Totok Sirihnya Viral, Ferizka Utami Ngaku Gak Belajar Ilmu Kesehatan: 'Gada yang Harus Dipelajarin'

Ket. Ferizka Utami, terapis totok sirih

Doc: YouTube TRANS TV Official

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Viralnya sosok Ferizka Utami di media sosial memicu gelombang perdebatan yang semakin meluas, terutama setelah beredarnya video dirinya melakukan terapi totok sirih pada seorang batita.

Praktik tersebut menuai kecaman dari berbagai kalangan, mulai dari tenaga kesehatan hingga masyarakat umum, yang mempertanyakan keamanan serta dasar ilmiah dari metode yang digunakan.

Dalam video yang beredar, Ferizka tampak melakukan tekanan pada titik-titik tertentu di tubuh bayi sambil mengklaim dapat membantu berbagai keluhan kesehatan.

Namun, alih-alih mendapat apresiasi, banyak warganet justru mengungkapkan kekhawatiran. Mereka menilai tindakan tersebut berpotensi membahayakan, terlebih karena dilakukan pada anak yang masih sangat rentan.

Kontroversi semakin memanas ketika Ferizka hadir sebagai bintang tamu di acara televisi Pagi Pagi Ambyar. Dalam acara yang tayang pada tahun 2023 tersebut, ia menyampaikan pengakuan yang justru memperkuat kritik terhadap dirinya.

Secara terbuka, Ferizka mengungkap bahwa ia tidak memiliki latar belakang pendidikan medis.

"Kalau ditanya belajarnya dari mana, ya gak tahu dari mana," ujarnya dikutip Kucantik.com, Sabtu (24/04).

"Itu gak ada ilmu yang harus dipelajarin dan gak ada ilmu yang harus kita amalkan jadi itu benar-benar gift," sambungnya.

Lebih lanjut, Ferizka menjelaskan bahwa kemampuannya bukan berasal dari proses belajar formal, melainkan dari faktor keturunan. Ia menyebut dirinya sebagai penotok yang menerima kemampuan tersebut secara alami.

Baginya, praktik yang ia jalankan adalah bentuk karunia spiritual yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah.

Ia juga mengklaim mampu menangani berbagai kondisi pada bayi, mulai dari demam berkepanjangan hingga gangguan saraf. Namun, klaim tersebut kembali dipertanyakan karena tidak didukung oleh bukti medis yang dapat diverifikasi.

Banyak pihak menilai bahwa keyakinan pribadi tidak dapat dijadikan dasar dalam praktik kesehatan, terutama jika menyangkut keselamatan anak.

Kasus ini juga membuka diskusi yang lebih luas tentang batas antara pengobatan alternatif dan tanggung jawab medis.

Di satu sisi, pengobatan tradisional memang telah menjadi bagian dari budaya. Namun di sisi lain, aspek keamanan dan validitas ilmiah tetap menjadi hal yang tidak bisa diabaikan.

Viralnya Ferizka Utami pada akhirnya bukan sekadar soal popularitas di media sosial, tetapi juga menjadi pengingat bahwa isu kesehatan membutuhkan kehati-hatian ekstra.

Terutama ketika praktik tersebut melibatkan individu yang belum mampu melindungi dirinya sendiri, seperti bayi dan anak-anak.*

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN