Produksi Beras Januari-Oktober 2025 Diproyeksikan Meningkat 3,37 Juta Ton
JAKARTA- Badan Pusat Statistik (BPS) mengemukakan potensi produksi beras sepanjang Agustus hingga Oktober 2025 diperkirakan mencapai 9,11 juta ton atau meningkat 0,36 juta ton atau 4,17 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Produksi beras sepanjang Januari hingga Oktober tahun 2025 diperkirakan akan mencapai 31,04 juta ton atau mengalami kenaikan sebesar 3,37 juta ton atau 12,16 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2024,” Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Pudji Ismartini menyampaikan seara daring, Senin (1/9).
Ia mengatakan, BPS mencatat produksi beras pada Juli tahun ini mencapai 2,77 juta ton atau mengalami peningkatan sebesar 35,01 persen dibandingkan dengan Juli 2024 yang sebesar 2,05 juta ton.
Menurut dia, angka sementara produksi beras Januari-Juli tahun ini mencapai 21,93 juta ton atau meningkat sebesar 15,86 persen dibandingkan Januari-Juli 2024.
Menanggapi data produksi beras dari BPS, Guru Besar Ekonomi Pertanian dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Masyhuri menilai kenaikan tersebut patut diapresiasi, namun tidak semata-mata itu tercapai karena hasil kebijakan pemerintah. Menurut dia, pencapaian itu karena faktor iklim yang memegang peranan besar.
“Produksi naik karena kemarau tahun ini relatif basah, sehingga air irigasi lebih tersedia dan luas tanam bertambah. Jadi ini bisa disebut nasib baik, bukan semata keberhasilan intensifikasi atau perluasan lahan,” kata Masyhuri.
Masyhuri menjelaskan, kondisi berlimpahnya produksi tidak otomatis membuat harga beras stabil. “Meski produksi berlimpah, harga di pasar bisa tetap naik karena distribusi tidak langsung. Ada petani yang menyimpan untuk konsumsi bulan berikutnya, ada konsumen yang menimbun untuk kebutuhan mendatang. Itu normal,” katanya.
Namun demikian, dia mengingatkan potensi masalah jika pedagang besar menahan stok dengan tujuan membuat beras langka. “Kalau penyimpanan dilakukan untuk spekulasi, itu yang berbahaya. Tugas pemerintah, khususnya Bulog, adalah segera menggelar operasi pasar. Kalau terlambat atau tidak tepat sasaran, harga bisa naik,” tambahnya.
Serapan Bulog
Dia juga menilai tingginya serapan Bulog berpengaruh pada ketersediaan di penggilingan. “Kalau stok terserap Bulog, penggilingan bisa kekurangan pasokan. Belum lagi kalau kualitas gabah rendah, biaya penanganannya makin mahal,” jelasnya.
Rekomendasi juga buat kamu:
Secara keseluruhan, Masyhuri menegaskan bahwa lonjakan produksi ini tetap kabar baik. Hanya saja, jangan buru-buru diklaim sebagai hasil kebijakan. “Ini lebih karena faktor iklim yang menguntungkan. Pemerintah tetap perlu memastikan distribusi lancar dan harga terjaga agar masyarakat benar-benar merasakan manfaatnya,” tutup Masyhuri.
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk Produksi Beras Januari-Oktober 2025 Diproyeksikan Meningkat 3,37 Juta Ton .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!