5 Tanda Anak Mengalami Fatherless Emosional Meski Memiliki Ayah di Rumah, Salah Satunya Suka Menarik Diri

Ket. Ilustrasi fatherless.

Doc: Istimewa

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Istilah fatherless belakangan kian hangat diperbincangkan di tengah masyarakat. Banyak orang mengasumsikan fenomena ini hanya terjadi saat seorang anak kehilangan figur ayah akibat kematian atau perceraian orang tua.

Padahal, kondisi fatherless juga bisa dialami oleh anak yang ayahnya masih hidup dan tinggal serumah. Hal ini terjadi ketika kehadiran ayah secara fisik tidak diimbangi dengan keterlibatan emosional dan pola pengasuhan yang aktif.

Menurut konselor Dr. Heru Mugiarso, Kons, ketidakhadiran sosok ayah dalam pengasuhan dapat berdampak besar pada tumbuh kembang anak. Lantas, apa saja tanda bahwa anak mengalami fatherless emosional meski ayah ada di rumah? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.

5 Tanda Anak Mengalami Fatherless Meski Ayah Tinggal Serumah

1. Ayah Terlalu Terfokus pada Urusan Mencari Nafkah

Tuntutan ekonomi kerap membuat seorang ayah mencurahkan seluruh energi dan waktunya untuk bekerja. Di satu sisi, ini adalah bentuk tanggung jawab finansial.

Namun di sisi lain, fokus berlebih pada aspek materi sering kali mengikis waktu interaksi dan kehangatan emosional dengan anak. Anak memang terpenuhi kebutuhan fisiknya, tetapi berisiko kehilangan figur pengasuh yang memberikan perhatian, rasa kasih sayang, serta komunikasi yang hangat.

2. Perubahan Sikap Anak yang Mulai Menarik Diri

Ketika hubungan emosional di rumah terasa renggang, anak perlahan akan berubah menjadi sosok yang tertutup. Ia tidak lagi terbiasa membagikan cerita atau pengalaman harian kepada orang tuanya.

Sikap diam dan menarik diri ini sering kali menjadi sinyal bahwa anak sudah merasa tidak memiliki ruang yang aman dan nyaman untuk mengekspresikan diri di rumah.

3. Perilaku Memberontak Sebagai Bentuk Unjuk Rasa

Ketidakpuasan akibat kurangnya perhatian dari orang tua tidak selalu ditunjukkan dengan sikap diam, melainkan juga lewat perilaku memberontak.

Menurut Dr. Heru, aksi penolakan atau kenakalan anak sebaiknya tidak langsung dicap sebagai anak nakal, melainkan dibaca sebagai pesan tersirat bahwa anak merasa diabaikan dan membutuhkan perhatian lebih dari orang tuanya.

4. Anak Mencari Validasi dan Kasih Sayang di Luar Rumah

Anak memiliki kebutuhan mendasar untuk merasa dicintai, dihargai, dan diakui oleh keluarganya. Jika kebutuhan ini hampa di rumah, anak akan mengupayakan validasi dari lingkungan luar.

Kondisi ini sangat rentan dialami oleh anak perempuan yang membutuhkan figur ayah sebagai sosok pelindung. Sayangnya, pencarian validasi di luar rumah berisiko menjebak anak dalam relasi yang tidak sehat atau menjadi sasaran manipulasi pihak lain.

5. Smartphone Menjadi Tempat Pelarian Utama

Di era digital, gawai sering kali mengambil alih peran interaksi keluarga. Anak yang merasa kesepian atau tidak terhubung secara emosional dengan orang tuanya akan melarikan diri ke smartphone.

Meski anak tampak tenang dan tidak memicu masalah saat bermain gawai, hal itu bukanlah indikator bahwa kebutuhan emosionalnya telah terpenuhi. Orang tua perlu mengevaluasi kembali kualitas komunikasi harian daripada sekadar membatasi durasi penggunaan gawai.

Pada akhirnya, peran seorang ayah dalam keluarga tidak cukup diukur dari keberadaannya secara fisik di dalam rumah. Kehadiran yang bermakna lahir dari komunikasi yang terbuka, perhatian yang tulus, serta keterikatan emosional yang kuat antara ayah dan anak.

Bagaimana upaya Cantiks dalam menjaga kualitas interaksi dan kehangatan emosional bersama buah hati di rumah? Yuk, tulis rutinitasmu di kolom komentar!

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN