Kisah Pilu Hitomi Soga: Gadis Jepang yang Diculik Korea Utara hingga Dipaksa Menikah dengan Tentara AS yang Membelot

Ket. Potret Charles Robert dan Hitomi Soga.

Doc: Istimewa

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Bayangkan sedang berjalan pulang bersama ibu setelah membeli kebutuhan sehari-hari, lalu tiba-tiba sekelompok pria muncul dari belakang dan menculik kalian. Bagi Hitomi Soga, peristiwa mengerikan tersebut bukan sekadar cerita, melainkan awal dari perjalanan hidup selama puluhan tahun yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Pada suatu malam di Agustus 1978, Hitomi Soga yang saat itu baru berusia 19 tahun berjalan bersama ibunya, Miyoshi, di Pulau Sado, Jepang. Suasana yang semula biasa saja berubah menjadi mimpi buruk ketika tiga pria mendatangi mereka dan melakukan penculikan.

Hitomi Soga mengingat para penculik menutup kepala mereka menggunakan tas serta memasukkan sesuatu ke mulutnya. Setelah itu, ingatannya menjadi samar. Ia hanya mengetahui dirinya dibawa dari pantai menggunakan perahu cepat sebelum dipindahkan ke kapal yang lebih besar.

Hal yang paling membekas bagi Hitomi adalah ia tidak sempat mengucapkan kata-kata terakhir kepada sang ibu.

“Saya tidak dapat bertukar kata-kata terakhir dengannya,” ungkap Hitomi.

Tiba-Tiba Berada di Negara Asing

Beberapa hari setelah penculikan, mata Hitomi akhirnya dibuka. Saat melihat sekeliling, ia langsung menyadari bahwa dirinya tidak lagi berada di Jepang.

Hitomi ternyata dibawa ke Korea Utara.

Ia menjadi salah satu korban penculikan warga Jepang yang diduga dilakukan secara sistematis oleh rezim Korea Utara pada era 1970-an hingga 1980-an.

Pemerintah Jepang kemudian mengidentifikasi sedikitnya 17 warga negara mereka yang diduga diculik antara 1977 dan 1983. Namun, pemerintah Jepang meyakini jumlah korban sebenarnya dapat lebih banyak.

Para korban diduga dimanfaatkan untuk membantu agen intelijen Korea Utara memahami bahasa, budaya, kebiasaan, dan perilaku masyarakat Jepang. Pengetahuan tersebut diyakini dapat digunakan untuk mendukung operasi penyamaran dan infiltrasi.

Selama sekitar dua tahun pertama, Hitomi ditempatkan di sebuah barak militer. Ia tidak mengetahui keberadaan ibunya dan tidak berani menanyakan nasib sang ibu kepada pihak yang menculiknya.

Di tengah keterasingan tersebut, Hitomi hanya bisa memandang langit sambil membayangkan keluarganya di Jepang.

Ia mengaku selalu menyimpan harapan suatu hari dirinya akan kembali bebas.

Dipaksa Menikah dengan Tentara AS

Kehidupan Hitomi berubah lagi pada 1980. Ia diberitahu dirinya harus menikah dengan seorang pria yang bahkan belum pernah ditemuinya.

Pria tersebut bernama Charles Robert Jenkins, mantan tentara Amerika Serikat yang membelot ke Korea Utara pada 1965.

Jenkins sebelumnya meninggalkan posnya di Korea Selatan dengan melintasi Zona Demiliterisasi. Ia mengaku khawatir akan dikirim bertempur ke Vietnam dan berharap bisa mendapatkan perlindungan setelah menyerahkan diri kepada Korea Utara.

Pertemuan antara Hitomi dan Charles berlangsung dalam situasi yang sama sekali tidak romantis.

Hitomi mengingat hari pertama mereka bertemu sebagai momen yang dipenuhi rasa gugup dan ketakutan. Pernikahan tersebut bukan pilihan yang dibuat secara bebas oleh Hitomi.

Namun, sesuatu yang tidak terduga kemudian terjadi.

Hubungan mereka berkembang menjadi keluarga. Hitomi dan Charles akhirnya memiliki dua anak perempuan. Meski hidup dalam pengawasan ketat, Hitomi menyebut Charles merupakan sosok ayah yang penyayang.

Charles bahkan membuat berbagai mainan dan perabot untuk anak-anak mereka.

“Hal paling bahagia saya adalah ketika anak-anak kami lahir. Dia sangat baik kepada mereka dan benar-benar merawat mereka,” tutur Hitomi.

Hidup dalam Ketakutan dan Pengawasan

Selama tinggal di Korea Utara, kehidupan keluarga Hitomi jauh dari kata normal. Mereka tidak memiliki pekerjaan tetap dan aktivitas sehari-hari sangat dibatasi.

Tidak banyak hiburan yang bisa dinikmati. Tidak ada kebebasan untuk pergi ke konser atau bioskop seperti kehidupan normal di negara lain.

Untuk mengisi waktu, Hitomi memilih menanam sayuran.

Namun, keberadaan anak-anaknya membuat Hitomi memiliki alasan untuk terus bertahan.

Di tengah kehidupan yang penuh ketidakpastian, keluarganya menjadi satu-satunya tempat untuk mendapatkan rasa nyaman.

Dunia Akhirnya Mengetahui Kisah Penculikan

Kehidupan Hitomi kembali berubah pada 2002. Dalam pertemuan tingkat tinggi antara Jepang dan Korea Utara, pemimpin Korea Utara saat itu, Kim Jong-il, mengakui bahwa negaranya telah menculik sejumlah warga Jepang.

Korea Utara menyatakan hanya lima dari 13 korban yang mereka akui masih hidup.

Hitomi termasuk salah satu korban yang kemudian diizinkan kembali ke Jepang untuk kunjungan singkat.

Saat menginjakkan kaki kembali di tanah kelahirannya, Hitomi akhirnya dapat bertemu ayah dan saudara perempuannya. Keluarganya telah menunggu selama lebih dari dua dekade tanpa mengetahui apakah dirinya masih hidup.

Pertemuan tersebut berlangsung emosional.

Hitomi dan keluarganya menangis ketika akhirnya dapat kembali berpelukan setelah puluhan tahun terpisah.

Namun kepulangannya menciptakan dilema baru. Dua putrinya dan Charles masih berada di Korea Utara.

Akhirnya Bersatu Kembali di Jepang

Hitomi membutuhkan waktu sekitar dua tahun sebelum akhirnya dapat kembali berkumpul dengan Charles dan kedua putrinya.

Charles sempat khawatir akan ditangkap ketika memasuki Jepang karena statusnya sebagai tentara AS yang membelot.

Setelah melalui proses hukum dan menjalani hukuman singkat, Charles akhirnya dapat bergabung kembali dengan Hitomi dan anak-anak mereka.

Pada 2004, keluarga tersebut kemudian menetap di Pulau Sado, tempat Hitomi dilahirkan dan dibesarkan.

Kepulangan tersebut menjadi babak baru bagi keluarga yang selama puluhan tahun terpisah akibat penculikan dan keputusan politik rezim Korea Utara.

Charles meninggal dunia di Jepang pada 2017.

Namun, perjuangan Hitomi belum berakhir.

Hitomi Tak Pernah Berhenti Mencari Ibunya

Meski kembali ke Jepang dan membangun kehidupan baru, ada satu hal yang terus menghantuinya, nasib sang ibu, Miyoshi.

Hingga bertahun-tahun kemudian, keberadaan Miyoshi masih menjadi misteri. Korea Utara juga tidak pernah memberikan kepastian mengenai nasib ibunya.

Karena itu, Hitomi terus berkampanye agar pemerintah Jepang tidak berhenti mencari para korban penculikan yang masih belum diketahui keberadaannya.

Bagi Hitomi, persoalan tersebut bukan sekadar masalah politik antara dua negara. Ini adalah persoalan keluarga yang kehilangan orang-orang tercinta tanpa pernah mendapatkan jawaban.

Setiap hari memiliki arti bagi para korban yang masih diyakini berada di Korea Utara.

Hitomi pun berharap perjuangannya dapat menjadi pesan bagi ibunya, jika suatu hari sang ibu masih bisa mendengarnya.

Ia percaya jika ibunya mengetahui dirinya tidak pernah menyerah mencari kebenaran, sang ibu juga akan tetap bertahan.

Kisah Hitomi Soga menjadi salah satu gambaran paling memilukan dari kasus penculikan warga Jepang oleh Korea Utara, sebuah tragedi yang memisahkan keluarga selama puluhan tahun dan hingga kini masih menyisakan banyak pertanyaan.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN