Pandawara Ajak Rakyat Beli Hutan, Denny Sumargo Siap Donasi Rp1 M!

Doc: Instagram/@pandawaragroup

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Gagasan tak biasa sekaligus menggugah muncul dari Pandawara baru-baru ini.

Melalui unggahan di media sosial, kelompok aktivis lingkungan itu menuliskan gagasan yang unik namun menggelitik.

“LAGI ngelamun, tiba-tiba kepikiran gimana kalo masyarakat Indonesia bersatu berdonasi beli hutan-hutan agar tidak dialihfungsikan.” Pernyataan sederhana tersebut langsung memicu diskusi luas di tengah publik yang mulai jengah melihat kerusakan alam terjadi berulang-ulang.

Tak disangka, salah satu respons paling mencuri perhatian datang dari aktor sekaligus atlet basket Denny Sumargo.

Dengan singkat namun tegas, ia menuliskan, “1 miliar pertama gue.” Komitmen besar ini sontak menjadi penyulut euforia. Banyak warganet menilai, jika selebritas dan masyarakat mau bergerak bersama, upaya membeli dan melindungi hutan bukan lagi sekadar angan-angan.

Ingin Hutan Tak Dialihfungsikan

Gagasan membeli hutan sebenarnya bukan hanya soal memiliki lahan, tetapi menciptakan benteng terakhir agar kawasan hijau tidak jatuh ke tangan pihak yang berpotensi mengalihfungsikannya menjadi lahan tambang, perkebunan raksasa, atau konstruksi komersial.

Pandawara menegaskan, “membeli hutan” berarti mengembalikan hak hutan kepada alam, bukan untuk dimiliki secara pribadi, melainkan dipertahankan sebagai ruang hidup satwa, sumber air, dan pelindung ekosistem.

Bencana Banjir di Sumatera

20251208221255_Screenshot_119.jpg

Urgensi gerakan ini ikut menguat karena publik masih trauma terhadap bencana alam besar yang terjadi di Sumatra. Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah wilayah, mulai dari Aceh hingga Sumatra Barat dilanda banjir bandang dan longsor yang memakan korban jiwa, merendam pemukiman, serta memutus akses jalan.

Meski hujan deras kerap dijadikan alasan, masyarakat menyadari akar masalah yang lebih dalam: hutan yang dulu menjadi penyangga alami, kini kian habis ditebang.

Perubahan lanskap itu menciptakan domino efek yang menghantam kehidupan manusia. Tanpa tutupan hutan di daerah hulu, tanah kehilangan kemampuannya menyerap air.

Begitu hujan turun, yang terjadi bukan resapan, melainkan limpasan besar yang menghantam dataran rendah dengan kecepatan tinggi. Itulah sebabnya banjir bukan hanya merendam, tetapi juga menyeret pohon, batu, dan puing bangunan. Bencana ekologis bukan lagi ancaman jangka panjang, ia sudah di depan mata.

Dalam konteks inilah ajakan Pandawara terasa membumi sekaligus realistis. Gerakan kolektif bisa menjadi poros perubahan ketika kebijakan perlindungan hutan berjalan lamban.

Dengan menyatukan kekuatan masyarakat, dana dapat disalurkan untuk membeli kawasan hijau, dikelola sebagai zona konservasi, diawasi agar tidak dijamah aktivitas merusak, dan dijadikan ruang edukasi bagi generasi muda tentang pentingnya alam.

Inisiatif Denny Sumargo yang langsung ingin mengulurkan Rp1 miliar menjadi bukti bahwa aksi nyata masih mungkin dilakukan di tengah pesimisme publik.***

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN