Kripto, AI dan Utang Berpotensi Menjadi “Gelembung” yang Patut Diwaspadai

Doc: istimewa

JAKARTA-Presiden World Economic Forum (WEF) Borge Brende memperingatkan bahwa euforia pasar terhadap teknologi dan kebijakan fiskal pasca pandemi Covid-19 berpotensi menciptakan risiko baru terhadap dunia keuangan yang bisa mengguncang stabilitas di seluruh dunia.

Menurut WEF, negara-negara di dunia harus mewaspadai potensi terjadinya tiga gelembung (bubble) dalam perekonomian global. Gelembung itu dipicu risiko baru akibat euforia pasar keuangan pasca pandemi Covid-19.

Pernyataan itu disampaikan Brende dalam kunjungannya ke Sao Paolo, Brasil, di tengah koreksi tajam atas harga saham-saham teknologi global khususnya di pasar saham Amerika Serikat (AS) yang sebelumnya mencatat rekor tertinggi akibat ekspektasi berlebih terhadap potensi kecerdasan buatan (AI).

“Kita bisa saja melihat terbentuknya bubble dalam waktu dekat. Pertama adalah kripto, kedua kecerdasan buatan (Artifial Intelligence/AI), dan ketiga utang,” kata Brende pada pekan lalu seperti dikutip dari kantor berita Reuters.

Lebih lanjut dikatakan, sektor teknologi sepanjang 2025 telah menjadi pusat perhatian para pelaku pasar dan investor dari seluruh penjuru dunia. Harapan bahwa teknologi kecerdasan buatan yang akan mengubah struktur ekonomi dunia telah mendorong valuasi saham perusahaan teknologi ke level yang dinilai terlalu tinggi oleh sejumlah analis.

Menurut Brende, optimisme yang berlebihan terhadap AI dapat menciptakan bubble baru jika tidak diimbangi dengan realisasi keuntungan nyata. Ia juga menyoroti dampak sosial dan tenaga kerja akibat gelombang otomasi yang terus meluas.

“Dalam skenario terburuk, bisa muncul Rust Belt baru di kota-kota besar yang dipenuhi pekerja kantoran yang digantikan oleh AI,” ujarnya, menyinggung gelombang pemangkasan tenaga kerja di perusahaan global seperti Amazon dan Nestlé.

Brende mengingatkan bahwa meski perubahan teknologi selalu membawa peningkatan produktivitas, transisi menuju ekonomi berbasis AI harus dikelola dengan hati-hati agar tidak menimbulkan ketimpangan sosial yang lebih dalam.

Sebagai informasi tambahan, data Companies Market Cap menunjukkan total kapitalisasi pasar 10 perusahaan AI terbesar di dunia mencapai 20,5 triliun dollar Amerika Serikat (AS), dengan NVIDIA, Apple, dan Microsoft menduduki posisi tiga besar.

Investasi Turun Tajam

Peneliti Ekonomi Center of Ecomics and Law Studies (Celios), Nailul Huda sepakat dengan yang sampaikan Borge dari WEF, namun dia menyarankan agar pemerintah saat ini fokus menjaga agar tekanan terhadap fiskal bisa berkurang.

Menurut Huda, bubble terhadap sektor teknologi sebenarnya sudah terjadi di tahun 2022 hingga saat ini. Tandanya adalah investasi di sektor teknologi yang menurun tajam, termasuk di Indonesia.

Nilai valuasi dari sektor teknologi harus disesuaikan untuk menghindari bubble ini berlanjut sehingga nilai dari industri digital sesuai dengan kondisi yang ada.

Selain itu, sektor fiskal diandalkan untuk menggantikan sektor swasta yang menurun ketika Covid-19. Ketika sudah menurun, maka sektor pemerintah seharusnya diturunkan proporsinya dengan mendorong sektor swasta.

“Sektor swasta harus didorong menjadi mesin pendorong utama perekonomian. Jika tidak, beban kebijakan fiskal akan terlalu berat,”tegas Huda.

Sebab itu, hal yang paling tepat saat ini ialah menggencarkan skema kerja sama pemerintah badan usaha (KPBU) untuk mendorong partisipasi sektor swasta.

“Ini yang kemarin diomongkan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, karena sektor swasta kontribusinya menurun,”tandas Huda.

Seperti diketahui, bursa saham AS (Wall Street) berakhir turun pada perdagangan pekan lalu terseret aksi jual lanjutan pada saham teknologi di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan kekhawatiran atas valuasi yang terlalu tinggi di Negeri Paman Sam.

Dilansir dari Reuters, Jumat (7/11), Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun 0,84 persen ke 46.913,65, S&P 500 (SPX) melemah 1,12 persen ke 6.720,38, dan Nasdaq Composite (IXIC) anjlok 1,90 persen ke 23.053,99.

Ketiga indeks utama kompak melemah karena minat risiko investor tertekan oleh kekhawatiran terhadap harga saham yang dinilai terlalu mahal, terutama di sektor yang terkait dengan artificial intelligence (AI).

Saham-saham berorientasi akal imitasi sebelumnya menjadi penggerak utama reli bursa dalam beberapa bulan terakhir yang mendorong indeks ke rekor tertinggi. Namun, pelemahan sektor ini kini menjadi pengingat kuat akan ketergantungan pasar saham terhadap saham teknologi.

“Valuasi masih menjadi perhatian jangka panjang, meski pasar secara umum masih cenderung bullish,” kata Penasihat Senior dan Ahli Strategi Pasar dari Murphy & Sylvest, Paul Nolte.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN