Kenapa Banjir Nepal Begitu Mematikan? Ahli Ungkap Penyebab dan Bahaya yang Mengintai

Ket. Kenapa Banjir Nepal Begitu Mematikan? Ahli Ungkap Penyebab dan Bahaya yang Mengintai

Doc: Istimewa

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Banjir dan longsor dahsyat menerjang perbatasan Nepal-Tibet pada Rabu (26/08/2026). Fenomena tersebut menewaskan sedikitnya 165 orang dan membuat ratusan lainnya belum ditemukan.

Lumpur, air, dan material longsoran dalam jumlah besar menerjang permukiman dengan cepat hingga menyapu bangunan dan kendaraan.

Besarnya dampak bencana ini tentu membuat banyak orang bertanya, kenapa banjir Nepal begitu mematikan? Banjir ini diduga dipicu longsoran besar yang membawa campuran es, batuan, dan air dari Pegunungan Himalaya sehingga alirannya sangat cepat dan sulit diprediksi. Berikut penjelasan lengkapnya.

1. Kenapa banjir Nepal begitu mematikan?

Banjir di Nepal menjadi begitu mematikan karena air yang datang bukan sekadar luapan sungai akibat hujan deras. Peristiwa ini diduga berkaitan dengan rock-ice avalanche, yaitu longsoran besar yang terdiri dari campuran batuan dan es dari wilayah pegunungan.

Material tersebut kemudian jatuh ke lembah dan masuk ke aliran sungai, membawa sedimen serta air dalam jumlah sangat besar hingga memicu banjir yang bergerak cepat ke wilayah di bawahnya.

Menurut Hatim Sharif, ahli hidrologi dari University of Texas San Antonio, salah satu hal yang membuat bencana ini sangat berbahaya adalah tidak adanya hujan deras sebagai tanda awal.

Kondisi tersebut membuat sistem peringatan banjir konvensional sulit mendeteksi ancaman lebih awal.

Saat aliran lumpur dan air sudah terlihat, warga mungkin hanya memiliki waktu yang sangat terbatas untuk menyelamatkan diri karena material bergerak dengan kecepatan tinggi dan memiliki kekuatan seperti beton cair.

2. Longsoran es dan batuan memicu aliran air dalam jumlah besar

Hasil analisis awal sejumlah ilmuwan menunjukkan bahwa sebagian besar gletser di sebuah gunung diduga terlepas dan jatuh dari ketinggian sekitar 17.000 kaki atau lebih dari 5.000 meter.

Bongkahan es tersebut kemudian jatuh hampir 4.000 kaki menuju dasar lembah. Energi yang sangat besar dari jatuhan itu menghancurkan es dan batuan menjadi material yang bergerak cepat menuju sungai.

Menurut Simon Cook, ahli glasiologi dari University of Dundee, energi dari jatuhan es yang sangat besar membuat bongkahan tersebut hancur dan berubah menjadi campuran es serta air yang berbahaya.

Material ini kemudian bergerak ke lembah dan masuk ke aliran sungai. Analisis awal menunjukkan longsoran kemungkinan menyumbat Sungai Lhende sebelum memicu aliran banjir yang bergerak ke hilir menuju Sungai Bhote Koshi.

3. Apakah perubahan iklim bisa memperparah bencana?

Perubahan iklim belum dapat dipastikan sebagai penyebab langsung bencana ini. Namun, para ilmuwan menilai kenaikan suhu dapat membuat gletser di kawasan Himalaya mencair lebih cepat dan berpotensi membuat lereng serta lapisan es menjadi lebih tidak stabil.

Air dari salju dan es yang mencair juga dapat masuk ke celah-celah batuan atau gletser sehingga melemahkan strukturnya.

Kawasan Hindu Kush Himalaya memang mengalami pemanasan yang cepat, sehingga risiko berbagai bencana yang berkaitan dengan pencairan gletser menjadi perhatian.

Meski begitu, untuk menentukan seberapa besar pengaruh perubahan iklim terhadap peristiwa ini, ilmuwan masih membutuhkan analisis lebih lanjut, termasuk data curah hujan, citra satelit, kondisi gletser, serta kemungkinan adanya danau glasial yang tiba-tiba mengering.

4. Banjir susulan masih bisa terjadi

Qianggong Zhang, kepala Climate and Environmental Risks di ICIMOD, memperingatkan adanya kemungkinan banjir kedua karena masih terdapat penyumbatan di bagian hulu sungai.

Material longsoran yang menutup aliran air dapat membuat air terus tertahan dan kemudian mengalir deras ketika sumbatan tersebut jebol.

Kondisi ini membuat wilayah di sepanjang aliran sungai tetap berisiko meski banjir utama telah terjadi. Karena itu, pemantauan terhadap kondisi sungai dan area hulu menjadi penting untuk mengetahui apakah masih ada air yang tertahan atau material yang berpotensi kembali bergerak.

Ilmuwan juga masih terus menganalisis citra satelit dan data lapangan untuk memahami rangkaian peristiwa serta potensi bahaya berikutnya.

Jadi, longsoran besar, aliran air yang deras, dan minimnya waktu untuk menyelamatkan diri membuat bencana ini sangat berbahaya. Semoga penjelasan ini membantu kamu memahami kenapa banjir Nepal begitu mematikan, ya.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN