Ribuan Istri di Lamongan Gugat Cerai Suami, Media Sosial dan Gaya Hidup Jadi Biang Kerok?

Ket. Ilustrasi perceraian.

Doc: Istimewa

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Angka perceraian di Lamongan kembali menjadi sorotan. Data Pengadilan Agama (PA) Lamongan menunjukkan sebagian besar perkara perceraian justru diajukan pihak istri. Persoalan ekonomi memang masih mendominasi, tetapi ada faktor lain yang kini disebut ikut memperkeruh hubungan rumah tangga, mulai dari media sosial hingga tuntutan gaya hidup.

Sepanjang 2025, PA Lamongan mencatat sebanyak 2.902 perkara perceraian telah diputus. Dari jumlah tersebut, 2.219 perkara merupakan cerai gugat yang diajukan oleh istri. Sementara 683 perkara lainnya merupakan cerai talak yang diajukan oleh suami.

Tren serupa masih terlihat pada 2026. Hingga Juli 2026, tercatat 1.683 perkara perceraian telah diputus PA Lamongan. Sebanyak 1.294 perkara di antaranya merupakan cerai gugat, sedangkan 389 perkara lainnya berupa cerai talak.

Besarnya jumlah cerai gugat tersebut membuat fenomena perceraian di Lamongan kembali menjadi perhatian. Terlebih, penyebabnya ternyata tidak hanya berkutat pada masalah ekonomi.

Ekonomi Masih Jadi Penyebab Perceraian Tertinggi

Panitera PA Lamongan, Mazir, menjelaskan faktor ekonomi masih menempati posisi teratas sebagai penyebab perceraian.

Pada 2025, terdapat 1.216 perkara yang berkaitan dengan persoalan ekonomi. Setelah itu, penyebab terbesar berikutnya adalah perselisihan dan pertengkaran terus-menerus dengan 647 perkara.

Faktor lain yang tercatat antara lain meninggalkan salah satu pihak sebanyak 202 perkara, perselingkuhan atau zina sebanyak 159 perkara, serta perjudian sebanyak 108 perkara.

Sementara hingga Juli 2026, masalah ekonomi masih menjadi faktor terbesar dengan 551 perkara. Perselisihan dan pertengkaran terus-menerus berada sangat dekat di bawahnya dengan 532 perkara.

Kemudian terdapat 106 perkara akibat salah satu pihak meninggalkan pasangan dan 81 perkara yang berkaitan dengan perselingkuhan atau zina.

Namun menurut Mazir, persoalan ekonomi tidak selalu berdiri sendiri. Konflik finansial dalam rumah tangga dapat semakin besar ketika pasangan mulai membandingkan kondisi keluarganya dengan kehidupan orang lain yang dilihat melalui media sosial.

Media Sosial Bikin Rumah Tangga Mudah Membandingkan

Perkembangan teknologi ternyata turut membawa tantangan baru dalam kehidupan rumah tangga. Menurut Mazir, penggunaan telepon genggam dan media sosial yang tidak bijak dapat membuka ruang munculnya masalah baru.

Seseorang dapat melihat kehidupan orang lain setiap hari melalui media sosial. Dari sana, perbandingan mengenai penghasilan, gaya hidup, rumah, kendaraan hingga kondisi keluarga dapat muncul.

“Ya, tidak terlepas dari HP. Interaksi di media sosial kalau terlalu dihiraukan, akhirnya timbul curhat, kemudian membandingkan misalnya penghasilan suaminya si A dengan suaminya sendiri. Kok jauh? Akhirnya selalu membanding-bandingkan dan timbullah percekcokan,” ujar Mazir, Selasa (11/8/2026).

Kebiasaan membandingkan tersebut dinilai berpotensi menciptakan rasa tidak puas. Jika tidak dikomunikasikan dengan baik, persoalan kecil bisa berkembang menjadi pertengkaran yang terus berulang.

Reuni Teman Lama Juga Disebut Bisa Memicu Konflik

Tidak hanya media sosial, hubungan dengan orang dari masa lalu juga disebut dapat menjadi salah satu pemicu konflik dalam rumah tangga.

Mazir menyoroti fenomena reuni yang mempertemukan kembali seseorang dengan teman lama. Pertemuan tersebut dalam kondisi tertentu dapat membuka kembali kedekatan emosional yang sebelumnya telah lama hilang.

“Reuni itu sering menjadi pemicu perceraian. Ketemu teman lama, istilahnya cinta bersemi kembali,” ujarnya.

Hal tersebut menunjukkan persoalan rumah tangga dapat muncul dari berbagai arah. Bukan hanya masalah ekonomi, tetapi juga bagaimana pasangan menjaga batasan dalam berinteraksi dengan orang lain.

Kejar Gaya Hidup High Class Bisa Jadi Bumerang

Selain media sosial, perubahan pola pikir masyarakat juga menjadi perhatian PA Lamongan.

Mazir menyebut sebagian pasangan memiliki keinginan menjalani kehidupan dengan standar yang tinggi. Masalah muncul ketika tuntutan gaya hidup tersebut tidak sebanding dengan kemampuan ekonomi keluarga.

“Mindset-nya itu penginnya high class. Kalau sudah berpikiran high class dan tidak memikirkan Tuhan, di situ gampang terguncang,” katanya.

Dorongan untuk mengikuti gaya hidup yang terlihat di media sosial dapat membuat seseorang merasa kehidupannya kurang dibandingkan orang lain. Jika tuntutan tersebut kemudian dibebankan kepada pasangan, konflik finansial pun dapat semakin tajam.

Banyak Pasangan Berusia 30-40 Tahun

Fenomena perceraian di Lamongan juga banyak melibatkan pasangan yang berada pada rentang usia 30 hingga 40 tahun.

Mazir menilai sebagian pasangan yang menikah pada usia relatif muda masih membutuhkan kemampuan komunikasi dan pengendalian emosi yang kuat ketika menghadapi masalah rumah tangga.

“Rata-rata yang menikahnya masih muda. Orang masih muda itu masih labil, belum bisa diajak komunikasi dan berpikir secara tenang untuk mencari penyelesaian,” ujarnya.

Meski angka perceraian cukup tinggi, proses perpisahan di pengadilan tidak serta-merta berakhir dengan perceraian. Setiap perkara tetap melalui tahapan mediasi untuk memberikan kesempatan kepada pasangan mempertimbangkan kembali keputusan mereka.

Menurut Mazir, tidak sedikit pasangan yang akhirnya memilih berdamai setelah diberi waktu untuk menenangkan diri dan memikirkan kembali persoalan rumah tangga.

“Kalau memang emosi, saya biarkan dulu, dikasih kesempatan untuk berpikir. Banyak orang yang akhirnya kembali,” pungkasnya.

Fenomena ini menunjukkan persoalan rumah tangga di era digital semakin kompleks. Masalah ekonomi tetap menjadi faktor utama, tetapi pengaruh media sosial, tuntutan gaya hidup, kecemburuan, hingga komunikasi dengan orang dari masa lalu juga dapat memperbesar konflik.

Pada akhirnya, kemampuan pasangan berkomunikasi dan menyelesaikan masalah menjadi salah satu kunci penting agar konflik tidak berujung di meja pengadilan.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN