Mengenal Permissive Parenting, Pola Asuh yang Berisiko Membentuk Anak Egosentris

Ket. Foto ilustrasi

Doc: Magnific.com

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Tidak sedikit orang tua yang menganggap mengabulkan setiap keinginan anak adalah bentuk kasih sayang.

Padahal, kebiasaan tersebut justru dapat menjadi bagian dari pola asuh memanjakan atau indulgent/permissive parenting.

Dalam pola asuh ini, orang tua cenderung memberikan kebebasan tanpa batas, menghindari penolakan, dan jarang menerapkan aturan yang konsisten.

Sekilas, anak memang terlihat lebih bahagia karena hampir semua keinginannya terpenuhi.

Namun, para ahli perkembangan anak menilai bahwa pola asuh seperti ini dapat memberikan dampak negatif terhadap pembentukan karakter, kesehatan mental, hingga kemampuan anak menghadapi kehidupan di masa depan.

Gangguan Perkembangan Emosi dan Karakter

Salah satu dampak yang paling sering muncul adalah gangguan pada perkembangan karakter dan emosi. Anak yang selalu mendapatkan apa yang diinginkan berpotensi tumbuh menjadi pribadi yang egosentris.

Mereka terbiasa merasa menjadi pusat perhatian dan menganggap keinginannya harus selalu dipenuhi. Akibatnya, anak juga dapat mengalami kesulitan memahami perasaan orang lain sehingga empatinya berkembang lebih lambat.

Rentang Frustrasi

Selain itu, anak menjadi memiliki toleransi yang rendah terhadap rasa frustrasi. Saat menghadapi penolakan atau kegagalan, mereka cenderung mudah marah, menangis, atau mengalami tantrum.

Hal ini terjadi karena mereka belum terbiasa menerima kenyataan bahwa tidak semua keinginan bisa diwujudkan.

Dampak negatif juga terlihat dalam kehidupan sosial. Anak yang dibesarkan dengan pola asuh terlalu memanjakan sering kali kesulitan menjalin hubungan dengan teman sebaya.

Mereka terbiasa memaksakan kehendak dan ingin selalu menjadi pihak yang diutamakan. Sikap tersebut dapat memicu konflik dalam pergaulan dan membuat anak dijauhi oleh teman-temannya.

Sulit Mematuhi Aturan

Di lingkungan sekolah, tantangan juga semakin besar. Anak mungkin kesulitan mematuhi aturan kelas atau menerima arahan dari guru.

Dalam beberapa kasus, keinginan untuk selalu mendominasi bahkan dapat meningkatkan risiko anak menjadi pelaku perundungan atau bullying terhadap teman yang dianggap lebih lemah.

Dampak Jangka Panjang

Dampak jangka panjang dari pola asuh memanjakan tidak kalah serius. Anak berisiko tumbuh menjadi pribadi yang kurang mandiri karena terbiasa bergantung pada orang tua untuk menyelesaikan berbagai persoalan.

Mereka juga dapat mengalami entitlement syndrome, yaitu keyakinan bahwa dirinya berhak memperoleh apa pun tanpa perlu berusaha atau bekerja keras.

Ketika memasuki dunia yang memiliki banyak aturan dan persaingan, kondisi tersebut dapat memicu kecemasan. Anak akan merasa bingung saat menghadapi kenyataan bahwa keinginannya tidak selalu dipenuhi.

Akibatnya, kemampuan untuk bertahan menghadapi tekanan atau resiliensi menjadi rendah. Mereka lebih mudah menyerah ketika mengalami kegagalan dibandingkan anak yang sejak kecil dibiasakan menghadapi tantangan secara bertahap.

Bukan berarti orang tua harus selalu bersikap keras atau menolak semua permintaan anak. Kunci pola asuh yang sehat adalah memberikan kasih sayang yang disertai batasan yang jelas.

Orang tua perlu mengajarkan bahwa setiap keinginan memiliki konsekuensi, tidak semua permintaan bisa dipenuhi, dan keberhasilan membutuhkan usaha.*

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN