Kritisnya Yudo Sadewa Soroti Kerusakan Ekosistem di Balik Bencana Sumatera, Penebangan Pohon Jadi Biang Keladi?
JAKARTA, KUCANTIK.COM - Bencana banjir dan tanah longsor yang menerjang sejumlah wilayah di Sumatra memicu perhatian publik, termasuk dari kalangan akademisi dan tokoh muda.
Salah satunya adalah Yudo Sadewa, putra Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa, yang ikut memberikan tanggapan kritis terhadap penyebab kerusakan besar yang ditimbulkan peristiwa tersebut.
Dalam pernyataannya, Yudo menolak anggapan bahwa bencana tersebut sepenuhnya merupakan fenomena alam. Ia menilai ada peran besar aktivitas manusia yang tidak dapat diabaikan.
Badai Sumatra dan Badai Tropis
Menurut Yudo, badai tropis memang menerjang Sumatra dan tidak dapat dicegah karena merupakan fenomena meteorologis.
Namun, dampaknya berubah menjadi bencana besar justru akibat hilangnya elemen-elemen alam yang seharusnya menjadi pelindung kawasan.
Ia menyoroti deforestasi masif yang telah menghilangkan hutan sebagai penahan air sekaligus stabilisator struktur tanah di lereng.
“Bencana yang terjadi di Sumatera itu bukan merupakan bencana alam. Itu hanyalah badai tropis yang menerjang Sumatra. Tapi karena enggak ada hutan, enggak ada penahan akhirnya terjadi tanah longsor dan banjir bandang,” tegas Yudo, dikutip Kucantik.com dari laman Instagram @tante.rempong.official, Selasa (02/12/25).
Dampak Eksploitasi Hutan
Dalam pandangannya, apa yang terjadi bukan sekadar nasib buruk atau takdir alam, melainkan konsekuensi langsung dari keputusan manusia yang terus mengeksploitasi lahan tanpa memikirkan dampak jangka panjang.
Rekomendasi juga buat kamu:
Yudo menambahkan bahwa penjelasan mengenai badai tropis tidak boleh digunakan untuk mengabaikan realitas kerusakan lingkungan. Ia juga menyinggung peran pemanasan global yang semakin meningkatkan potensi pembentukan siklon di wilayah yang sebelumnya tidak lazim mengalaminya.
Menurutnya, apa yang terjadi di Sumatra membuktikan bahwa perubahan iklim kini semakin terasa nyata di Indonesia.
“Ini disebabkan karena pohonnya itu, hutan itu ditebangin… makanya kita tidak punya penahannya. Siklon ini terbentuk di Pulau Sumatera which is deket khatulistiwa,” jelasnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan keprihatinannya bahwa perubahan iklim dan degradasi lingkungan saling berkaitan dan memperparah risiko bencana.
Komentar Yudo menjadi pengingat bahwa mitigasi bencana tidak hanya soal kesiapsiagaan teknis, tetapi juga perbaikan kebijakan dalam pengelolaan sumber daya alam. Ia menegaskan pentingnya pemulihan hutan dan aturan tegas terhadap aktivitas industri serta perambahan liar yang merusak ekosistem.
Pernyataan Yudo sekaligus menambah suara publik yang meminta pemerintah dan masyarakat lebih serius menjaga lingkungan. Banjir dan longsor bukan hanya peristiwa sesaat, namun alarm untuk mengevaluasi cara manusia memperlakukan bumi.
Pemulihan ekosistem, penggunaan lahan yang berkelanjutan, serta penindakan atas perusakan lingkungan menjadi langkah penting agar bencana serupa tidak kembali mengancam kehidupan masyarakat di masa mendatang.***
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk Kritisnya Yudo Sadewa Soroti Kerusakan Ekosistem di Balik Bencana Sumatera, Penebangan Pohon Jadi Biang Keladi? .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!