TOKYO - Jepang mencatatkan sejarah dengan terpilihnya Sanae Takaichi sebagai Perdana Menteri wanita pertama di negeri Sakura, pada hari Selasa (21/10). Takaichi yang juga pemimpin Partai Demokrat Liberal atau Liberal Democratic Party (LDP) yang berkuasa, memenangkan suara di majelis rendah.
Perdana Menteri Jepang kelima dalam beberapa tahun akan memimpin pemerintahan minoritas dan memiliki agenda penting, terutama kunjungan terjadwal oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump minggu depan.
Majelis rendah parlemen menunjuk Takaichi, seorang pengagum Margaret Thatcher, sebagai perdana menteri pada hari Selasa, setelah ia secara tak terduga memenangkan mayoritas tipis dalam putaran pertama pemungutan suara. Takaichi akan resmi menjabat setelah bertemu dengan Kaisar Jepang.
Mantan drummer heavy metal itu pada 4 Oktober menjadi ketua LDP , yang telah memerintah hampir tanpa henti selama beberapa dekade tetapi kehilangan dukungan.
Enam hari kemudian, partai Komeito, yang merasa tidak nyaman dengan pandangan konservatif Takaichi dan skandal dana gelap LDP, keluar dari koalisi mereka.
Hal itu memaksa Takaichi untuk membentuk aliansi dengan Partai Inovasi Jepang (JIP) yang reformis dan condong ke kanan, yang ditandatangani pada Senin malam .
JIP ingin menurunkan tarif pajak konsumsi makanan menjadi nol, menghapuskan sumbangan perusahaan dan organisasi, serta mengurangi jumlah anggota parlemen.
Takaichi berjanji pada hari Senin untuk “memperkuat ekonomi Jepang, dan membentuk kembali Jepang sebagai negara yang dapat bertanggung jawab terhadap generasi mendatang.
“Dia orang yang berpikiran kuat, terlepas dari apakah dia seorang wanita,” kata pensiunan Toru Takahashi, 76 tahun, kepada AFP di kampung halaman Takaichi, Nara.
“Dia tidak seperti Trump. Tapi dia jelas tentang apa yang benar dan salah.”
Rekomendasi juga buat kamu:
Takaichi telah menjanjikan Kabinet dengan jumlah perempuan setara “Nordik”, naik dari dua di bawah perdana menteri yang akan lengser, Shigeru Ishiba.
“Ini bisa termasuk Satsuki Katayama dari sayap kanan yang bertanggung jawab atas keuangan dan Kimi Onoda yang berdarah campuran Amerika sebagai menteri keamanan ekonomi,” sebut media lokal.
Pengasuhan Anak
Jepang berada di peringkat 118 dari 148 negara dalam Laporan Kesenjangan Gender Global 2025 yang dirilis Forum Ekonomi Dunia. Sekitar 15 persen anggota parlemen majelis rendah adalah perempuan, dan dewan direksi perusahaan didominasi laki-laki.
Takaichi mengatakan dia berharap dapat meningkatkan kesadaran tentang perjuangan kesehatan wanita dan telah berbicara terus terang tentang pengalamannya sendiri tentang fase menopause.
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk Jepang Catatkan Sejarah Wanita Perdana Menteri Pertama .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!