Dari Luka Jadi Mahakarya, Desainer Prancis Sulap Trauma Masa Kecil Jadi Koleksi Fashion yang Mengguncang JF3 2026
JAKARTA, KUCANTIK.COM - Fashion kerap dipandang hanya sebagai urusan tren, gaya, dan estetika. Namun, di tangan para desainer, busana bisa menjadi bahasa yang jauh lebih dalam. Setiap potongan kain, siluet, hingga detail jahitan mampu menyimpan kisah, emosi, bahkan luka yang selama bertahun-tahun terpendam.
Hal tersebut yang ditunjukkan desainer muda asal Prancis, Aurelien Voegelin, dalam penampilannya di hari pertama BRI JF3 Fashion Festival 2026. Alih-alih sekadar memamerkan koleksi busana, lulusan Ecole Duperre Paris tersebut menghadirkan karya yang menjadi bentuk rekonsiliasi dengan masa lalu yang pernah menyakitkan.
Aurelien tumbuh di lingkungan keluarga petani konservatif di pedesaan Prancis Selatan. Masa kecilnya tidak dipenuhi kenangan indah. Ia mengaku pernah mengalami penolakan dan perundungan, pengalaman yang membekas hingga dewasa. Setelah bertahun-tahun merantau ke Paris demi mengejar impian sebagai perancang mode, ia akhirnya memilih menghadapi luka tersebut melalui karya yang sangat personal.
"It's very deep and personal to me," ujar Aurelien sebelum peragaan dimulai.
Koleksi yang diberi judul 3088 menjadi simbol perjalanan emosional tersebut. Nama itu diambil dari nomor identitas sapi peliharaannya, Magali, yang menjadi pengingat akan akar kehidupannya di pedesaan. Dari angka sederhana itu lahir enam tampilan busana yang sarat makna.
Peragaan dibuka dengan jaket kulit cokelat berpotongan asimetris, lengkap dengan kerah berukuran besar menyerupai tapal kuda. Busana tersebut dipadukan dengan celana formal hitam, kaus putih, dan loafers sehingga menciptakan perpaduan unik antara nuansa pedesaan (rustic) dan teknik tailoring modern.
Eksplorasi Aurelien tidak berhenti pada siluet. Ia juga menghadirkan tas dan sepatu berukuran besar, termasuk alas kaki berbentuk telapak sapi yang menjadi salah satu pusat perhatian. Material kulit diberi efek kusam layaknya benda-benda vintage yang telah dimakan usia, memperkuat kesan nostalgia sekaligus perjalanan waktu.
Secara estetika, karya Aurelien memadukan karakter avant-garde ala Rick Owens dengan sentuhan eksperimental khas Viktor & Rolf. Namun, identitas desainnya tetap terasa orisinal karena berangkat dari pengalaman hidup yang nyata.
Yang menarik, koleksi ini bukan hasil kreativitas instan. Aurelien menghabiskan hampir tiga tahun melakukan riset lapangan. Ia mempelajari arsip foto keluarganya, mendokumentasikan kehidupan para petani, hingga mengamati bagaimana tubuh, pakaian, dan aktivitas sehari-hari membentuk identitas masyarakat pedesaan.
Dari proses tersebut, ia menyadari kehidupan petani tidak bisa dipandang sebagai kelompok yang seragam. Kompleksitas itulah yang kemudian diterjemahkannya menjadi koleksi busana siap pakai yang berfungsi sebagai otobiografi visual, bukan sekadar romantisasi kehidupan desa.
"Ini cara saya terkoneksi kembali dengan asal saya dengan mengubah penolakan menjadi rekonsiliasi dalam bentuk fashion yang kontemporer," ungkapnya. Beragam teknik seperti cording, braiding, dan macramé turut diaplikasikan untuk memperkaya detail koleksi.
Aurélien menjadi satu dari tiga desainer lulusan Ecole Duperre Paris yang tampil dalam pertunjukan bertajuk L'Entre-Deux: Interwoven Identities bersama Maurine Willebien dan Paul Vidal.
Pada kesempatan yang sama, panggung juga menjadi ajang pembuktian bagi talenta Indonesia melalui para finalis Future Fashion Designer (FFD), kompetisi mode hasil kolaborasi JF3 dan Susan Budihardjo Fashion Forward Institute.
Salah satu sorotan datang dari Arron Bryan, pemenang FFD, yang mengusung koleksi "Opposite: The Fallen Virtue". Terinspirasi dari karakter Angsa Putih dan Angsa Hitam dalam Swan Lake serta Black Swan, Arron mengeksplorasi tema dualitas, transformasi, dan kontras antara sisi baik dan buruk manusia.
Meski memiliki pendekatan berbeda, karya Arron dan Aurelien sama-sama menunjukkan fashion mampu menjadi medium untuk menyampaikan gagasan yang kuat sekaligus menyentuh sisi emosional.
Peragaan ini sekaligus membuktikan desainer muda Indonesia mampu berdiri sejajar dengan talenta internasional, baik dari sisi konsep maupun kualitas eksekusi. Kolaborasi JF3 dengan École Duperré Paris pun menjadi bukti pendidikan mode dan pertukaran kreativitas dapat melahirkan generasi desainer yang siap bersaing di panggung global.
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk Dari Luka Jadi Mahakarya, Desainer Prancis Sulap Trauma Masa Kecil Jadi Koleksi Fashion yang Mengguncang JF3 2026 .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!