Indonesia Hentikan Impor,  Harga Beras Global Tertekan

Doc: istimewa

JAKARTA-Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Dwijono Hadi Darwanto mengatakan kebijakan pemerintah Indonesia tidak mengimpor beras dinilai memberi andil pada harga beras internasional karena kebijakan tersebut ikut menekan harga beras global.

Secara struktural, kata Dwijono, Indonesia memiliki posisi strategis di pasar beras dunia karena volume impornya yang selama ini relatif besar. Berdasarkan analisis yang pernah dilakukan beberapa tahun lalu, kebijakan impor beras Indonesia diperkirakan memengaruhi harga beras internasional hingga sekitar 30 persen.

“Artinya, jika Indonesia mengimpor beras maka harga beras internasional akan naik, dan sebaliknya jika Indonesia tidak mengimpor maka harga internasional akan turun,” kata Dwijono dari Yogyakarta, Selasa (16/12).

Ia menjelaskan, besarnya pengaruh tersebut disebabkan oleh tipisnya ketersediaan atau ekses pasokan beras di pasar internasional. Dalam kondisi pasokan global yang terbatas, perubahan kebijakan impor dari negara sebesar Indonesia langsung berdampak pada keseimbangan harga dunia.

Dwijono juga menyampaikan bahwa pada tahun ini Indonesia diperkirakan tidak akan melakukan impor beras. Namun, ia mengingatkan adanya faktor risiko yang perlu dicermati, khususnya dampak curah hujan lebat di akhir Desember yang menyebabkan banjir di sejumlah daerah sentra produksi.

Kondisi tersebut menyebabkan sebagian wilayah tidak dapat melakukan panen dan sebagian stok beras nasional digunakan untuk bantuan bagi daerah terdampak banjir.

Meski demikian, Dwijono menilai dampak banjir tersebut terhadap target swasembada beras nasional masih relatif terbatas.

“Semoga dampak tersebut tidak terlalu berpengaruh terhadap swasembada beras tahun ini. Kalau pun berpengaruh, kemungkinan hanya mengurangi produksi dalam jumlah relatif sedikit,” katanya.

Tinjauan Mendalam

Dalam kesempatan terpisah, akademisi Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi Universitas Warmadewa (Unwar), Denpasar, Bali, I Nengah Muliarta, mengatakan pernyataan Menko Pangan Zulkifli Hasan mengenai kebijakan Indonesia menghentikan impor beras dan dampaknya terhadap penurunan harga global merupakan isu yang menarik dan memerlukan tinjauan mendalam dari sudut pandang ekonomi pertanian.

“Klaim bahwa Indonesia, yang dulunya adalah importir beras terbesar di dunia, kini telah meningkatkan produksi nasional dan bahkan mampu menekan harga beras dunia dari 650 dollar Amerika Serikat (AS) per ton menjadi di bawah 400 dollar AS per ton, harus disikapi dengan optimisme yang disertai skeptisisme akademis,”ungkap Muliarta.

Keberhasilan Indonesia dalam mencapai swasembada beras, yang berarti peningkatan produksi domestik hingga dapat memenuhi permintaan nasional, adalah pencapaian kebijakan yang patut diacungi jempol. Namun, mengaitkan penurunan harga beras global secara langsung dan signifikan hanya karena penghentian impor oleh Indonesia memerlukan analisis yang lebih berhati-hati.

Pasar beras global adalah pasar yang sangat tipis dan tidak likuid, yang berarti sebagian besar produksi beras dunia dikonsumsi secara domestik, dan hanya sebagian kecil (sekitar 7-8 persen) yang diperdagangkan secara internasional. Oleh karena itu, pasar ini memang sangat sensitif terhadap perubahan kebijakan dari pemain besar.

Indonesia, sebagai importir besar, tentu memiliki kekuatan tawar-menawar (bargaining power). Ketika permintaan sebesar Indonesia ditarik dari pasar, ini akan menciptakan kelebihan pasokan bagi negara pengekspor dan secara logis akan menekan harga ke bawah.

Meski demikian, penurunan harga dari 650 menjadi di bawah 400 dollar AS per ton dalam suatu periode tertentu kemungkinan besar juga dipengaruhi oleh faktor-faktor global yang jauh lebih besar dan kompleks. Salah satunya ketersediaan pasokan dari negara eksportir utama. Kondisi cuaca yang baik atau panen melimpah di Thailand, Vietnam, atau Amerika Serikat dapat membanjiri pasar dan secara inheren menekan harga.

Faktor berikutnya adalah kebijakan ekspor India. India sering menjadi penentu harga global. Pelonggaran atau pengetatan larangan ekspor beras, memiliki dampak yang jauh lebih besar terhadap suplai global dibandingkan penghentian permintaan oleh Indonesia. Dapat juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi makro. Fluktuasi nilai tukar dollar AS terhadap mata uang negara pengekspor, serta harga energi dan pupuk, semuanya memainkan peran penting dalam menentukan biaya dan harga jual beras di pasar internasional.

Sebab itu, tegas Muliarta, klaim Menko Pangan, Zulkifli Hasan meskipun mengandung kebenaran karena penurunan permintaan pasti menekan harga, perlu ditinjau sebagai dampak kolektif dari kebijakan Indonesia ditambah kondisi pasar global yang sedang kondusif.

“Hal ini juga perlu diverifikasi dengan data konkret mengenai neraca pangan nasional untuk memastikan bahwa klaim swasembada didukung oleh stok cadangan yang memadai dan harga domestik yang stabil, bukan hanya sekadar penghentian impor di atas kertas,”pungkasnya.

Komentar (0)

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN