Tokoh Yahudi Ngamuk John Galliano Jadi Tema di MET Gala 2027, Jejak Antisemitisme Sang Desainer Picu Amarah

Ket. John Galliano menghadiri gala The Business of Fashion Presents VOICES pada 2016.

Doc: Istimewa

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Rencana The Metropolitan Museum of Art (The Met) untuk menjadikan John Galliano sebagai tokoh utama pameran Costume Institute pada 2027 ternyata tidak berjalan mulus. Alih-alih mendapat sambutan hangat, keputusan tersebut justru memicu gelombang kritik dari sejumlah pemimpin komunitas Yahudi, donor museum, hingga tokoh di dunia seni.

Pameran yang dijadwalkan berlangsung selama sembilan bulan itu rencananya dibuka bertepatan dengan Met Gala 2027, acara mode bergengsi yang selama ini berada di bawah pengawasan Anna Wintour.

Kontroversi muncul karena Galliano memiliki rekam jejak kelam. Pada 2011, desainer tersebut dihukum pengadilan Prancis setelah terlibat dalam kasus pernyataan bernada kebencian terhadap orang Yahudi dan Asia. Meski telah meminta maaf dan menjalani proses rehabilitasi, masa lalu tersebut kembali menjadi sorotan menjelang pameran besar di The Met.

Tokoh Yahudi Kritik Keras Keputusan The Met

Julie Menin, Ketua New York City Council yang juga merupakan salah satu pejabat Yahudi senior di pemerintahan kota, secara terbuka menyebut keputusan The Met sebagai sebuah kesalahan serius.

Dalam surat kepada pimpinan museum, Menin menyoroti tanggung jawab institusi budaya dalam menunjukkan kebencian dan fanatisme memiliki konsekuensi.

Menurutnya, keputusan mengenai siapa yang mendapatkan penghormatan melalui sebuah pameran besar bukan sekadar persoalan seni dan sejarah mode. Pilihan tersebut juga dapat dianggap sebagai cerminan nilai yang ingin disampaikan sebuah institusi kepada publik.

Penolakan bahkan disebut datang dari sejumlah donor. Beberapa di antaranya dilaporkan mengancam akan menarik kembali sumbangan apabila pameran Galliano tetap dilaksanakan sesuai rencana.

The Met Beri Respons

Direktur The Met, Max Hollein, mengatakan pihaknya memahami kekhawatiran yang disampaikan berbagai pihak. Ia menegaskan museum tidak mentoleransi antisemitisme, rasisme, maupun bentuk prasangka lainnya.

Pihak museum juga disebut sedang melakukan konsultasi dengan pemimpin komunitas Yahudi dan sejumlah pemangku kepentingan. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan pameran Galliano dan penyelenggaraan Met Gala tahun depan tetap sesuai dengan standar moral dan etika yang diterapkan museum.

Namun, persoalannya bukan hanya soal apakah Galliano telah berubah, melainkan apakah masa lalu seseorang dapat dipisahkan dari penghormatan sebesar sebuah pameran di The Met.

Karier Gemilang Galliano Tak Bisa Dipisahkan dari Skandal

Sebelum kontroversi tersebut menghantam kariernya, Galliano merupakan salah satu nama paling berpengaruh di industri fashion dunia.

Ia pernah memimpin Givenchy dan menjadi desainer Inggris pertama yang dipercaya memimpin rumah mode Prancis tersebut. Setelah itu, Galliano bergabung dengan Dior dan berhasil membangun reputasinya sebagai salah satu desainer paling terkenal di dunia.

Namun, kariernya mengalami kehancuran setelah skandal pada 2011. Dior kemudian memecatnya dari posisi direktur kreatif yang telah dijalaninya selama bertahun-tahun.

Galliano kemudian meminta maaf dan menjalani rehabilitasi. Ia juga mendalami isu Yudaisme, antisemitisme, serta Holocaust. Beberapa tahun kemudian, ia kembali ke dunia fashion dan dipercaya menjadi direktur kreatif Maison Margiela pada 2014. Ia bertahan di posisi tersebut selama sekitar satu dekade.

Anna Wintour Bela Galliano

Di tengah kritik, Anna Wintour justru tetap memberikan dukungan kepada Galliano. Wintour bahkan menilai sang desainer layak mendapatkan pameran berskala besar.

Menurut Wintour, perjalanan karier Galliano tidak seharusnya hanya dinilai berdasarkan satu momen kelam dalam hidupnya.

Sementara itu, Andrew Bolton, kurator Costume Institute, memastikan bahwa sisi kontroversial Galliano tidak akan dihapus dari pameran.

Ia menyatakan pembahasan mengenai perjalanan karier Galliano tidak akan lengkap tanpa mengulas kegagalan dan kesalahan yang pernah dilakukan sang desainer.

Namun, Bolton juga menegaskan bahwa pameran tersebut bukanlah sebuah forum untuk menentukan apakah Galliano pantas mendapatkan pengampunan atau tidak.

Rabbi Pertanyakan Pilihan The Met

David Ingber, tokoh senior komunitas Yahudi di 92NY sekaligus rabbi pendiri sinagoga Romemu, memiliki pandangan yang lebih kritis.

Menurutnya, persoalannya bukan sekadar apakah Galliano telah berubah atau memiliki kontribusi besar terhadap dunia fashion. Menjadikan Galliano sebagai pusat perhatian salah satu institusi budaya paling bergengsi di dunia justru dianggap menimbulkan pertanyaan moral.

Ia mempertanyakan apakah The Met memang seharusnya memberikan panggung sebesar itu kepada Galliano mengingat sejarah kontroversialnya.

Dugaan Insiden 2019 Kembali Mencuat

Kontroversi semakin panas setelah muncul laporan mengenai dugaan insiden pada 2019.

Galliano disebut pernah melontarkan komentar berkaitan dengan bahasa Ibrani kepada dua perempuan di sebuah spa di Italia. Salah satu saksi, Lauren London, mengaku mendengar Galliano berulang kali meneriakkan “Merry Christmas!” ketika salah seorang perempuan berbicara menggunakan bahasa Ibrani.

Namun, Galliano membantah tuduhan tersebut melalui juru bicaranya.

Laporan itu kembali menjadi sorotan karena muncul menjelang pameran yang secara khusus akan mengangkat perjalanan karier sang desainer.

Jadwal Met Gala 2027 Ikut Dipertanyakan

Tak berhenti pada persoalan pameran, penyelenggaraan Met Gala 2027 juga dilaporkan menghadapi pertanyaan tersendiri.

Tanggal yang direncanakan disebut bertepatan dengan Yom HaShoah, hari peringatan Holocaust dan kepahlawanan. Karena itu, The Met disebut tengah mempertimbangkan kemungkinan perubahan jadwal.

Kontroversi ini akhirnya menempatkan The Met dalam situasi sulit. Di satu sisi, Galliano memiliki pengaruh besar terhadap sejarah fashion modern dan kariernya dianggap layak dikaji secara mendalam. 

Kini, publik tinggal menunggu apakah The Met akan tetap melanjutkan rencana tersebut, mengubah konsepnya, atau mengambil keputusan lain untuk meredakan kontroversi yang semakin membesar.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN