10 Negara dengan Jam Kerja Terpendek di Dunia yang Bikin Pekerja Lebih Bahagia, Indonesia Masuk Daftar?

Ket. Ilustrasi wanita sedang bekerja.

Doc: Istimewa

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Bekerja selama delapan jam sehari atau sekitar 40 jam dalam seminggu masih menjadi standar di banyak negara. Sistem tersebut dianggap mampu menjaga produktivitas sekaligus memberikan waktu istirahat yang cukup bagi para pekerja. Namun, ternyata tidak semua negara menerapkan pola kerja seperti itu.

Di sejumlah negara, rata-rata jam kerja jauh lebih singkat. Menariknya, masyarakat tetap mampu menjalankan roda ekonomi sekaligus menikmati kualitas hidup yang lebih baik. Kebijakan ketenagakerjaan yang fleksibel, budaya kerja yang sehat, hingga kuatnya nilai kekeluargaan membuat negara-negara ini dikenal memiliki work-life balance yang patut dicontoh.

Tak heran jika tingkat stres dan burnout di beberapa negara tersebut relatif lebih rendah dibandingkan negara yang memiliki jam kerja panjang. Berikut KUCANTIK.COM daftar 10 negara dengan jam kerja terpendek di dunia.

1. Vanuatu

Vanuatu menjadi negara dengan rata-rata jam kerja paling singkat di dunia, yakni sekitar 24,7 jam per minggu. Hanya sebagian kecil pekerja yang bekerja lebih dari 49 jam dalam sepekan. Sebagai negara kepulauan di Pasifik Selatan, masyarakat Vanuatu lebih mengutamakan kebersamaan dengan keluarga, aktivitas sosial, dan kehidupan komunitas dibandingkan mengejar jam kerja panjang.

2. Kiribati

Kiribati memiliki rata-rata jam kerja sekitar 27,3 jam per minggu. Sebagian besar penduduk bekerja di sektor perikanan, perdagangan lokal, dan usaha kecil yang menawarkan waktu kerja lebih fleksibel. Budaya hidup yang santai membuat masyarakat memiliki lebih banyak waktu untuk keluarga sekaligus menjaga kesehatan mental.

3. Mikronesia

Federasi Mikronesia mencatat rata-rata jam kerja 30,4 jam per minggu. Pekerjaan formal berjalan berdampingan dengan aktivitas sosial masyarakat, sehingga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi tetap terjaga.

4. Rwanda

Dengan rata-rata 30,4 jam kerja per minggu, Rwanda menjadi salah satu negara Afrika dengan ritme kerja yang relatif santai. Sebagian besar masyarakat bekerja di sektor pertanian dan usaha mikro yang memungkinkan jam kerja lebih fleksibel sesuai kebutuhan.

5. Somalia

Somalia memiliki rata-rata jam kerja sekitar 31,4 jam per minggu. Meski menghadapi tantangan ekonomi, banyak pekerja di sektor informal memiliki kebebasan mengatur waktu kerja sehingga masih bisa meluangkan waktu bersama keluarga.

6. Belanda

Belanda menjadi satu-satunya negara Eropa Barat yang masuk dalam daftar ini dengan rata-rata jam kerja sekitar 31,6 jam per minggu. Banyak perusahaan menerapkan sistem kerja paruh waktu, kerja hibrida, hingga empat hari kerja dalam seminggu. Model ini membuat pekerja memiliki waktu lebih banyak untuk keluarga, olahraga, dan menikmati kehidupan di luar kantor.

7. Irak

Irak mencatat rata-rata jam kerja 31,7 jam setiap minggu. Sebagian besar masyarakat bekerja dengan pola yang lebih fleksibel sehingga masih memiliki waktu untuk menjalani kehidupan pribadi meski menghadapi berbagai tantangan sosial dan ekonomi.

8. Kepulauan Wallis dan Futuna

Wilayah kepulauan di Pasifik Selatan ini memiliki rata-rata jam kerja sekitar 31,8 jam per minggu. Dengan jumlah penduduk yang relatif sedikit, aktivitas ekonomi berlangsung tanpa tekanan jam kerja yang tinggi sehingga masyarakat dapat menikmati waktu luang lebih banyak.

9. Ethiopia

Di Ethiopia, rata-rata masyarakat bekerja sekitar 31,9 jam per minggu. Dominasi sektor pertanian dan usaha kecil membuat ritme kerja lebih fleksibel dibandingkan negara dengan industri manufaktur yang padat.

10. Kanada

Kanada melengkapi daftar ini dengan rata-rata jam kerja sekitar 32,1 jam per minggu. Sebagai salah satu negara maju, Kanada dikenal aktif menerapkan kebijakan kerja yang mendukung keseimbangan hidup. Sistem kerja fleksibel dan hybrid semakin banyak diterapkan demi meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kesehatan mental para pekerja.

Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Sayang sekali Indonesia tidak masuk dalam daftar ini. Umumnya, jam kerja standar di Indonesia diatur maksimal 40 jam per minggu. Berdasarkan UU No. 13 Tahun 2003 dan UU Cipta Kerja, perusahaan menerapkan dua pola, 8 jam/hari (untuk 5 hari kerja) atau 7 jam/hari (untuk 6 hari kerja). 

Mengapa Jam Kerja Pendek Tidak Selalu Berarti Kurang Produktif?

Banyak penelitian menunjukkan jam kerja yang lebih singkat justru dapat meningkatkan fokus, kreativitas, dan produktivitas. Ketika pekerja memiliki waktu istirahat yang cukup, risiko stres kronis dan burnout juga menurun.

Selain itu, waktu luang memberi kesempatan untuk berolahraga, berkumpul bersama keluarga, mengembangkan hobi, hingga meningkatkan kesehatan mental. Faktor-faktor tersebut pada akhirnya ikut berkontribusi terhadap kualitas kerja yang lebih baik.

Daftar negara di atas membuktikan bahwa produktivitas tidak selalu ditentukan oleh lamanya seseorang bekerja. Dengan kebijakan yang tepat dan budaya kerja yang sehat, keseimbangan antara karier dan kehidupan pribadi dapat tercapai tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN