Anak Krakatau Berstatus Siaga, Apa Dampaknya Jika Gunung Itu Meletus?

Ket. Anak Krakatau Berstatus Siaga, Apa Dampaknya Jika Gunung Itu Meletus?

Doc: ANTARA

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Informasi yang menyebut Gunung Anak Krakatau meletus beredar luas di media sosial. Namun, kabar tersebut dipastikan tidak benar atau hoaks.

Faktanya, Gunung Anak Krakatau tidak mengalami letusan besar, melainkan status aktivitasnya dinaikkan menjadi Level III atau Siaga.

Meski begitu, peningkatan status tersebut tetap menjadi perhatian karena Anak Krakatau merupakan salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Lantas, apa yang akan terjadi jika Gunung Anak Krakatau benar-benar meletus?

Anak Krakatau dan Riwayat Aktivitasnya

Anak Krakatau merupakan gunung api aktif yang muncul di bekas kaldera letusan dahsyat Krakatau pada 1883 di Selat Sunda, di antara Pulau Jawa dan Sumatra. Gunung ini mulai muncul ke permukaan laut pada 1927–1929 dan terus tumbuh melalui erupsi berulang.

Letusan Krakatau pada 1883 menjadi salah satu bencana vulkanik paling mematikan dalam sejarah modern.

Letusan berkekuatan sekitar 200 megaton TNT itu menghancurkan dua pertiga pulau asli, memuntahkan 12–20 kilometer kubik material vulkanik, serta memicu tsunami setinggi hingga 40 meter yang menewaskan lebih dari 36.000 orang.

Dampaknya dirasakan hingga tingkat global, mulai dari penurunan suhu rata-rata Bumi sekitar 0,6 derajat Celsius hingga munculnya fenomena "Bulan Biru" akibat abu vulkanik di atmosfer.

Anak Krakatau kemudian lahir dari sisa letusan tersebut dan telah mengalami puluhan periode erupsi. Erupsi terbesar dalam beberapa tahun terakhir terjadi pada 22 Desember 2018 saat sisi barat daya gunung runtuh ke laut.

Peristiwa itu memicu tsunami vulkanik yang menewaskan 437 orang, melukai ribuan lainnya, serta merusak wilayah pesisir Banten dan Lampung Selatan.

Aktivitas Meningkat pada 2026

Pada awal Juli 2026, status Gunung Anak Krakatau dinaikkan menjadi Siaga (Level III) setelah terjadi erupsi yang memuntahkan abu setinggi sekitar 200 meter.

Pemantauan menunjukkan peningkatan gempa vulkanik dangkal, tremor, dan emisi gas. Sebelumnya, aktivitas erupsi pada 2021–2023 didominasi letusan tipe Strombolian dengan lontaran lava pijar dan abu hingga ratusan meter.

Dampak Jika Anak Krakatau Meletus

Jika Gunung Anak Krakatau meletus, terdapat beberapa potensi dampak yang perlu diwaspadai.

Pertama, letusan dapat memuntahkan abu vulkanik, batu apung, dan lava. Abu yang mencapai ribuan meter berpotensi mengganggu penerbangan, memicu hujan abu, serta berdampak pada sektor pertanian dan kesehatan masyarakat.

Kedua, ancaman terbesar adalah keruntuhan lereng (flank) yang dapat memicu tsunami vulkanik seperti pada 2018.

Model menunjukkan gelombang tsunami dapat mencapai 15–30 meter di pulau terdekat dan sekitar 1–3 meter di pesisir Jawa dan Sumatra dalam waktu 30–60 menit. Kawasan seperti Merak, Anyer, dan Bandar Lampung menjadi wilayah berisiko tinggi.

Selain itu, erupsi juga dapat memicu aliran piroklastik atau awan panas, lahar saat hujan deras, gempa vulkanik, hujan abu tebal, hingga gangguan terhadap pelayaran dan pariwisata di Selat Sunda. Pulau Rakata, Panjang, dan Sertung juga berpotensi terdampak langsung.

Dalam skenario letusan besar dengan skala VEI 5 atau lebih, aerosol vulkanik bahkan dapat mencapai stratosfer sehingga memicu pendinginan sementara dan perubahan cuaca global.

Namun, kemungkinan letusan sebesar Krakatau 1883 dalam waktu dekat dinilai masih rendah karena ukuran Anak Krakatau saat ini jauh lebih kecil.

Mitigasi Terus Dilakukan

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau menggunakan seismograf, webcam, dan satelit. Selama status Siaga (Level III), masyarakat dilarang mendekati area dalam radius 3 kilometer dari kawah.

Sistem peringatan dini tsunami juga telah diperkuat sejak bencana 2018. Masyarakat di sekitar Selat Sunda diimbau memahami jalur evakuasi, mengikuti informasi resmi dari BMKG dan PVMBG, serta tidak memasuki kawasan berbahaya.

Penelitian menunjukkan pertumbuhan Anak Krakatau yang cepat setelah 2018 membuat gunung tersebut tetap rentan mengalami keruntuhan jika aktivitas vulkaniknya terus berlanjut.

Karena itu, meski erupsi rutin relatif masih terkendali, potensi bencana berantai berupa longsor, tsunami, dan kerusakan pesisir tetap harus diwaspadai.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN