Perang Timur Tengah Picu Krisis Baru? Rupiah Melemah, Ekonomi Indonesia Terancam
JAKARTA, KUCANTIK.COM – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan hebat setelah konflik geopolitik di Timur Tengah memicu gejolak baru di pasar keuangan global. Pada perdagangan Kamis (9/7/2026), rupiah melemah 52 poin atau sekitar 0,29 persen ke level Rp18.066 per dolar AS, turun dari posisi penutupan sebelumnya di Rp18.014 per dolar AS.
Pelemahan ini menjadi sinyal bahwa gejolak internasional mulai memberikan dampak nyata terhadap stabilitas ekonomi Indonesia. Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, investor berbondong-bondong mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, terutama dolar Amerika Serikat.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan pelemahan rupiah tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga dialami mayoritas mata uang Asia. Menurutnya, meningkatnya konflik di Timur Tengah membuat pelaku pasar menghindari aset berisiko.
“Rupiah melemah bersama mayoritas mata uang Asia seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menekan sentimen risiko di kawasan,” ujar Josua.
Konflik AS-Iran Picu Kekhawatiran Baru
Tekanan terhadap pasar semakin besar setelah Amerika Serikat melancarkan serangan militer terhadap Iran. Langkah tersebut memudarkan harapan akan terciptanya gencatan senjata dalam waktu dekat dan memicu kekhawatiran mengenai keamanan pasokan energi dunia.
Perhatian utama tertuju pada Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi urat nadi distribusi minyak global. Sebagian besar ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah melewati selat tersebut, sehingga setiap ancaman terhadap jalur ini langsung memengaruhi harga energi dunia.
Pelaku pasar khawatir konflik yang terus meluas dapat mengganggu pengiriman minyak mentah. Kekhawatiran itu pun mendorong harga minyak dunia melonjak tajam hanya dalam waktu singkat.
Harga Minyak Meroket, Beban Indonesia Bertambah
Harga minyak mentah dilaporkan menembus 75 dolar AS per barel, sementara minyak Brent melonjak sekitar 6 persen hingga mencapai 78 dolar AS per barel.
Kenaikan harga minyak menjadi tantangan serius bagi negara berkembang seperti Indonesia yang masih mengandalkan impor energi dalam jumlah besar. Jika harga minyak bertahan tinggi, biaya impor berpotensi meningkat dan berdampak pada inflasi, subsidi energi, hingga neraca perdagangan.
Selain itu, lonjakan harga energi juga dapat menekan daya beli masyarakat apabila berimbas pada kenaikan harga bahan bakar maupun biaya distribusi barang dan jasa.
Kebijakan The Fed Tambah Tekanan bagi Rupiah
Di saat yang sama, pasar juga mencermati risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) periode Juni 2026. Dokumen tersebut menunjukkan pejabat bank sentral Amerika Serikat masih menilai tekanan inflasi belum sepenuhnya mereda.
Hal itu memperkuat ekspektasi suku bunga acuan AS akan dipertahankan pada level tinggi lebih lama. Kondisi tersebut membuat dolar AS semakin menarik bagi investor global.
Akibatnya, arus modal cenderung mengalir ke Amerika Serikat sehingga mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, kembali mengalami tekanan.
Para analis memperkirakan rupiah masih bergerak di kisaran Rp17.975 hingga Rp18.125 per dolar AS dalam jangka pendek, bergantung pada perkembangan konflik geopolitik dan kebijakan moneter global.
Trump dan NATO Tambah Ketidakpastian Pasar
Situasi semakin memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan gencatan senjata dengan Iran sudah berakhir.
Di sisi lain, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengungkapkan bahwa sekitar 5.000 pesawat telah lepas landas dari berbagai bandara di Eropa untuk mendukung operasi militer Amerika Serikat. Ia bahkan menyebut Eropa sebagai "platform besar" bagi proyeksi kekuatan militer AS.
Pernyataan tersebut memicu spekulasi baru mengenai kemungkinan konflik yang semakin meluas dan keterlibatan negara-negara Barat dalam operasi militer di kawasan Timur Tengah.
Trump juga melontarkan kritik terhadap beberapa anggota NATO yang dinilai tidak memberikan dukungan penuh terhadap penggunaan pangkalan militer.
Operasi Militer AS Diperkirakan Berlangsung Lama
Seorang pejabat senior Amerika Serikat menyebut operasi militer terhadap Iran merupakan bentuk "hukuman, bukan respons proporsional."
Pernyataan tersebut menunjukkan Washington tidak hanya berupaya memberikan balasan sementara, tetapi ingin melemahkan kemampuan militer Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dalam menguasai kawasan strategis, khususnya di sekitar Selat Hormuz.
Serangan udara dilaporkan terus menyasar sejumlah titik penting seperti Bandar Abbas, Sirik, dan Pulau Qeshm.
Ekonomi Indonesia Berpotensi Menghadapi Tantangan Lebih Berat
Pasar keuangan global telah merespons cepat perkembangan tersebut. Saham-saham di Eropa mengalami pelemahan, harga minyak melonjak, sementara dolar AS semakin menguat.
Apabila konflik Timur Tengah terus meningkat dan mengganggu distribusi energi dunia, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih akan berlanjut.
Dampaknya tidak hanya dirasakan di pasar valuta asing, tetapi juga dapat merembet ke berbagai sektor ekonomi. Mulai dari kenaikan harga BBM, meningkatnya biaya impor, lonjakan inflasi, hingga melemahnya daya beli masyarakat.
Dengan kombinasi konflik geopolitik, lonjakan harga minyak, serta kebijakan moneter Amerika Serikat yang masih ketat, Indonesia menghadapi tantangan besar untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global yang semakin tinggi.
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk Perang Timur Tengah Picu Krisis Baru? Rupiah Melemah, Ekonomi Indonesia Terancam .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!