Perang Nike vs adidas di Piala Dunia 2026 Makin Sengit, Siapa Raja Penjualan Terlaris?

Ket. adidas dan Nike ramaikan persaingan di Piala Dunia 2026.

Doc: Istimewa

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Persaingan dua raksasa perlengkapan olahraga dunia, Nike dan adidas, kembali memanas sepanjang gelaran Piala Dunia 2026. Duel keduanya tidak hanya berlangsung di lapangan melalui tim nasional yang mereka sponsori, tetapi juga merambah ke pasar merchandise dan perlengkapan sepak bola yang nilainya mencapai miliaran dolar.

Memasuki fase akhir turnamen, masing-masing merek menunjukkan keunggulan di bidang yang berbeda. Nike dinilai sukses membangun eksposur dan daya tarik merek melalui strategi pemasaran yang agresif, sedangkan adidas berhasil mengonversi antusiasme penggemar menjadi penjualan produk, khususnya jersey tim nasional.

Berdasarkan riset terbaru dari M Science, tiga merek olahraga global, yakni adidas, Nike, dan Puma, sama-sama menikmati lonjakan permintaan selama Piala Dunia 2026. Namun, dari sisi pertumbuhan penjualan, adidas menjadi merek yang mencatat performa paling impresif.

Analis M Science, Drake MacFarlane, menjelaskan penilaian tersebut diperoleh melalui analisis data transaksi kartu kredit, kartu debit, hingga rekening bank yang telah dianonimkan. Pemantauan dilakukan terhadap penjualan langsung ke konsumen maupun melalui jaringan ritel di berbagai negara.

Menurut MacFarlane, lonjakan penjualan adidas paling banyak ditopang kategori apparel, terutama jersey tim nasional yang menjadi incaran penggemar selama berlangsungnya Piala Dunia.

Di sisi lain, Nike memang berhasil meningkatkan penjualan pakaian olahraga berkat besarnya eksposur selama turnamen. Namun, performa kategori alas kaki masih belum mampu memberikan dorongan signifikan terhadap pertumbuhan bisnis secara keseluruhan.

"Pertumbuhan apparel adidas jauh lebih kuat selama periode Piala Dunia. Setelah turnamen berakhir, kemungkinan perhatian konsumen akan kembali bergeser ke kategori sepatu," ujar MacFarlane.

adidas Dominasi Penjualan Jersey

Data M Science menunjukkan adidas menguasai sekitar 58 persen pangsa pasar penjualan jersey tim nasional selama tiga pekan pertama Juni 2026.

Angka tersebut jauh melampaui Nike yang mencatat pangsa pasar sekitar 36 persen, sementara Puma berada di posisi ketiga dengan sekitar 6 persen.

Tak hanya di Amerika Serikat sebagai salah satu tuan rumah Piala Dunia, adidas juga mencatat pertumbuhan penjualan yang kuat di sejumlah negara Eropa berdasarkan data transaksi digital yang dianalisis M Science.

Sementara itu, Puma juga memperoleh keuntungan dari meningkatnya antusiasme masyarakat terhadap Piala Dunia. Namun, pertumbuhan merek tersebut masih jauh lebih kecil dibanding dua pesaing utamanya dan lebih banyak terjadi di pasar Amerika Serikat.

Temuan serupa juga diungkap Telsey Advisory Group (TAG) setelah melakukan pemantauan langsung di sejumlah toko ritel. Menurut analis TAG, Cristina Fernández, adidas tampil lebih agresif dalam menawarkan koleksi resmi Piala Dunia, mulai dari jersey tim nasional, bola pertandingan, sepatu sepak bola, sandal, hingga berbagai aksesori pendukung.

Keunggulan tersebut semakin terlihat setelah adidas membuka toko terbesarnya di Indonesia yang menghadirkan koleksi lengkap bertema Piala Dunia.

Meski demikian, Fernández menilai Nike tetap menunjukkan performa penjualan yang solid. Bahkan, penjualan kit tim nasional Nike disebut meningkat sekitar 2,5 kali lipat dibandingkan periode yang sama pada Piala Dunia 2022. Lonjakan itu turut didorong oleh keberhasilan sejumlah tim nasional yang menggunakan perlengkapan Nike bertahan hingga fase akhir kompetisi.

Di gerai utama adidas di Fifth Avenue, New York, area khusus Piala Dunia menjadi pusat perhatian pengunjung. Berbagai produk resmi, mulai dari jersey, bola, sepatu, hingga aksesori untuk pria, wanita, dan anak-anak dipajang dengan harga normal tanpa banyak potongan.

Sementara itu, toko Nike di kawasan yang sama juga memanfaatkan momentum Piala Dunia dengan menampilkan koleksi jersey di area depan toko. Salah satu layanan yang paling banyak diminati konsumen adalah fasilitas personalisasi nama dan nomor punggung pada jersey tim nasional.

Persaingan Berlanjut Setelah Piala Dunia

Meski adidas unggul dalam penjualan jersey selama turnamen, persaingan diperkirakan belum akan berakhir setelah Piala Dunia usai.

MacFarlane menilai strategi Nike yang terus memperbarui lini sepatu sepak bola seperti Mercurial, Tiempo, dan Phantom memang penting untuk mempertahankan citra merek. Namun, kontribusi produk tersebut terhadap keseluruhan bisnis diperkirakan tidak akan terlalu besar karena sebagian besar konsumen Nike lebih banyak membeli produk bergaya kasual dan lifestyle.

Sebaliknya, adidas dinilai berhasil mempertahankan dominasinya di pasar sneakers melalui lini populer seperti Samba, Gazelle, dan Spezial. Meski tren sempat melambat, permintaan terhadap adidas Samba kembali menunjukkan peningkatan.

Menurut MacFarlane, salah satu kekuatan terbesar adidas adalah kemampuannya menciptakan sekaligus mengikuti tren pasar. Setelah sukses besar dengan Samba, perusahaan asal Jerman itu disebut telah menyiapkan inovasi baru untuk mempertahankan posisinya sebagai pemimpin tren di industri alas kaki global.

Melihat performa selama Piala Dunia 2026, adidas tampaknya masih unggul dalam memanfaatkan euforia sepak bola menjadi penjualan nyata. Namun, dengan kekuatan merek dan strategi pemasaran yang dimiliki Nike, persaingan kedua raksasa olahraga dunia ini dipastikan akan terus berlanjut jauh setelah peluit akhir Piala Dunia dibunyikan.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN