Bikin Gen Z Risih! 11 Kebiasaan Boomer Ini Dianggap Ketinggalan Zaman

Senin, 24 Agu 2026, 16:30 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Perbedaan generasi ternyata bukan hanya soal selera musik, gaya berpakaian, atau teknologi yang digunakan. Cara berkomunikasi, bekerja, bersosialisasi, bahkan bercanda pun bisa menjadi sumber benturan antara generasi Baby Boomer dan Gen Z.

Kebiasaan yang dianggap biasa oleh generasi terdahulu belum tentu mendapatkan respons serupa dari anak muda masa kini. Gen Z yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi dan perubahan norma sosial memiliki pandangan berbeda mengenai privasi, batasan pribadi, kesehatan mental hingga keseimbangan kehidupan dan pekerjaan.

Ket. Foto: Gen Z dan generasi boomer. — Sumber: Gemini AI

Akibatnya, sejumlah kebiasaan yang dahulu dianggap wajar kini justru dinilai jadul, tidak sensitif, bahkan bikin risih oleh sebagian Gen Z.

Meski tentu saja tidak semua orang dalam satu generasi memiliki perilaku yang sama, perbedaan perspektif ini menarik untuk melihat bagaimana norma sosial ikut berubah seiring perkembangan zaman.

Berikut KUCANTIK.COM rangkumkan 11 kebiasaan yang kerap menjadi sorotan.

1. Memarahi Pekerja Layanan Saat Kecewa

Prinsip pembeli adalah raja pernah sangat populer dalam budaya pelayanan. Namun, cara melampiaskan kekecewaan dengan membentak atau mempermalukan pekerja kini semakin sulit diterima generasi muda.

Gen Z cenderung menilai pekerja layanan sebagai individu yang tetap harus diperlakukan dengan hormat, bahkan ketika terjadi kesalahan.

2. Menganggap Bekerja Tanpa Batas sebagai Bentuk Loyalitas

Bagi sebagian generasi terdahulu, bekerja keras dan mengutamakan pekerjaan merupakan simbol dedikasi.

Namun, Gen Z lebih banyak berbicara mengenai work-life balance. Pulang tepat waktu, mengambil cuti dan memiliki kehidupan di luar kantor tidak otomatis dianggap sebagai tanda seseorang malas atau tidak loyal.

Bagi mereka, pekerjaan adalah bagian dari kehidupan, bukan seluruh identitas diri.

3. Melontarkan Candaan Kasar dengan Alasan Cuma Bercanda

Humor juga mengalami perubahan.

Lelucon yang mengandung stereotip mengenai gender, fisik, usia, maupun kelompok tertentu mungkin pernah dianggap sekadar candaan. Tetapi bagi banyak anak muda, lelucon semacam itu bisa dianggap tidak sensitif.

Kalimat kan cuma bercanda pun tidak selalu bisa menghapus rasa tidak nyaman yang ditimbulkan.

4. Datang ke Rumah Orang Tanpa Kabar

Berkunjung secara spontan mungkin menjadi bentuk keakraban bagi sebagian generasi terdahulu.

Namun, Gen Z cenderung lebih menghargai privasi dan waktu pribadi. Datang tanpa pemberitahuan dapat membuat penghuni rumah merasa terganggu, terutama jika mereka sedang bekerja, beristirahat atau memiliki agenda lain.

Mengirim pesan singkat sebelum berkunjung dianggap sebagai bentuk penghormatan sederhana.

5. Memberikan Nasihat Padahal Tidak Diminta

Niat memberikan nasihat sebenarnya bisa muncul dari kepedulian. Masalahnya, nasihat yang tidak diminta terkadang justru membuat seseorang merasa sedang dihakimi.

Pengalaman masa lalu memang berharga, tetapi kondisi kehidupan setiap generasi berbeda. Apa yang berhasil puluhan tahun lalu belum tentu menjadi solusi untuk persoalan anak muda sekarang.

Karena itu, sebagian Gen Z lebih menghargai percakapan dua arah dibandingkan ceramah panjang.

6. Tiba-Tiba Menelepon Tanpa Mengirim Pesan

Bagi generasi Boomer, telepon merupakan cara komunikasi yang praktis dan langsung.

Sebaliknya, sebagian Gen Z justru terbiasa menggunakan pesan teks. Panggilan telepon secara mendadak bahkan bisa membuat mereka bertanya-tanya apakah sedang terjadi sesuatu yang penting.

Bukan berarti Gen Z membenci telepon, tetapi banyak dari mereka lebih nyaman jika diberi pemberitahuan terlebih dahulu.

7. Menganggap Masalah Finansial Hanya Akibat Kurang Kerja Keras

Pandangan seseorang bisa sukses selama bekerja keras juga menjadi salah satu sumber perbedaan perspektif.

Gen Z tumbuh di tengah harga rumah, biaya pendidikan, kebutuhan hidup dan berbagai tekanan ekonomi yang berbeda dari generasi sebelumnya. Karena itu, mengatakan seseorang belum mapan karena "kurang bekerja keras" dapat dianggap terlalu menyederhanakan persoalan.

Mereka melihat kondisi ekonomi juga dipengaruhi banyak faktor di luar kendali individu.

8. Menganggap Kesehatan Mental Tidak Penting

Generasi muda kini jauh lebih terbuka membicarakan stres, kecemasan, kelelahan emosional dan berbagai persoalan psikologis.

Karena itu, respons seperti "kurang bersyukur" atau "dulu juga susah, tapi baik-baik saja" dapat terasa meremehkan pengalaman seseorang.

Gen Z cenderung menginginkan pembicaraan mengenai kesehatan mental dilakukan secara lebih terbuka tanpa stigma.

9. Sering Mengatakan "Dulu Waktu Saya Seumuran Kamu"

Kalimat tersebut mungkin terdengar seperti pembuka nasihat biasa. Namun, bagi Gen Z, perbandingan dengan masa lalu terkadang justru terasa seperti upaya mengecilkan masalah mereka.

Tantangan hidup saat ini tidak sepenuhnya sama dengan beberapa dekade lalu. Dunia kerja, biaya hidup, teknologi dan kondisi sosial telah berubah.

Karena itu, pengalaman generasi terdahulu akan lebih mudah diterima jika disampaikan sebagai perspektif, bukan sebagai standar mutlak.

10. Mengirim Emoji Jempol Sembarangan

Siapa sangka emoji jempol juga bisa menjadi sumber salah paham?

Bagi sebagian orang, emoji tersebut hanya berarti "oke" atau "siap". Namun, dalam komunikasi digital, konteks sangat menentukan. 

Bagi sebagian Gen Z, respons satu emoji jempol dapat terasa terlalu dingin, singkat, bahkan pasif-agresif dalam situasi tertentu.

Perubahan cara berkomunikasi digital membuat simbol sederhana bisa memiliki makna emosional yang berbeda.

11. Terlalu Kaku dalam Urusan Pakaian Kantor

Kemeja, celana bahan dan sepatu formal mungkin masih menjadi pilihan wajib di sejumlah tempat kerja. Namun, banyak lingkungan kerja modern kini mulai memberikan ruang lebih besar terhadap gaya berpakaian yang nyaman selama tetap profesional.

Gen Z cenderung melihat pakaian sebagai bagian dari ekspresi diri. Aturan berpakaian yang terlalu kaku pun dapat dianggap tidak lagi relevan jika pekerjaan tidak benar-benar menuntutnya.

Bukan Berarti Satu Generasi Lebih Baik

Perbedaan kebiasaan antara Boomer dan Gen Z sebenarnya tidak harus berakhir menjadi perang antargenerasi.

Setiap generasi tumbuh dalam kondisi sosial dan ekonomi yang berbeda. Sesuatu yang dianggap normal puluhan tahun lalu bisa saja berubah ketika norma masyarakat ikut berkembang.

  • Gen Z
  • boomer

Redaktur: Alfina Febriyana

Penulis: Alfina Febriyana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.