Kisah Marsinah, Buruh Perempuan Asal Jatim yang Jadi Simbol Perjuangan Hak Pekerja
JAKARTA, KUCANTIK.COM - Perjuangan Marsinah menemui puncaknya ketika jasadnya yang penuh luka ditemukan pada 8 Mei 1993. Nama perempuan asal Nganjuk itu hingga kini terus menggaung setiap kali persoalan hak buruh kembali mencuat ke permukaan.
Sosoknya jadi simbol perjuangan hak pekerja yang sebenarnya belum benar-benar usai. Marsinah dikenal sebagai buruh perempuan yang vokal memperjuangkan hak pekerja di era Orde Baru.
Namun, keberaniannya berujung tragis setelah ia ditemukan tewas usai aktif menuntut keadilan bagi rekan-rekannya.
Setiap Hari Buruh, Marsinah kembali dikenang. Terlebih, pada 2 Mei 2026 mendatang akan diresmikan Museum Marsinah di Nganjuk yang rencananya akan dihadiri Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Marsinah, Buruh Perempuan yang Berani
Marsinah yang lahir 10 April 1969 adalah anak kedua dari keluarga sederhana di Desa Nglundo, Nganjuk. Ia tumbuh tanpa ibu sejak kecil dan dibesarkan oleh nenek serta keluarganya.
Sejak kecil ia sudah terbiasa bekerja membantu ekonomi keluarga. Di sekolah, Marsinah dikenal cerdas dan berani menyampaikan pendapat, bahkan sempat bercita-cita menjadi sarjana hukum meski akhirnya harus bekerja karena keterbatasan biaya.
Setelah merantau ke Surabaya, ia bekerja di beberapa pabrik hingga akhirnya di PT Catur Putra Surya (CPS) Sidoarjo. Di sinilah Marsinah mulai dikenal sebagai buruh yang vokal memperjuangkan hak pekerja.
Awal Perjuangan Marsinah
Ketidakadilan di tempat kerja membuat Marsinah aktif menyuarakan perubahan. Puncaknya terjadi pada 3–4 Mei 1993 saat ratusan buruh melakukan mogok kerja dengan 12 tuntutan terkait upah, jaminan sosial, hingga hak cuti.
Rekomendasi juga buat kamu:
Sebagian besar tuntutan disetujui perusahaan, namun situasi berubah setelah sejumlah buruh dipanggil aparat dan mendapat tekanan.
Marsinah Tak Tinggal Diam
Marsinah tetap melawan dengan menulis surat protes dan menyusun strategi untuk rekan-rekannya. Ia bahkan siap membawa kasus ini ke jalur hukum. Namun pada malam 5 Mei 1993, ia pamit dari rumah dan menjadi terakhir kali terlihat hidup.
Marsinah Ditemukan, Namun Tak Lagi Bersuara
Beberapa hari kemudian, Marsinah ditemukan dalam kondisi mengenaskan di sebuah gubuk sawah. Hasil autopsi menunjukkan ia mengalami kekerasan berat sebelum meninggal pada 8 Mei 1993. Kasus ini langsung menyita perhatian publik dan memunculkan dugaan keterlibatan pihak tertentu.
Misteri di Balik Kematian Marsinah
Meski sempat ada proses hukum dan penangkapan sejumlah orang, kasus ini menyisakan banyak kejanggalan. Beberapa terdakwa bahkan akhirnya dibebaskan.
Hingga kini, kematian Marsinah masih menjadi salah satu kasus pelanggaran HAM yang belum tuntas di Indonesia dan terus dikenang sebagai simbol perjuangan buruh dunia.
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk Kisah Marsinah, Buruh Perempuan Asal Jatim yang Jadi Simbol Perjuangan Hak Pekerja .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!