Bukan 25 Tahun, Pakar Sebut Usia 28–32 Jadi Waktu Terbaik untuk Menikah

Doc: istimewa

JAKARTA, GENVOICE.ID -  Kapan waktu yang tepat untuk menikah sering menjadi perdebatan.

Ada yang memilih menikah di usia muda, sementara sebagian lainnya menunggu hingga merasa benar-benar siap. Menariknya, sejumlah pakar menyebut rentang usia 28 hingga 32 tahun sebagai periode yang paling ideal untuk membangun rumah tangga.

Terapis pernikahan Nicole Cullins menilai usia 28 tahun menjadi momen yang tepat bagi banyak perempuan untuk menikah. Menurutnya, pada usia tersebut seseorang umumnya telah memiliki pemahaman yang lebih baik tentang diri sendiri, lebih percaya diri, serta lebih mampu menentukan kualitas pasangan yang benar-benar diinginkan.

Selain itu, pengalaman hidup dan hubungan yang pernah dijalani juga membantu seseorang membuat keputusan yang lebih matang dalam memilih pasangan hidup.

Sementara itu, untuk laki-laki, Cullins menyarankan usia sekitar 32 tahun. Di rentang usia tersebut, banyak pria dinilai telah lebih mapan dalam karier, memiliki pengalaman hidup yang lebih luas, serta lebih siap menghadapi tanggung jawab sebagai suami maupun ayah.

Menurutnya, kematangan emosional dan finansial yang mulai terbentuk di usia tersebut dapat menjadi modal penting dalam membangun hubungan jangka panjang.

Pendapat serupa juga disampaikan psikolog Wyatt Fisher. Ia menilai akhir usia 20-an hingga awal 30-an merupakan fase ketika banyak orang telah menyelesaikan pendidikan, mulai menata karier, dan memiliki kestabilan hidup yang lebih baik dibandingkan saat masih berusia awal 20-an.

Di sisi lain, pekerja sosial klinis Kelsey Torgerson menekankan pentingnya menunggu hingga perkembangan otak mencapai kematangan penuh, yang umumnya terjadi setelah usia 25 tahun. Menurutnya, kondisi tersebut membuat seseorang lebih siap mengambil keputusan besar, termasuk menikah.

Selain pandangan para pakar, ada pula pendekatan menarik dari buku Algorithms to Live By: The Computer Science of Human Decisions. Buku tersebut memperkenalkan konsep "aturan 37 persen", yang menyarankan seseorang mengumpulkan cukup pengalaman sebelum menentukan pilihan terbaik.

Jika diterapkan pada rentang usia pencarian pasangan antara 18 hingga 40 tahun, perhitungan tersebut menghasilkan usia sekitar 26 tahun sebagai titik yang dianggap ideal untuk mulai mengambil keputusan menikah. Meski begitu, angka ini berasal dari pendekatan matematis, bukan rekomendasi psikologis.

Dari sisi penelitian, sosiolog Nick Wolfinger dari University of Utah menemukan bahwa pasangan yang menikah pada usia 28 hingga 32 tahun memiliki risiko perceraian yang lebih rendah, terutama dalam lima tahun pertama pernikahan.

Penelitiannya menunjukkan risiko perceraian cenderung menurun dari usia remaja hingga akhir 20-an, lalu kembali meningkat setelah melewati usia 32 tahun. Bahkan, setiap penambahan satu tahun setelah usia tersebut dikaitkan dengan peningkatan risiko perceraian sekitar lima persen per tahun.

Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa usia bukan satu-satunya penentu keberhasilan sebuah pernikahan. Kesiapan emosional, kemampuan berkomunikasi, kondisi finansial, kesamaan visi hidup, hingga komitmen kedua pasangan tetap menjadi faktor yang jauh lebih penting dibanding sekadar angka usia.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN