Menkes Budi Gunadi Sadikin Ingatkan Bahaya Kol Goreng, Ini 6 Hal yang Perlu Diketahui

Ket. Menkes Budi Gunadi Sadikin Ingatkan Bahaya Kol Goreng, Ini 6 Hal yang Perlu Diketahui

Doc: Instagram Menkes

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Kol goreng menjadi pelengkap favorit saat menyantap hidangan penyetan. Teksturnya yang renyah dan rasanya yang gurih membuat sayuran ini digemari banyak orang.

Namun, cara pengolahan dan penggunaan minyak secara berulang dapat memengaruhi kualitas gizi serta meningkatkan risiko kesehatan.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengingatkan masyarakat untuk mengurangi konsumsi kol goreng, terutama jika dimasak menggunakan minyak jelantah. Melalui video di akun Instagram pribadinya, Budi menyoroti bahaya penggunaan minyak yang dipanaskan berulang kali.

"Makan kol goreng seperti ini setiap hari, gua jamin elo akan bisa kena kanker lebih cepat. Tapi kan makan penyetan enggak pakai kol goreng kurang afdol enggak sih? Pantes aja elo masih muda tapi kolesterol lu udah selangit," kata Budi, dikutip Sabtu (17/10/2026).

Menurut Budi, kol segar merupakan sayuran rendah kalori yang mengandung berbagai nutrisi bermanfaat. Dalam 100 gram kol segar, terdapat sekitar 24 kalori.

“Ini kol 100 gram cuma 24 kalori. Aslinya sayurnya kan kayak gini, udah murah, sehat lagi. Tapi kalau digoreng kayak begini, kol goreng ini digorengnya pakai apa? Pakai minyak jelatah! Minyaknya udah hitam, butek lagi, dipakainya berulang-ulang,” ujar Budi.

Lantas, mengapa kol goreng perlu dibatasi? Berikut enam hal yang perlu diketahui mengenai kandungan dan risiko kesehatannya.

1. Minyak Goreng Berulang Kali Menghasilkan Senyawa Hasil Oksidasi

Minyak yang dipanaskan berulang kali, terutama pada suhu tinggi, dapat mengalami oksidasi dan menghasilkan senyawa hasil degradasi yang berpotensi merugikan kesehatan.

Risikonya bergantung pada jenis minyak, suhu pemanasan, durasi penggunaan, dan kondisi minyak. Minyak yang berubah warna menjadi gelap, berbau tidak sedap, atau tampak keruh sebaiknya tidak digunakan kembali.

2. Kandungan Kalori Bisa Meningkat

Kol segar mengandung sekitar 24 kalori per 100 gram. Namun, proses penggorengan dapat meningkatkan jumlah kalori karena sebagian minyak terserap ke dalam makanan.

Besarnya penambahan kalori bergantung pada jumlah minyak yang terserap dan metode penggorengan. Jika dikonsumsi berlebihan, tambahan kalori tersebut dapat menyebabkan asupan energi harian melampaui kebutuhan tubuh.

3. Berpotensi Menambah Asupan Lemak

Kol secara alami mengandung sedikit lemak. Namun, kandungan lemaknya meningkat setelah digoreng karena menyerap minyak.

Konsumsi makanan tinggi lemak secara berlebihan dapat membuat pola makan kurang seimbang. Dampaknya terhadap kolesterol bergantung pada jenis dan jumlah lemak yang dikonsumsi, pola makan, serta kondisi kesehatan seseorang.

Kol goreng tidak otomatis menyebabkan kolesterol tinggi. Faktor lain, seperti konsumsi lemak jenuh, riwayat keluarga, aktivitas fisik, dan kondisi metabolisme, juga memengaruhi kadar kolesterol darah.

4. Kol Mengandung Serat dan Vitamin yang Bermanfaat

Kol segar mengandung serat, vitamin C, vitamin K, folat, serta senyawa tanaman yang bermanfaat bagi tubuh.

Serat membantu menjaga fungsi pencernaan, vitamin C berperan dalam pembentukan kolagen dan mendukung sistem kekebalan tubuh, sedangkan vitamin K penting untuk pembekuan darah dan kesehatan tulang.

Kol juga mengandung glukosinolat yang dapat diuraikan menjadi senyawa aktif, termasuk isothiocyanate, yang banyak diteliti terkait potensi manfaatnya bagi kesehatan.

Kandungan nutrisi kol dapat berubah selama proses pengolahan, bergantung pada suhu, durasi, dan metode memasak. Penggorengan tidak serta-merta menghilangkan seluruh nutrisi atau menjadikan kol sebagai makanan penyebab kanker.

5. Benarkah Kol Goreng Bisa Memicu Kanker?

Budi menyoroti potensi manfaat kol segar yang berkaitan dengan senyawa antikanker.

“Padahal kol yang normal ini punya senyawa antikanker. Kalau dia digoreng, malah jadi pemicu kanker. Jadi, kalau kalian pengin makan yang murah, enak, dan sehat, ambil sayurnya yang mentah aja sebagai lalapan,” ucap Budi.

Meski demikian, hubungan antara kol goreng dan kanker perlu dipahami secara proporsional. Tidak tepat menyimpulkan bahwa konsumsi kol goreng secara langsung pasti menyebabkan kanker.

Risiko kesehatan dipengaruhi berbagai faktor, termasuk pola makan dan paparan senyawa yang terbentuk selama proses memasak. Penggunaan minyak berulang dapat menghasilkan produk oksidasi yang berpotensi membahayakan kesehatan, tetapi risikonya bergantung pada tingkat paparan dan faktor lainnya.

Kol segar tetap menjadi bagian dari pola makan sehat. Konsumsi sayuran secara rutin dianjurkan dengan memperhatikan kebersihan, variasi makanan, dan metode pengolahan.

6. Lebih Baik Mengonsumsi Kol Segar sebagai Lalapan

Untuk mendapatkan manfaat kol tanpa tambahan kalori berlebih dari minyak, masyarakat dapat mengonsumsinya sebagai lalapan. Kol perlu dicuci menggunakan air mengalir sebelum dimakan untuk membantu menghilangkan kotoran dan mengurangi kontaminasi permukaan.

Selain dikonsumsi mentah, kol dapat dikukus atau ditumis menggunakan sedikit minyak. Cara ini menjadi alternatif untuk membatasi penggunaan minyak, terutama minyak yang telah dipakai berulang kali.

Melalui unggahannya, Budi mengajak masyarakat, khususnya anak muda, untuk memperhatikan kebiasaan makan sehari-hari.

“Mulai sekarang, ubah kebiasaan buruk ini. Kalau mau makan enak, murah, dan tetap sehat, biasakan makan kolnya dalam keadaan mentah saja sebagai lalapan. Bagikan info ini dan tag teman nongkrong kalian biar kita semua bisa lepas dari kutukan kol goreng!” ucap Budi.

Pada akhirnya, menjaga kesehatan tidak hanya bergantung pada satu jenis makanan, tetapi juga pola makan secara keseluruhan.

Membatasi makanan yang digoreng dengan minyak berulang kali, memperbanyak konsumsi sayuran, dan menerapkan pola makan seimbang merupakan langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan tubuh.

Kirim
Tulisan Terkait
PILIHAN