Mengapa Perempuan Lebih Rentan Terkena Autoimun? Dokter Ungkap Faktanya
Selasa, 28 Jul 2026, 17:00 WIBJAKARTA, KUCANTIK.COM - Seorang perempuan bisa tetap beraktivitas sambil mengalami nyeri sendi, kelelahan yang tidak membaik setelah tidur, hingga ruam yang muncul dan hilang. Gejala tersebut sering dianggap sebagai akibat kurang istirahat atau terlalu banyak pikiran.
Namun, jika keluhan terus berulang, muncul kekhawatiran terkait penyakit autoimun. Kondisi ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh keliru mengenali sel, jaringan, atau organ tubuh sebagai ancaman. Akibatnya, sistem imun yang seharusnya melindungi justru memicu peradangan dan kerusakan.
Penyakit autoimun memiliki banyak jenis, seperti lupus, artritis reumatoid, penyakit Hashimoto, skleroderma, hingga diabetes tipe 1. Perempuan diketahui lebih banyak mengalami penyakit ini. Lantas, apakah penyebabnya adalah estrogen atau stres?
1. Mengapa perempuan lebih rentan mengalami autoimun?
Diperkirakan hampir 80 persen penderita penyakit autoimun adalah perempuan. Meski demikian, angka tersebut berbeda pada setiap penyakit. Ada jenis autoimun yang lebih banyak menyerang perempuan, sementara lainnya memiliki perbandingan yang lebih seimbang antara perempuan dan laki-laki.
Salah satu alasannya adalah sistem imun perempuan yang cenderung menghasilkan respons lebih kuat. Hal ini membantu melawan infeksi, tetapi pada orang yang rentan dapat meningkatkan risiko sistem imun menyerang jaringan tubuh sendiri.
Hormon seks seperti estrogen dan progesteron memang dapat memengaruhi kerja sel imun, tetapi estrogen bukan penyebab autoimun. Pengaruh hormon bergantung pada banyak faktor, seperti usia, kadar hormon, kehamilan, siklus menstruasi, serta jenis penyakit.
Selain hormon, kromosom X juga menjadi perhatian peneliti. Perempuan memiliki dua kromosom X, sedangkan laki-laki hanya satu. Sejumlah gen yang berkaitan dengan sistem imun berada pada kromosom X.
Penelitian mengenai kompleks RNA dan protein bernama XIST menunjukkan adanya kemungkinan kaitan dengan pola autoimunitas tertentu.
Namun, temuan tersebut belum membuktikan bahwa XIST menjadi penyebab seluruh penyakit autoimun pada perempuan. Faktor genetik, lingkungan, gaya hidup, dan hormon kemungkinan bekerja secara bersamaan.
2. Apakah stres dapat menyebabkan autoimun?
Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia, Sp.PD-KR, pakar reumatologi dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM, menjelaskan bahwa stres dapat memperburuk kondisi pasien autoimun.
Ia juga mengingatkan pasien agar tidak memaksakan diri hingga kelelahan dan tetap mengikuti pengobatan dari dokter.
Sebuah penelitian di Swedia terhadap 106.464 orang dengan gangguan terkait stres menemukan bahwa kelompok tersebut memiliki risiko autoimun lebih tinggi dibanding kelompok pembanding.
Namun, penelitian tersebut bersifat observasional sehingga belum membuktikan bahwa stres secara langsung menyebabkan autoimun. Faktor lain seperti genetik, infeksi, kondisi kesehatan mental, gaya hidup, dan perubahan biologis juga dapat berpengaruh.
Pada pasien yang sudah memiliki penyakit autoimun, stres dapat memperburuk tidur, nyeri, kelelahan, kecemasan, serta kemampuan menjalani pengobatan. Meski begitu, pemicu kekambuhan berbeda pada setiap orang.
3. Manajemen stres membantu, tetapi bukan pengganti pengobatan
Mengelola stres dapat membantu meningkatkan kualitas hidup pasien autoimun, tetapi tidak dapat menggantikan pengobatan medis.
Penelitian mengenai mindfulness pada pasien artritis reumatoid menunjukkan manfaat pada beberapa aspek psikologis dan aktivitas penyakit. Namun, metode ini tetap berperan sebagai pendamping, bukan pengganti obat.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan pasien antara lain:
-
Tidak menghentikan obat meski kondisi membaik karena bisa berarti pengobatan sedang bekerja.
-
Mencatat pola gejala seperti nyeri, kelelahan, ruam, bengkak, atau demam.
-
Memberikan waktu pemulihan dengan tidur cukup dan aktivitas sesuai kemampuan.
-
Mencari bantuan profesional jika stres sulit dikendalikan.
-
Menghindari diet ekstrem atau terapi yang belum terbukti.
-
Berkonsultasi mengenai rencana kehamilan sebelum menghentikan obat.
Gejala autoimun sering menyerupai penyakit lain. Kelelahan atau nyeri saja tidak cukup untuk menentukan diagnosis. Dokter biasanya menilai berdasarkan pola gejala, pemeriksaan fisik, riwayat keluarga, tes laboratorium, dan kondisi organ yang terdampak.
Perempuan memang lebih rentan mengalami penyakit autoimun, tetapi penyebabnya bukan hanya hormon atau stres. Perawatan tetap bergantung pada diagnosis yang tepat, pengobatan sesuai penyakit, serta kontrol rutin dengan dokter.
- Autoimun
- Perempuan Rentan Autoimun
Redaktur: Fitrya A Kusumah
Penulis: Fitrya A Kusumah
Berita Terkait:
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.