal yang perlu dipelajari, mulai dari menerima ketidakpastian, menghadapi tekanan sosial, membangun karier, hingga memahami identitas diri. Tidak semua pertanyaan harus langsung memiliki jawaban, dan tidak setiap keputusan harus menyenangkan semua orang.
Jadi, kalau Cantiks sedang merasa bingung menjalani usia 20an, mungkin ini saatnya memberi ruang untuk membaca dan berefleksi. Sebab, terkadang kita tidak membutuhkan jawaban instan untuk semua persoalan, melainkan perspektif baru untuk memahami perjalanan hidup sendiri.
- Substack
- rekomendasi artikel substack
Redaktur: Alfina Febriyana
Penulis: Alfina Febriyana
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.