Anak Tengah di Jakarta Utara Tega Racuni Keluarga, Bagaimana Middle Child Syndrome Bisa Jadi Faktor?

Ket. Mengenal Middle Child Syndrome

Doc: Freepik

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Tiga anggota keluarga di Warakas, Jakarta Utara ditemukan tewas di dalam rumah kontrakan pada Jumat (2/1) pagi. Polisi menyebut ketiga korban tewas setelah diracuni oleh anak tengah keluarga tersebut.

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara, AKBP Onkoseno, menyampaikan bahwa pelaku, AS atau S (22), meracuni ibu, kakak, dan adik kandungnya karena dendam.

"Dari hasil pemeriksaan kami, motivasi dari pelaku adalah dendam kepada keluarganya karena merasa diperlakukan berbeda dan sering dimarahi oleh ibunya," ujar Onkoseno, dikutip dari detikcom, Jumat (6/2).

Tiga korban tersebut adalah SS (50), ibunda AS, AAL (27), kakak AS, dan AAB (13), adik bungsunya. Sementara ayah AS sudah meninggal dunia. Kasus ini memicu sorotan tentang middle child syndrome atau sindrom anak tengah.

Apa Itu Middle Child Syndrome?

Middle child syndrome adalah istilah yang populer untuk menggambarkan kondisi psikologis anak tengah. Anak tengah disebut kerap merasa terkucilkan atau terabaikan dalam keluarga karena posisi kelahiran mereka.

Istilah ini muncul dari teori psikolog Alfred Adler yang menyebut urutan kelahiran dan jumlah saudara dapat mempengaruhi perkembangan kepribadian, psikologis, dan potensi seorang anak.

Karakter Anak Tengah

Berdasarkan laporan Alodokter, anak tengah yang mengalami middle child syndrome biasanya memiliki beberapa karakter berikut:

  1. Pendiam dan sensitif
    Lahir di antara anak sulung yang memegang tanggung jawab lebih besar dan adik bungsu yang mendapat perhatian, anak tengah cenderung lebih pendiam dan sensitif.

  2. Merasa diabaikan oleh orang tua
    Anak tengah sering merasa tidak mendapat perhatian sebesar saudara lainnya, sehingga merasa tidak menjadi favorit dalam keluarga.

  3. Merasa harus bersaing dengan saudara
    Posisi di tengah membuat mereka merasa perlu bersaing dengan kakak dan adik agar mendapat perhatian. Jika tidak dikelola, hal ini bisa menimbulkan hubungan kakak-adik yang tidak sehat.

  4. Selalu ingin keadilan
    Anak tengah kerap menjadi mediator di antara kakak-adik sehingga memiliki dorongan kuat untuk menegakkan keadilan di berbagai situasi.

  5. Mandiri
    Karena merasa sering diabaikan, anak tengah belajar mandiri dan terbiasa melakukan banyak hal sendiri.

Cara Mencegah Middle Child Syndrome

Untuk mencegah risiko gangguan mental akibat middle child syndrome, orang tua dapat melakukan beberapa langkah:

  1. Luangkan waktu khusus untuk berinteraksi hanya dengan anak tengah, misalnya menonton film atau pergi bersama.

  2. Libatkan anak tengah dalam berbagai kegiatan keluarga.

  3. Latih dan dorong anak tengah untuk mengungkapkan perasaan mereka.

  4. Hargai dan dengarkan setiap cerita anak tengah.

  5. Berikan pujian dan penghargaan atas setiap pencapaian anak tengah.

  6. Berikan kepercayaan untuk mengambil berbagai keputusan kecil.

  7. Yakinkan anak tengah bahwa kasih sayang orang tua setara untuk semua anaknya.

Kasus tragis di Warakas menjadi pengingat bahwa perhatian terhadap kondisi psikologis anak, termasuk anak tengah, sangat penting. Jika diabaikan, dampaknya bisa berujung pada konsekuensi yang tragis, sebagaimana yang menimpa keluarga tersebut.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN