ADHD Bukan Cuma Hiperaktif, Kenali 3 Jenis dan Gejalanya yang Bisa Dialami Anak hingga Dewasa

Ket. ADHD.

Doc: Istimewa

JAKARTA, KUCANTIK.COM - ADHD atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder merupakan gangguan perkembangan saraf yang sering kali dikaitkan dengan perilaku anak yang terlalu aktif dan sulit diam. Namun, ADHD sebenarnya bukan sekadar persoalan anak yang gemar bergerak atau tidak bisa berkonsentrasi. Kondisi ini memiliki gejala yang lebih kompleks dan bahkan dapat memengaruhi kehidupan seseorang hingga usia dewasa.

ADHD ditandai dengan pola perilaku berupa kesulitan memusatkan perhatian atau inatensi, hiperaktivitas, serta impulsivitas. Gejala tersebut dapat memengaruhi berbagai aktivitas sehari-hari, mulai dari kegiatan belajar, pekerjaan, hingga hubungan sosial.

Salah satu hal yang perlu dipahami, ADHD bukanlah akibat dari pola asuh orang tua yang buruk, kurangnya kedisiplinan, ataupun kemalasan seseorang. Kondisi ini termasuk gangguan neurodevelopmental yang berkaitan dengan perkembangan dan fungsi otak.

ADHD umumnya mulai menunjukkan gejala sejak masa kanak-kanak. Meski begitu, kondisi tersebut tidak selalu menghilang ketika seseorang beranjak dewasa. Sebagian orang masih mengalami berbagai tantangan yang berkaitan dengan ADHD, meskipun bentuk gejalanya bisa berubah seiring bertambahnya usia.

3 Jenis ADHD yang Perlu Diketahui

ADHD memiliki tiga tipe utama yang dibedakan berdasarkan pola gejala yang paling dominan. Setiap orang dapat menunjukkan karakteristik yang berbeda sehingga penting untuk memahami masing-masing jenisnya.

1. ADHD Dominan Inatentif (Inattentive)

Tipe pertama ditandai dengan kesulitan mempertahankan perhatian dan berkonsentrasi. Seseorang dengan ADHD dominan inatentif biasanya mudah terdistraksi oleh hal-hal di sekitarnya.

Beberapa karakteristik yang sering ditemukan antara lain kesulitan memperhatikan detail, sering melakukan kesalahan karena kurang teliti, mudah lupa, serta kerap kehilangan barang pribadi.

Mereka juga bisa mengalami kesulitan menyelesaikan tugas yang membutuhkan konsentrasi dalam waktu lama. Kondisi ini terkadang membuat seseorang dianggap tidak memperhatikan atau kurang serius, padahal ada kesulitan dalam mengatur fokus.

2. ADHD Dominan Hiperaktif-Impulsif (Hyperactive-Impulsive)

Berbeda dengan tipe sebelumnya, jenis ini lebih banyak ditandai dengan perilaku aktif dan tindakan impulsif.

Penderitanya bisa terlihat selalu ingin bergerak, sulit duduk diam dalam waktu lama, serta cenderung berbicara berlebihan. Mereka juga mungkin sering memotong pembicaraan orang lain atau kesulitan menunggu giliran.

Selain itu, perilaku impulsif membuat seseorang cenderung bertindak secara spontan tanpa mempertimbangkan konsekuensi dari tindakannya terlebih dahulu.

3. ADHD Kombinasi (Combined)

Tipe ketiga merupakan gabungan dari gejala inatensi dan hiperaktivitas-impulsivitas.

Artinya, seseorang mengalami kesulitan dalam mempertahankan perhatian sekaligus menunjukkan perilaku hiperaktif atau impulsif.

Tipe kombinasi termasuk salah satu bentuk ADHD yang sering ditemukan dalam diagnosis. Namun, gejala dan tingkat kesulitannya bisa berbeda pada setiap individu.

Gejala ADHD pada Anak hingga Orang Dewasa

Gejala ADHD dapat terlihat berbeda tergantung usia seseorang. Pada anak-anak, tanda-tandanya sering kali lebih mudah dikenali melalui perilaku sehari-hari, terutama ketika berada di lingkungan sekolah.

Anak dengan ADHD mungkin mengalami kesulitan mengikuti instruksi guru, sering kehilangan perlengkapan sekolah, sulit menunggu giliran, hingga terus bergerak meskipun sedang diminta untuk duduk tenang.

Sementara itu, pada remaja dan orang dewasa, gejalanya bisa terlihat lebih beragam. Tidak semua orang dewasa dengan ADHD menunjukkan perilaku hiperaktif secara fisik.

Sebagian justru mengalami kesulitan mengatur waktu, sering menunda pekerjaan atau prokrastinasi, sulit menyelesaikan tugas, serta mudah kehilangan fokus ketika mengerjakan sesuatu.

Ada pula yang merasakan kegelisahan secara mental, kesulitan mengatur prioritas, dan sering merasa kewalahan ketika harus menyelesaikan beberapa pekerjaan sekaligus.

Kondisi tersebut dapat memengaruhi produktivitas dan aktivitas sehari-hari apabila tidak mendapatkan penanganan yang sesuai.

Apa Penyebab ADHD? Faktor Genetik hingga Kondisi Otak

Hingga saat ini, penyebab pasti ADHD belum sepenuhnya diketahui. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kondisi ini berkaitan dengan faktor genetik, perkembangan otak, serta beberapa faktor lingkungan.

Faktor genetik menjadi salah satu hal yang berpengaruh. Seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan ADHD diketahui mempunyai risiko lebih tinggi mengalami kondisi serupa.

Selain itu, faktor neurobiologis juga berperan dalam ADHD. Kondisi ini berkaitan dengan perbedaan perkembangan dan fungsi sejumlah area otak yang terlibat dalam pengaturan perhatian, pengendalian impuls, serta fungsi eksekutif.

Neurotransmiter seperti dopamin dan norepinefrin juga memiliki peran dalam proses tersebut.

Di samping faktor genetik dan neurobiologis, terdapat beberapa faktor lingkungan yang dikaitkan dengan peningkatan risiko ADHD, seperti kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, serta paparan alkohol dan asap rokok selama kehamilan.

Meski demikian, faktor-faktor tersebut tidak otomatis menyebabkan seseorang mengalami ADHD.

Bagaimana Cara Menangani ADHD?

ADHD merupakan kondisi jangka panjang yang belum memiliki pengobatan untuk menghilangkannya secara permanen. Namun, gejalanya dapat dikelola melalui penanganan yang tepat sehingga seseorang tetap bisa menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih baik.

Berikut beberapa pendekatan yang dapat dilakukan:

1. Psikoterapi

Terapi perilaku atau behavioral therapy dapat membantu seseorang mengembangkan kebiasaan yang lebih terstruktur dan mengelola perilaku impulsif.

Selain itu, terapi kognitif perilaku atau Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dapat membantu orang dewasa mengenali pola pikir dan perilaku yang menghambat aktivitas sehari-hari.

Pelatihan bagi orang tua dan keluarga juga dapat menjadi bagian penting dalam mendukung anak dengan ADHD.

2. Penggunaan Obat-obatan

Dalam kondisi tertentu, dokter atau psikiater dapat merekomendasikan obat-obatan untuk membantu mengendalikan gejala ADHD.

Salah satu jenis obat yang digunakan adalah stimulan, seperti metilfenidat. Selain itu, tersedia pula obat nonstimulan yang dapat menjadi pilihan sesuai kebutuhan pasien.

Penggunaan obat harus berdasarkan pemeriksaan dan resep dokter, serta dipantau secara berkala untuk memastikan efektivitas dan meminimalkan efek samping.

3. Penyesuaian Gaya Hidup

Selain terapi dan pengobatan, perubahan rutinitas sehari-hari juga dapat membantu mengelola gejala ADHD.

Membuat jadwal kegiatan yang terstruktur, membagi pekerjaan besar menjadi tugas-tugas kecil, menggunakan pengingat, serta mengatur prioritas dapat membantu seseorang menjalani aktivitas dengan lebih terarah.

Dukungan dari keluarga, lingkungan sekolah, maupun tempat kerja juga berperan penting dalam membantu seseorang menghadapi tantangan ADHD.

Pada akhirnya, ADHD bukan sekadar masalah kurang fokus atau terlalu aktif. Kondisi ini merupakan gangguan perkembangan saraf yang membutuhkan pemahaman dan penanganan sesuai kebutuhan setiap individu. Jika gejala mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, pemeriksaan oleh tenaga profesional seperti psikiater atau psikolog klinis dapat menjadi langkah awal untuk mendapatkan bantuan yang tepat. 

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN