Meneladani Nabi Muhammad saw., Ini 3 Cara Menjalani Hidup dengan Lebih Bermakna
Selasa, 25 Agu 2026, 10:45 WIBJAKARTA, KUCANTIK.COM - Setiap tanggal 12 Rabiul Awal, umat Islam selalu memperingatinya sebagai hari lahirnya Nabi Muhammad saw. atau yang sering disebut Hari Maulid Nabi. Tahun ini, Maulid Nabi Muhammad saw. jatuh pada Selasa, 25 Agustus 2026.
Selain memperbanyak amalan di bulan yang penuh makna ini, umat Islam juga perlu memahami dan menerapkan keteladanan Nabi Muhammad saw. semasa hidupnya.
Lantas, apa saja karakter Nabi Muhammad saw. yang bisa diteladani di era modern dan mungkin sering terlupakan? Berikut penjelasannya.
1. Tetap Sabar dan Tenang saat Dihantam Cobaan
Sifat ini tercermin ketika Nabi Muhammad saw. terus diperlakukan secara zalim oleh orang-orang Quraisy di Makkah. Beliau pernah diludahi, dilempari kotoran, hingga diuji keimanannya untuk ikut menyembah berhala.
Rasulullah saw. kala itu pernah diludahi oleh Uqbah bin Abi Muaith atas suruhan sahabat Uqbah, yaitu Ubay bin Khalaf. Ubay menantang Uqbah untuk meludahi Rasulullah saw. sebagai bukti bahwa Uqbah tidak benar-benar masuk Islam setelah diisukan mengucapkan kalimat syahadat.
Tak hanya itu, Rasulullah saw. juga pernah ditumpahi kotoran oleh Uqbah saat sedang salat, tepat di atas kepalanya.
Agar tidak dimusuhi oleh kaum Quraisy, tiga tokoh Quraisy, yaitu Umayyah bin Khalaf, Al-walid bin Mughirah, dan Aswad bin Abdul Muthalib, meminta Rasulullah saw. untuk menyembah Tuhan mereka dan begitu pun sebaliknya.
Namun, Rasulullah saw. menolaknya dan dipertegas melalui turunnya surah Al-Kafirun yang menegaskan akan perbedaan keyakinan antara umat Islam dan umat lainnya.
Meski terus-menerus dizalimi, Rasulullah saw. hanya diam dan tetap bersikap tenang tanpa membalas perilaku buruk orang-orang Quraisy.
Respons yang diberikan Rasulullah saw. mengingatkan bahwa tidak perlu membalas keburukan dengan keburukan. Orang yang berniat menjatuhkan kita justru akan merasa lelah dengan sendirinya.
Dalam ilmu psikologi, menurut psikiater dr. Santi Yuliani, M.Sc., Sp.KJ., membalas orang toksik hanya memperpanjang konflik dan menguras energi emosional, serta menurunkan integritas dan citra diri.
âDengan tetap tenang dan tidak membalas, kamu menunjukkan kedewasaan, menjaga ketenangan diri, dan tidak ikut terseret dalam drama yang tidak perlu,â ujar dr. Santi, seperti dilansir dari Instagramnya, @santi_psychiatrist.
2. Ikhtiar, Ikhlas, dan Berserah Diri pada Allah Swt.
Rasulullah saw. tidak pernah berputus asa dan terus berserah diri kepada Allah Swt. meskipun terus mendapat banyak penolakan saat menyebarkan ajaran Islam.
Rasulullah saw. bersama para pengikutnya pernah diboikot oleh warga Quraisy hingga harus mengasingkan diri ke Syiâib Abu Thalib selama tiga tahun. Selama pengasingan, mereka harus mengalami kelaparan ekstrem hingga beberapa di antaranya meninggal dunia.
Kaum Quraisy melakukan embargo total, salah satunya dengan melarang orang-orang menjual dagangan dan mengirim pasokan makanan ke Syiâib.
Meski dalam keadaan terpuruk, Rasulullah saw. tetap berikhtiar dan terus meminta diberi jalan keluar oleh Allah Swt. Atas ketabahannya itu, Allah Swt. menggerakkan hati Hisyam bin Amr dan empat orang Quraisy lainnya untuk menghentikan pemboikotan.
Hisyam bin Amr kerap mengirimkan pasokan makanan serta mendekati empat tokoh Quraisy bernama Zuhair bin Umayyah, Muthâim bin âAdi, Abul Bakhtari bin Hisyam, dan Zamâah bin Aswad untuk bersama-sama merobek dan membatalkan isi perjanjian zalim tersebut.
Lantaran naskah perjanjian yang tertempel di Kakbah ternyata telah rusak dimakan rayap, embargo pun berakhir.
Lagi-lagi, Rasulullah saw. menegaskan bahwa sesulit apa pun kondisinya, jika kita tetap berikhtiar dan berserah diri kepada Allah Swt., akan selalu ada jalan keluar terbaik pada waktu yang tepat.
3. Memaafkan Orang Lain dengan Lapang Dada
Keteladanan ini tersirat saat Rasulullah saw. mendapat penolakan keras dari warga Thaif untuk berdakwah. Mereka dengan tega melempari kaki Rasulullah saw. dengan batu di setiap langkahnya.
Setelah mendapat banyak penolakan, Rasulullah saw. pun pergi dari kota Thaif hingga berhenti di sebuah pohon kurma. Di situlah beliau berdoa tentang apa yang dialami dan didatangi oleh malaikat Jibril.
Malaikat Jibril mengatakan bahwa Allah Swt. telah mengutus malaikat penjaga gunung untuk meluluhlantakkan orang-orang yang telah melukai Rasulullah saw. dalam sekejap jika Rasulullah saw. menghendaki.
Hal itu sebagaimana dituturkan langsung oleh Rasulullah saw. dalam hadis yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim, melansir NU Online.
â⦠Malaikat Jibril berkata, âSesungguhnya Allah Swt. mendengar apa yang kaummu katakan padamu. Dia juga mendengar bagaimana jawaban mereka padamu. Sekarang, Allah Swt. telah mengutus malaikat penjaga gunung kepadamu untuk diperintah sesuai keinginanmu terhadap mereka.â Tak lama, malaikat penjaga gunung pun memanggilku dan mengucapkan salam, lantas berkata, âWahai Muhammad, sekarang tergantung keinginanmu. Jika engkau mau, aku akan menimpakan dua gunung itu pada mereka (orang Thaif),â (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Namun, apa jawaban Rasulullah saw.? Beliau tidak mau membalasnya. Alih-alih mendahulukan amarah dan membalas dendam, Rasulullah saw. memilih memaafkan penduduk Thaif yang telah bertindak kasar dengan lapang dada.
Beliau justru berujar, âAku berharap dari keturunan orang Thaif, Allah Swt. menciptakan orang-orang yang menyembah-Nya semata, tidak ada yang menyekutukan-Nya dengan apa pun.â
Itulah tiga keteladanan Nabi Muhammad saw. yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketiganya memang terdengar klasik, tetapi tidak semua orang benar-benar menjalaninya dengan baik.
- Cara Memaknai Hidup
- Cara Memaknai Hidup dari Nabi Muhammad
Redaktur: Fitrya A Kusumah
Penulis: Fitrya A Kusumah
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.