Dulu Dukung Program MBG, Chef Arnold Kini Kritik Skema yang Berantakan Sejak Awal

Ket. Dulu Dukung Program MBG, Chef Arnold Kini Kritik Skema yang Berantakan Sejak Awal

Doc: Istimewa

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Chef Arnold Poernomo yang sebelumnya mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini menyoroti berbagai persoalan dalam pelaksanaannya.

Ia menilai program tersebut membutuhkan waktu paling cepat tiga tahun untuk diperbaiki, termasuk membenahi skema yang dinilainya bermasalah sejak awal.

Dukungan Chef Arnold terhadap MBG berkaitan dengan tujuan program menyediakan makanan bergizi bagi masyarakat, khususnya anak-anak. Namun, menurutnya, tujuan yang baik harus didukung perencanaan matang, sistem operasional yang jelas, serta pengawasan yang memadai.

Chef Arnold Soroti Skema MBG Sejak Awal

Arnold menilai program berskala besar seperti MBG membutuhkan perencanaan yang matang sebelum diterapkan secara luas.

Persoalan yang perlu dibenahi tidak hanya berkaitan dengan pembangunan dapur dan penyediaan makanan, tetapi juga mencakup kesiapan sumber daya manusia (SDM), tata kelola, pengawasan, serta pengendalian kualitas makanan.

Sebagai sosok yang berkecimpung di industri kuliner, Arnold menilai pengelolaan dapur harus memiliki standar operasional prosedur (SOP) yang jelas. Proses pengadaan bahan pangan, penyimpanan, pengolahan, hingga distribusi makanan perlu dijalankan sesuai standar yang ditetapkan.

Ia juga menyoroti kondisi dapur yang dinilai belum memenuhi standar operasional. Dalam pandangannya, pembenahan menyeluruh berpotensi mengharuskan sebagian dapur menghentikan operasional sementara untuk menjalani evaluasi dan perbaikan.

Namun, langkah tersebut tidak mudah dilakukan karena pelaksanaan MBG melibatkan berbagai pihak, termasuk mitra dan pihak ketiga yang telah melakukan investasi. Karena itu, pembenahan membutuhkan perencanaan matang agar tidak menimbulkan persoalan baru.

Soroti Pemborosan Bahan Pangan

Selain persoalan tata kelola, Arnold turut menyoroti potensi pemborosan bahan pangan atau food waste dalam pelaksanaan MBG.

Ia mengungkapkan bahwa bahan pangan segar yang seharusnya dapat dimanfaatkan justru berakhir menjadi sampah. Kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan yang menurutnya perlu mendapat perhatian serius.

Pemborosan bahan pangan tidak hanya berdampak pada efisiensi operasional, tetapi juga berkaitan dengan penggunaan anggaran program. Terlebih, program MBG menggunakan dana publik yang perlu dikelola secara bertanggung jawab.

Menurut Arnold, keberhasilan MBG tidak cukup diukur dari banyaknya makanan yang diproduksi atau jumlah dapur yang beroperasi. Kualitas makanan, kandungan gizi, tingkat konsumsi penerima manfaat, serta efisiensi penggunaan bahan pangan juga perlu diperhatikan.

Dengan demikian, pengawasan terhadap proses produksi dan distribusi makanan menjadi bagian penting dalam evaluasi pelaksanaan MBG.

Usulkan Sistem Pengelolaan yang Lebih Terstruktur

Arnold juga menyoroti perlunya sistem pengelolaan MBG yang lebih terstruktur dan terpusat. Sistem tersebut dinilai dapat membantu pemerintah mengawasi operasional, mengendalikan harga bahan pangan, serta memastikan penerapan standar yang sama di berbagai wilayah.

Selain itu, pemanfaatan teknologi dapat mendukung pemantauan proses operasional, komposisi gizi, pergerakan harga bahan pangan, dan aktivitas dapur.

Pengelolaan yang lebih terintegrasi diharapkan dapat meningkatkan transparansi sekaligus mengurangi risiko pemborosan dalam pelaksanaan program.

Bagi Arnold, pembenahan MBG tidak cukup dilakukan dengan menambah fasilitas atau memperluas jangkauan program. Perbaikan perlu mencakup keseluruhan sistem, mulai dari perencanaan, pengadaan bahan pangan, pengolahan makanan, distribusi, hingga pengawasan kualitas.

Perlu Waktu Tiga Tahun untuk Pembenahan

Arnold memperkirakan bahwa perbaikan program MBG membutuhkan waktu paling cepat sekitar tiga tahun. Perkiraan tersebut menunjukkan bahwa pembenahan program berskala besar tidak dapat dilakukan secara instan.

Berbagai aspek perlu diperbaiki secara bersamaan, termasuk tata kelola, kesiapan tenaga kerja, standar operasional, pengawasan, dan efisiensi anggaran.

Meski mengkritik sejumlah persoalan dalam pelaksanaan program, dukungan Arnold terhadap tujuan penyediaan makanan bergizi bagi masyarakat perlu dibedakan dari penilaiannya terhadap implementasi MBG.

Ia mendukung upaya penyediaan makanan bergizi bagi masyarakat, tetapi menilai pelaksanaan program masih membutuhkan evaluasi dan perbaikan menyeluruh.

Dengan berbagai tantangan tersebut, pembenahan menyeluruh menjadi salah satu aspek penting dalam pelaksanaan MBG ke depan.

Perencanaan yang matang, sistem pengawasan yang kuat, dan pengelolaan bahan pangan yang efisien diperlukan agar program dapat memberikan manfaat secara optimal kepada masyarakat.

Kirim
Tulisan Terkait
PILIHAN