Gara-Gara AI, Makin Banyak Pasien Oplas Ingin Wajah Cantik Tak Realistis
JAKARTA, KUCANTIK.COM - Perkembangan kecerdasan buatan atau AI kini turut memengaruhi keinginan seseorang untuk menjalani operasi plastik. Semakin banyak pasien yang ingin memiliki wajah sempurna berdasarkan hasil gambar buatan AI, meski tampilan tersebut tidak selalu realistis.
Kondisi ini menjadi tantangan baru bagi dokter bedah plastik. Pasalnya, sejumlah pasien datang dengan membawa gambar hasil AI dan berharap wajah mereka dapat diubah menyerupai hasil tersebut.
“Semakin banyak pasien yang membawa gambar hasil buatan AI saat sesi konsultasi,” ujar dokter bedah plastik Dr. Thomas Su, seperti dilansir New York Post.
Penggunaan foto referensi sebenarnya sudah lama dilakukan dalam konsultasi bedah kosmetik. Namun, gambar yang dibuat AI memiliki perbedaan karena dapat menghasilkan wajah yang tidak benar-benar ada di dunia nyata.
Pasien bahkan dapat membawa gambar dengan kulit yang sangat mulus, tanpa pori-pori, serta bentuk wajah dan fitur yang telah disempurnakan secara digital.
“AI dapat menciptakan ekspektasi yang tidak realistis, terutama jika pasien mengira selfie hasil simulasi bisa sama persis dengan hasil aslinya,” lanjut Thomas.
Anggapan bahwa teknologi seperti ChatGPT dapat membantu merancang wajah sempurna juga berpotensi meningkatkan permintaan operasi plastik sekaligus menimbulkan kesalahpahaman mengenai batas kemampuan prosedur tersebut.
Sebuah survei yang diterbitkan tahun lalu oleh Beth Israel Deaconess Medical Center menemukan bahwa pasien yang menggunakan alat bantu AI untuk merancang penampilan baru memiliki ekspektasi lebih tinggi terhadap hasil operasi plastik.
Menurut Dr. Thomas, AI sebenarnya dapat memberikan manfaat dalam proses konsultasi. Teknologi tersebut dapat membantu pasien dan dokter mendapatkan gambaran mengenai bentuk maupun proporsi wajah yang diinginkan.
Namun, hasil operasi tetap bergantung pada struktur wajah masing-masing pasien serta apakah perubahan yang diinginkan dapat dilakukan dengan aman.
Rekomendasi juga buat kamu:
“AI dapat membantu pasien mengungkapkan gambaran yang mereka inginkan saat mereka kesulitan mengungkapkannya dengan kata-kata. Teknologi ini tentu dapat membantu memfasilitasi diskusi serta meningkatkan komunikasi antara pasien dan dokter bedah,” kata Dr. Thomas.
Meski demikian, pasien perlu memahami bahwa gambar hasil AI hanya merupakan ilustrasi dan bukan prediksi mengenai hasil operasi yang akan mereka dapatkan.
“Dulu, pasien biasanya paham bahwa mereka hanya menunjukkan contoh fitur wajah atau proporsi milik orang lain,” catat Dr. Su.
AI Tak Memperhitungkan Batasan Anatomi
Menurut Dr. Su, persoalan menjadi lebih rumit ketika pasien menggunakan gambar AI yang menampilkan wajah mereka sendiri dalam versi yang telah dimodifikasi secara berlebihan.
“Karena gambar-gambar ini sering kali tampak realistis, pasien mungkin berasumsi bahwa hasilnya dapat dicapai melalui pembedahan, padahal gambar tersebut sebenarnya tidak dibatasi oleh anatomi manusia yang nyata,” jelasnya.
Dr. Su menekankan bahwa AI tidak memperhitungkan sejumlah faktor penting dalam operasi plastik, seperti anatomi, kualitas jaringan, proses penyembuhan, hingga keterbatasan alami dalam prosedur bedah.
“AI tidak menunjukkan hasil yang pasti,” ujarnya.
Menurutnya, hasil terbaik dari operasi plastik seharusnya berfokus pada penyempurnaan fitur dan proporsi alami pasien. Operasi tidak seharusnya bertujuan membuat semua orang memiliki tampilan yang sama berdasarkan standar kecantikan yang dihasilkan AI.
“Kecantikan tidak memiliki standar tunggal yang berlaku untuk semua orang. Begitu pula dengan bedah plastik,” pungkasnya.
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk Gara-Gara AI, Makin Banyak Pasien Oplas Ingin Wajah Cantik Tak Realistis .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!