Mitchell Baker Miliki Tinggi 196 Cm, Benarkah Tinggi Badan Anak Turun dari Ayah atau Ibu?

Ket. Mitchell Baker Miliki Tinggi 196 Cm, Benarkah Tinggi Badan Anak Turun dari Ayah atau Ibu?

Doc: Istimewa

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Penyerang muda Timnas Indonesia, Mitchell Baker, mencuri perhatian bukan hanya karena penampilannya di lapangan, tetapi juga karena posturnya yang mencapai 196 sentimeter.

Tinggi badan Baker kemudian memunculkan pertanyaan yang sering diajukan banyak orang tua, yakni apakah tinggi badan anak lebih banyak dipengaruhi oleh ayah, ibu, atau faktor lainnya.

Bisakah Tinggi Badan Anak Diprediksi?

Melansir laman Medicover Genetics, tidak ada metode yang dapat memastikan tinggi badan anak saat dewasa secara akurat. Namun, sejumlah rumus dapat digunakan untuk memperkirakan tinggi badan berdasarkan tinggi badan kedua orang tua.

Salah satu metode yang paling umum adalah menghitung tinggi badan rata-rata orang tua (mid-parental height). Caranya dengan menjumlahkan tinggi badan ayah dan ibu, kemudian:

Perhitungan tersebut hanya memberikan perkiraan. Sebagian besar anak akan memiliki tinggi badan dewasa dalam kisaran sekitar 5 cm dari hasil prediksi tersebut.

Metode lain yang sering digunakan adalah menggandakan tinggi badan anak laki-laki saat berusia dua tahun atau tinggi badan anak perempuan pada usia sekitar 18 bulan untuk memperkirakan tinggi badan saat dewasa.

Genetika Menjadi Faktor Utama

Penelitian menunjukkan sekitar 80 persen tinggi badan seseorang dipengaruhi oleh faktor genetik yang diwariskan dari orang tuanya.

Meski demikian, tinggi badan tidak ditentukan oleh satu gen saja. Ribuan variasi gen bekerja secara bersamaan dalam memengaruhi pertumbuhan seseorang.

Karena sifatnya poligenik atau dipengaruhi banyak gen, saudara kandung dalam satu keluarga pun dapat memiliki tinggi badan berbeda meski berasal dari orang tua yang sama.

Para ilmuwan telah mengidentifikasi lebih dari 12.000 variasi genetik (single nucleotide polymorphisms/SNP) yang berkaitan dengan tinggi badan. Variasi tersebut berperan dalam proses pertumbuhan tulang dan menjelaskan sekitar 10–40 persen variasi tinggi badan, tergantung latar belakang genetik suatu populasi.

Faktor Lingkungan Juga Berpengaruh

Selain genetik, pertumbuhan tinggi badan juga dipengaruhi berbagai faktor lingkungan. Asupan gizi sejak dalam kandungan hingga masa pertumbuhan menjadi salah satu faktor penting.

Anak yang memperoleh nutrisi seimbang, rutin melakukan aktivitas fisik, serta mendapatkan layanan kesehatan yang baik umumnya memiliki peluang lebih besar mencapai potensi tinggi badan optimal dibandingkan anak yang mengalami kekurangan gizi atau sering menderita penyakit infeksi.

Faktor sosial ekonomi, seperti akses terhadap makanan bergizi, pendidikan, dan pelayanan kesehatan, juga diketahui memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan.

Kondisi Medis Dapat Memengaruhi Tinggi Badan

Beberapa kelainan bawaan dapat menyebabkan tinggi badan seseorang berada jauh di bawah atau di atas rata-rata.

Misalnya, achondroplasia merupakan kelainan genetik yang menyebabkan gangguan pertumbuhan tulang sehingga penderitanya memiliki tubuh pendek. Sementara itu, sindrom Turner juga dapat menghambat pertumbuhan pada perempuan.

Sebaliknya, kondisi seperti sindrom Marfan, sindrom Klinefelter, maupun gigantisme dapat menyebabkan seseorang memiliki postur lebih tinggi dari rata-rata akibat faktor genetik atau gangguan hormon.

Peran Hormon dalam Pertumbuhan

Hormon memiliki peranan penting dalam proses pertumbuhan, terutama ketika memasuki masa pubertas. Hormon pertumbuhan, hormon tiroid, testosteron, dan estrogen bekerja sama dalam mengatur perkembangan tulang.

Gangguan pada hormon tersebut dapat menyebabkan pertumbuhan terhambat atau justru berlebihan. Misalnya, hipotiroidisme maupun gangguan pada kelenjar pituitari dapat membuat tinggi badan anak berada di bawah potensi genetiknya.

Mengapa Laki-Laki Umumnya Lebih Tinggi?

Secara global, laki-laki memiliki tinggi badan rata-rata sekitar 12 sentimeter lebih tinggi dibandingkan perempuan.

Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh ekspresi gen yang berbeda antara laki-laki dan perempuan, meski keduanya memiliki sebagian besar materi genetik yang sama.

Penelitian terbaru memperkirakan sekitar 12 persen perbedaan tinggi badan antara laki-laki dan perempuan dipengaruhi oleh perbedaan ekspresi gen berdasarkan jenis kelamin.

Pada akhirnya, tinggi badan anak tidak hanya diwariskan dari ayah atau ibu saja, melainkan merupakan hasil kombinasi faktor genetik dari kedua orang tua.

Meski genetika berkontribusi sekitar 80 persen terhadap tinggi badan, faktor lain seperti gizi, kesehatan, lingkungan, hormon, dan kondisi medis juga berperan penting dalam menentukan tinggi badan seseorang saat dewasa.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN