Kenali Penyebab Keguguran dan Faktor Risiko yang Perlu Diwaspadai Ibu Hamil

Ket. Kenali Penyebab Keguguran dan Faktor Risiko yang Perlu Diwaspadai Ibu Hamil

Doc: Istimewa

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Keguguran merupakan kondisi ketika kehamilan berakhir secara spontan sebelum janin mampu bertahan hidup di luar rahim.

Kondisi ini umumnya terjadi saat usia kehamilan kurang dari 20 minggu dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari perkembangan janin hingga kondisi kesehatan ibu.

Meski sering menimbulkan rasa sedih dan kehilangan, penting untuk dipahami bahwa banyak kasus keguguran terjadi akibat penyebab yang berada di luar kendali ibu.

Sebagian besar keguguran juga bukan disebabkan oleh aktivitas sehari-hari seperti berjalan, bekerja, maupun berolahraga ringan.

Memahami penyebab dan faktor risiko keguguran dapat membantu meningkatkan kewaspadaan sekaligus memberikan gambaran mengenai kondisi yang perlu dipantau selama masa kehamilan.

Sekitar 50 persen dari seluruh keguguran pada awal kehamilan diyakini berkaitan dengan kelainan genetik yang terjadi secara acak pada embrio atau janin.

Kelainan tersebut dapat menyebabkan perkembangan janin tidak berjalan sebagaimana mestinya, sehingga kehamilan tidak dapat dipertahankan. Selain faktor genetik, terdapat berbagai kondisi medis dan faktor lain yang diketahui dapat meningkatkan risiko terjadinya keguguran.

Penyebab dan Faktor Risiko Keguguran

Dilansir dari Parents, berikut sejumlah kondisi yang dapat meningkatkan risiko keguguran:

  • Bentuk rahim yang tidak normal, sehingga dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin.

  • Amniosentesis, meskipun risikonya relatif kecil, tetap dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya keguguran pada sebagian kasus.

  • Penyakit jantung bawaan.

  • Paparan bahaya lingkungan atau tempat kerja, seperti tingkat radiasi yang tinggi maupun zat-zat beracun.

  • Ketidakseimbangan hormon yang dapat memengaruhi proses kehamilan.

  • Gangguan pada sistem kekebalan tubuh yang dapat mengganggu perkembangan kehamilan.

  • Implantasi sel telur yang telah dibuahi tidak terjadi secara optimal pada lapisan rahim.

  • Serviks yang tidak kompeten, yaitu kondisi ketika leher rahim membuka terlalu dini sebelum usia kehamilan cukup.

  • Faktor gaya hidup, seperti merokok, mengonsumsi alkohol, dan menggunakan narkoba.

  • Usia orang tua yang dapat memengaruhi kualitas sel telur maupun sperma.

  • Riwayat keguguran sebelumnya.

  • Penyakit tiroid.

  • Diabetes yang tidak terkontrol.

Meski memiliki satu atau beberapa faktor risiko tersebut, bukan berarti keguguran pasti akan terjadi. Banyak kehamilan tetap dapat berlangsung dengan baik melalui pemantauan rutin serta penanganan medis yang sesuai.

Karena itu, pemeriksaan kehamilan secara berkala menjadi langkah penting untuk memantau kondisi ibu dan janin. Pemeriksaan rutin juga membantu mendeteksi kemungkinan adanya masalah sejak dini sehingga dapat segera mendapatkan penanganan yang tepat.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN