Belajar dari Kasus Lululemon, 4 Bahan Kimia dalam Pakaian yang Perlu Diwaspadai
Ket. Belajar dari Kasus Lululemon, 4 Bahan Kimia dalam Pakaian yang Perlu Diwaspadai
Doc: magnigif/8photo
JAKARTA, KUCANTIK.COM - Selain makanan, kandungan kimia dalam pakaian juga perlu diperhatikan. Bahan kimia dalam pakaian banyak digunakan untuk membuat kain menjadi ringan, elastis, tidak mudah kusut, dan juga cepat kering.
Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, kandungan kimia dalam pakaian juga perlu diperhatikan.
Hal ini kembali menjadi sorotan setelah Lululemon diselidiki oleh Jaksa Agung Texas terkait dugaan keberadaan PFAS, atau yang sering disebut “forever chemicals”. Meskipun penyelidikan tersebut belum terbukti, kasus ini menjadi pengingat bahwa kandungan kimia dalam pakaian perlu diperhatikan.
Berikut empat bahan kimia dalam pakaian yang dapat menyebabkan permasalahan kesehatan.
PFAS, Bahan Kimia untuk Membuat Pakaian Tahan Air
PFAS atau per- and polyfluoroalkyl substances merupakan kelompok bahan kimia sintetis yang dapat membuat pakaian lebih tahan air, minyak, dan juga noda.
Karena sulit terurai, PFAS juga dikenal sebagai “forever chemicals”. Beberapa jenis kandungan ini digunakan dalam produk tekstil, terutama pakaian dengan fitur water-resistant.
Isu ini kembali ramai setelah Lululemon diselidiki terkait dugaan keberadaan PFAS dalam produk activewear-nya. Namun, penyelidikan tersebut belum membuktikan bahwa produk Lululemon mengandung PFAS atau menyebabkan kanker.
Namun, menurut Environmental Geochemistry and Health, jenis PFAS yaitu FPOA diklasifikasikan sebagai karsinogen.
Formaldehida, untuk Pakaian yang Tidak Mudah Kusut
Rekomendasi juga buat kamu:
Selain PFAS, kandungan formaldehida dalam pakaian juga perlu diperhatikan. Kandungan ini digunakan dalam proses finishing tekstil. Salah satunya untuk membantu kain lebih tahan kusut.
Menurut American Academy of Dermatology, kandungan ini dapat memicu iritasi dan dermatitis kontak alergi, terutama pada orang dengan kulit sensitif.
Formaldehida juga diklasifikasikan sebagai karsinogen bagi manusia. Namun, bukan berarti setiap pakaian yang mengandung atau menggunakan formaldehida otomatis menyebabkan kanker.
Pewarna Tekstil, Bisa Memicu Alergi
Pakaian berwarna cerah membutuhkan berbagai jenis pewarna, termasuk disperse dyes dan pewarna azo tertentu. Journal of Toxicology and Environmental Health menemukan bahwa beberapa bahan dari kelompok ini dapat memberikan dampak buruk pada kesehatan.
Dampak yang paling sering diperhatikan adalah reaksi alergi dan iritasi kulit, terutama pada orang yang sensitif. Namun, tidak semua pewarna tekstil dapat disebut sebagai penyebab kanker karena risikonya bergantung pada jenis bahan kimia yang digunakan.
Phthalates, Ditemukan pada Material Berbasis Plastik
Phthalates merupakan bahan yang digunakan untuk membuat material plastik lebih fleksibel. Dalam produk tekstil, bahan ini dapat ditemukan pada material yang antinoda, kusut, ataupun antiair.
Beberapa jenis phthalates memiliki perhatian toksikologis dan penggunaannya telah dibatasi pada produk tertentu. Namun, belum tepat jika seluruh phthalates pada pakaian disebut sebagai penyebab kanker karena tingkat risikonya berbeda-beda berdasarkan jenis dan paparannya.
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk Belajar dari Kasus Lululemon, 4 Bahan Kimia dalam Pakaian yang Perlu Diwaspadai .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!