Politik Bikin Cemas? 3 Cara Anak Muda Menjaga Wellbeing Tanpa Harus Apatis

Ket. Potret anak muda yang cemas dengan hebohnya isu politik yang ada.

Doc: Gemini AI

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Pernah berniat membuka media sosial hanya selama lima menit, tetapi tanpa sadar satu jam berlalu karena sibuk mengikuti perdebatan politik? Awalnya mungkin hanya ingin mengetahui berita terbaru. Namun, semakin lama scrolling, semakin banyak informasi yang masuk hingga akhirnya muncul rasa lelah, cemas, kecewa, bahkan marah.

Jika pernah mengalaminya, Cantiks tidak sendirian.

Di era digital, anak muda hampir tidak pernah benar-benar jauh dari informasi. Media sosial dan media massa menghadirkan berita politik sepanjang waktu, mulai dari kebijakan pemerintah, pernyataan tokoh publik, kontroversi, hingga perdebatan antarpendukung.

Masalahnya, derasnya informasi tidak selalu membuat seseorang semakin memahami keadaan. Sebaliknya, terlalu banyak mengonsumsi berita politik tanpa jeda dapat membuat pikiran penuh dan energi terkuras.

Pertarungan narasi di media sosial juga sering membuat batas antara fakta, opini, kepentingan kelompok, dan kepentingan publik menjadi semakin sulit dibedakan. Belum lagi konten yang sengaja dibuat provokatif agar mendapatkan perhatian.

Situasi tersebut dapat membuat anak muda merasa khawatir terhadap masa depan. Kekecewaan terhadap perilaku elite politik juga kerap disampaikan melalui berbagai platform seperti X dan Threads. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini berpotensi memicu kejenuhan, sikap apatis, hingga kelelahan mental.

Apa Itu Wellbeing?

Wellbeing atau kesejahteraan psikologis bukan sekadar perasaan bahagia. Konsep ini berkaitan dengan kepuasan terhadap kehidupan, munculnya emosi positif, hubungan sosial yang sehat, serta perasaan bahwa hidup memiliki tujuan dan makna.

Ketika wellbeing terjaga, seseorang cenderung lebih mampu menghadapi tekanan, mempertahankan semangat, membangun hubungan positif, dan mengembangkan potensi dirinya.

Bagi anak muda, kondisi tersebut menjadi penting. Sebab, masa muda merupakan periode ketika seseorang sedang membangun pendidikan, karier, hubungan sosial, sekaligus menentukan arah masa depan.

Karena itu, mengikuti perkembangan politik seharusnya tidak berarti mengorbankan ketenangan diri.

Lantas, bagaimana cara menjaga wellbeing ketika berita politik terus bermunculan?

1. Ikuti Informasi, Jangan Sampai Tenggelam

Manusia memiliki kecenderungan lebih mudah memperhatikan informasi negatif atau mengancam. Dalam psikologi, kecenderungan ini dikenal sebagai negativity bias.

Itulah sebabnya berita mengenai konflik, kontroversi, pertengkaran, atau skandal politik sering terasa jauh lebih menarik dibandingkan kabar positif.

Jika tidak berhati-hati, kebiasaan tersebut dapat membawa seseorang pada doomscrolling, yakni perilaku terus-menerus mengonsumsi berita negatif meskipun setelahnya justru merasa semakin cemas dan lelah.

Mengikuti perkembangan politik tidak berarti harus membaca setiap unggahan, komentar, atau perdebatan yang muncul di media sosial.

Pilih beberapa sumber informasi yang kredibel dan batasi waktu untuk mengakses berita. Ketika menyadari diri sudah terlalu lama mengikuti satu isu, tidak ada salahnya berhenti sejenak.

Mematikan notifikasi, berolahraga, membaca buku, bertemu teman, menekuni hobi, atau tidur lebih awal bukan berarti tidak peduli terhadap kondisi negara.

Jeda bukan bentuk apatis. Jeda adalah cara mengisi kembali energi agar dapat berpikir lebih jernih.

2. Ingat, Hidupmu Tidak Hanya Tentang Politik

Politik memang dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari. Kebijakan pemerintah bisa berkaitan dengan pendidikan, pekerjaan, ekonomi, kesehatan, hingga kehidupan sosial.

Namun, bukan berarti seluruh kehidupan harus dipenuhi oleh isu politik.

Cantiks masih memiliki keluarga, teman, pekerjaan, kuliah, olahraga, hobi, dan berbagai aktivitas yang memberikan kebahagiaan serta makna.

Jangan sampai satu isu politik mengambil seluruh ruang perhatian hingga Cantiks lupa menikmati kehidupan yang sedang dijalani.

Membatasi konsumsi informasi politik bukan berarti mengabaikan keadaan negara. Justru, memberikan ruang bagi aktivitas lain dapat membantu menjaga keseimbangan emosi sehingga Cantiks tidak terus-menerus berada dalam kondisi tegang.

3. Jangan Takut Berteman dengan Orang yang Berbeda Pandangan

Salah satu hal yang dapat membuat perdebatan politik semakin melelahkan adalah kecenderungan untuk hanya berinteraksi dengan orang yang memiliki pandangan sama.

Ketika berada di lingkungan yang selalu menyetujui pendapat kita, kita bisa merasa bahwa pandangan sendiri adalah satu-satunya yang benar. Sebaliknya, orang dengan pilihan politik berbeda mudah dianggap sebagai lawan.

Padahal, perbedaan pendapat tidak selalu berarti permusuhan.

Berteman dengan seseorang yang memiliki pandangan politik berbeda justru dapat membuka perspektif baru. Cantiks mungkin menemukan informasi, pengalaman, atau sudut pandang yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

Tentu saja, berdiskusi tetap membutuhkan batasan. Perbedaan pendapat seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling menghina atau menyerang secara personal.

Belajar mendengarkan tanpa harus selalu menyetujui merupakan bagian penting dari hubungan sosial yang sehat.

Pada akhirnya, menjadi anak muda yang peduli terhadap politik dan masa depan Indonesia merupakan hal positif. Sikap kritis diperlukan agar masyarakat tidak mudah menerima informasi begitu saja.

Namun, kepedulian tidak harus dibayar dengan kecemasan tanpa akhir.

Anak muda tetap dapat mengikuti perkembangan politik, memeriksa fakta, menyampaikan kritik, dan menggunakan hak suaranya tanpa membiarkan hiruk-pikuk politik menguasai seluruh kehidupan.

Sebab, Indonesia tidak hanya membutuhkan generasi muda yang kritis terhadap keadaan negara. Indonesia juga membutuhkan anak muda yang mampu menjaga dirinya, berpikir jernih, membangun relasi sehat, dan tetap memiliki wellbeing yang baik meski berada di tengah situasi yang penuh tekanan.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN