Ternyata Pelaku Bullying Bisa Terbentuk dari Didikan Keras di Rumah

Ket. Penyebab anak suka merundung di sekolah

Doc: Freepik

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Perilaku anak di luar rumah sering kali mencerminkan pola asuh yang diterapkan oleh orangtuanya di rumah. Termasuk dalam kasus perundungan (bullying), penelitian menunjukkan bahwa perilaku kasar, agresif, atau tidak empatik pada anak dapat berakar dari lingkungan keluarga yang tidak sehat.

Dilansir dari laman Yayasan Gemilang Sehat Indonesia, anak yang tumbuh dalam keluarga dengan pola asuh keras atau penuh kekerasan berisiko lebih tinggi menjadi pelaku bullying di kemudian hari.

Orangtua yang sering marah, menghukum dengan kekerasan fisik, atau mengabaikan emosi anak tanpa penjelasan yang sehat, secara tidak langsung mengajarkan bahwa kekerasan adalah hal yang wajar dalam menyelesaikan masalah.

Ketika anak tidak diajarkan cara mengontrol emosi dan memahami perasaan orang lain, mereka tumbuh menjadi pribadi yang kurang empati dan lebih fokus pada kepentingan diri sendiri.

Dalam kondisi ini, anak bisa menjadi “peniru” perilaku yang mereka lihat di rumah. Jika mereka sering menyaksikan orang dewasa berteriak, memukul, atau mempermalukan orang lain, maka perilaku tersebut dapat mereka tiru di lingkungan sekolah atau sosial.

Lebih lanjut, anak yang sering menerima kekerasan fisik sebagai bentuk hukuman juga cenderung memandang kekerasan sebagai cara menunjukkan kekuasaan.

Misalnya, anak yang sering dipukul bisa meniru pola tersebut dengan memukul temannya saat merasa marah atau ingin dihormati. Lambat laun, perilaku ini berkembang menjadi tindakan perundungan terhadap anak lain yang dianggap lebih lemah.

Selain faktor keluarga, pengalaman masa lalu yang penuh kekerasan juga menjadi salah satu penyebab utama seseorang menjadi pelaku bullying.

Anak-anak yang pernah menjadi korban intimidasi atau kekerasan, baik di rumah maupun di sekolah, terkadang menyalurkan rasa sakit hatinya dengan cara menindas orang lain. Ini disebut sebagai siklus kekerasan, di mana korban dari masa lalu berubah menjadi pelaku di masa depan.

Oleh karena itu, para ahli menekankan pentingnya menciptakan lingkungan yang positif dan penuh kasih sayang, baik di rumah, sekolah, maupun masyarakat. Anak perlu diajarkan empati, kontrol diri, serta pentingnya menghormati perasaan orang lain sejak dini.

Dengan pola asuh yang hangat dan penuh komunikasi, orangtua dapat membantu memutus rantai kekerasan yang sering kali diwariskan tanpa disadari. Bullying bukanlah perilaku yang muncul begitu saja melainkan hasil dari pembelajaran yang salah yang dapat dicegah sejak dini dengan kasih, perhatian, dan teladan positif.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN