Viral Cathlyn Yvaine Diduga Dicoret dari Kandidat Paskibraka Pusat, Tak Bisa Bahasa Daerah Jadi Alasan?

Ket. Cathlyn Yvaine Lesmana

Doc: Instagram/@rumpi_gosip

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Proses seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat Sulawesi Selatan mendadak menjadi perhatian publik dan ramai diperbincangkan di media sosial.

Diinfokan akun Instagram @rumpi_gosip Selasa (26/05), sorotan muncul setelah nama Cathlyn Yvaine Lesmana, yang sebelumnya dikabarkan masuk tiga besar calon peserta yang diusulkan untuk mengikuti seleksi tingkat nasional di Istana Negara, justru dikabarkan tersingkir pada tahap akhir.

Perubahan hasil tersebut memicu berbagai pertanyaan, terutama terkait mekanisme penilaian yang digunakan dalam proses seleksi.

Banyak pihak menilai adanya kejanggalan karena Cathlyn disebut memiliki nilai yang sangat tinggi dan kemampuan yang dinilai mumpuni untuk melangkah ke tingkat lebih tinggi.

Ketua Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Makassar, Muhammad Fahmi, termasuk salah satu pihak yang secara terbuka mempertanyakan proses tersebut.

Menurutnya, sistem penilaian yang digunakan dinilai tidak berjalan secara transparan. Ia menyoroti adanya ketidaksesuaian antara hasil peringkat dan keputusan akhir yang menentukan peserta terpilih.

Fahmi mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil penilaian awal, Cathlyn memiliki nilai yang mendekati sempurna.

Dengan pencapaian tersebut, secara kemampuan dinilai sangat layak untuk melanjutkan ke tahapan berikutnya.

Namun yang menjadi pertanyaan, posisi Cathlyn yang semula berada di jajaran atas justru berubah, bahkan disebut tergeser oleh peserta lain yang sebelumnya tidak masuk dalam 10 besar.

Selain mempertanyakan perubahan peringkat tersebut, Fahmi juga menyoroti isu lain yang dinilai tidak kalah penting.

Muncul kabar bahwa kemampuan berbahasa daerah menjadi salah satu faktor yang memengaruhi hasil seleksi.

Hal ini pun menimbulkan perdebatan karena banyak pihak menilai indikator tersebut tidak pernah menjadi syarat utama dalam proses seleksi Paskibraka.

Menurut Fahmi, penggunaan bahasa daerah bukan bagian dari aspek utama dalam pelaksanaan tugas Paskibraka.

Ia mempertanyakan apakah penguasaan bahasa daerah memang termasuk indikator wajib yang harus dimiliki peserta.

Sebab selama ini, pelaksanaan kegiatan Paskibraka di tingkat nasional menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama.

Di sisi lain, Cathlyn diketahui memiliki kemampuan bahasa asing yang cukup menonjol.

Ia disebut fasih berbahasa Inggris dan Mandarin, sebuah kemampuan yang dianggap menjadi nilai tambah, terutama bila terpilih mewakili daerah di tingkat nasional.

Kemampuan tersebut dinilai menunjukkan kapasitas akademik serta keterampilan komunikasi yang baik.

Tidak hanya soal indikator penilaian, Fahmi juga menyoroti munculnya dugaan unsur rasisme dalam proses seleksi.

Dugaan ini menjadi perhatian serius karena menyangkut prinsip keadilan dan kesetaraan kesempatan bagi seluruh peserta.

Hingga kini, polemik tersebut masih menjadi perbincangan publik, sementara masyarakat menunggu penjelasan resmi mengenai mekanisme seleksi yang dilakukan agar tidak menimbulkan spekulasi lebih jauh.*

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN