Di Balik Viral Siswi Kelas 10 Tertabrak KRL, Deretan Unggahan di Media Sosial Bikin Merinding

Doc: X/@saintlux

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Kabar meninggalnya seorang siswi kelas 10 setelah tertabrak kereta rel listrik (KRL) di kawasan Stasiun Jurangmangu, Tangerang Selatan, pada Senin (10/8/2026), menjadi perhatian publik.

Peristiwa tersebut tidak hanya menyisakan duka bagi keluarga, tetapi juga memunculkan berbagai reaksi setelah sejumlah unggahan media sosial yang diduga milik korban kembali beredar di tengah warganet.

Insiden tragis itu terjadi sekitar pukul 16.30 WIB. Berdasarkan informasi dari KAI Commuter, seorang perempuan diduga melompat ke rel ketika kereta hendak berhenti di area Stasiun Jurangmangu.

Petugas yang berada di lokasi kemudian langsung mengamankan area kejadian dan berkoordinasi dengan pihak kepolisian serta layanan medis. Polisi tiba sekitar pukul 17.30 WIB untuk melakukan proses evakuasi.

Evakuasi berlangsung hingga sekitar pukul 18.30 WIB. Jenazah korban selanjutnya dibawa ke RSUD Tangerang Selatan. Pihak keluarga juga telah mengetahui kejadian tersebut dan datang ke stasiun.

Peristiwa ini turut berdampak pada perjalanan KRL relasi Tanah Abang–Rangkasbitung. Selama proses evakuasi berlangsung, sedikitnya empat perjalanan KRL mengalami keterlambatan, dengan waktu delay berkisar antara 14 hingga 25 menit.

Jejak Digital

20260811183158_Screenshot_17.jpg

(Diduga jejak digital korban, dok: TikTok/@sal / mika

Di tengah kabar tersebut, perhatian warganet kemudian tertuju pada jejak digital korban. Sejumlah unggahan media sosial yang disebut-sebut berasal dari akun korban kembali dibagikan dan menjadi viral.

Beberapa warganet mengaku merinding ketika melihat unggahan tersebut setelah mengetahui kabar kepergian sang siswi.

Melansir dari akun Instagram @mood.jakarta, akun TikTok sal/mika yang diduga milik korban, mengunggah beberapa kolase foto. Slide pertama memperlihatkan plan A seseorang dalam bertahan hidup, mulai dari menjadi penulis script hingga meninggalkan rumah.

Namun pada slide berikutnya, memperlihatkan gambar kereta api yang hingga kini maksudnya belum diketahui.

Meski demikian, unggahan media sosial tidak dapat secara otomatis dijadikan bukti mengenai kondisi psikologis seseorang ataupun alasan di balik sebuah peristiwa.

Karena korban masih berusia sekolah, berbagai spekulasi mengenai kehidupan pribadi maupun dugaan motif sebaiknya tidak disebarluaskan tanpa informasi resmi dari keluarga atau pihak berwenang.

Kisah ini kembali menjadi pengingat bahwa jejak digital seseorang sering kali meninggalkan banyak pertanyaan ketika sebuah tragedi terjadi. Namun, di balik rasa penasaran publik, terdapat keluarga yang sedang menghadapi kehilangan.

Hingga kini, informasi mengenai kronologi lengkap dan alasan pasti terjadinya insiden tersebut masih perlu menunggu keterangan resmi dari pihak berwenang.

Masyarakat juga diimbau tidak menyebarkan foto, video, maupun konten pribadi korban secara berlebihan demi menghormati privasi keluarga.*

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN